Profesionalime memang mahal....Semoga aset2 yg sdh terbeli oleh soudara2 asing kita, bisa kita beli kembali. Kesempatan untuk pembuktian diri, melihat masa lalu adalah histori, besok adalah misteri..Kungfu Panda said. Bayangin, se ekor Panda sj bs berkata begitu ♓έ;)♓έ;)♓έ;)♓έ .
Tetap Semangat bro.. Salam Erat Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal nya Cuuuaaan Teruuusss...! -----Original Message----- From: "Adrian Maulana" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Wed, 19 Jan 2011 03:03:08 To: Milis Saham<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [saham] Asing, begitu berperannya-kah? Bekerja sama dg siapapun utk kemajuan masing2 negara jelas diperlukan. Namun, hendaknya jgn smp mendominasi kepemilikan, spt bbrp contohnya beberapa perbankan yg diambil alih asing CIMB Niaga, UOB Buana, Bank Danamon, Bank Permata oleh Stanchart (44%). Yg paling parah spt perusahaan Indosat yg akhirnya jatuh ke tangan Qatar Telecom. Sbg perusahaan terbuka, silakan dimiliki oleh siapapun, termasuk asing sekalipun. Namun, tdk mendominasi. Misalnya, maksimum 30%. Kita bs saja bekerja sama bahkan saya sarankan utk membayar mahal ahli-ahli dari luar negeri tsb (gaji tinggi, fasilitas mewah, dsb) utk mendidik putra2 bangsa agar mahir dan berdaya saing internasional, tp tdk dg menjual aset bangsa atau perusahaan yg mendominasi hajat hidup org banyak. Pls welcome to join : [email protected] -----Original Message----- From: greenhorn <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Wed, 19 Jan 2011 10:06:11 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [saham] Asing, begitu berperannya-kah? Dalam segala hal berlaku pepatah " Rumput tetangga selalu kelihatan lebih ijo".... Uang memang tidak kenal nasionalisme..., namun hidup juga harus balance... Jadi sekali-sekali perlu juga mengingat nasehat orang tua..." Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri lebih baik di......???" Atau kalau di program OLT bunyinya begini ... F: "My Country, Right Or Wrong" salam, green 2011/1/19 Susanto Salim <[email protected]> > > > Saya kira kita harus paham bahwa uang tidak kenal nasionalisme, itu juga > mengapa orang asing memarkir dananya dinegara yang dianggap paling > menguntungkan. Alasan yang sama juga terjadi dibidang industri, pemodal > mencari tenaga kerja murah (terlepas dari pertimbangan resiko politik dan > stabilitas)..intinya modal mencari tempat yang dianggap paling menguntungkan > (masalah untung beneran atau malah buntung cuman Tuhan yang tau[?]). > > Satu hal lagi, kalo asing taro duit di sini kita mikirnya pasti > menguntungkan kepentingan si asing, karena duit hasil cuannya akan dibawa > kembali. Kalo logika yang sama kita pakai saat WNI menanam uangnya di negara > asing, maka seharusnya itu merupakan hal yang baik buat negara ini. > > Akhir kata, kalo wong asing aja mau nanem duit di sini, lantas mengapa si > aseng ato si bedjo nanem duitnya di LN? Mungkin karena bejo melihat peluang > di LN, ibarat orang beli mobil (ato produk lain) kan tidak semua orang harus > beli produk yang sama, dan masing2 boleh memilih sesuai dengan kebutuhannya > sendiri. > > PS: > Dalam audiobook tentang ekonomi yang pernah saya dengar, si tutor > mengatakan dulu ada presiden amrik yang menyarankan rakyatnya untuk cinta > produk dalem negeri. Logika nya sederhana, kalo beli produk dalem negeri > katanya kita dapet barangnya dan duitnya juga tetap di dalem negeri. Tapi > logika ini sedikit bermasalah, dengan logika yang sama kita bisa saja > mengatakan, lebih baik kita bikin baju sendiri, masak sendiri, tanem > sayur2an sendiri, beternak sendiri, dll...jadi kita dapet produknya dan gak > keluar duit. Sudahkan anda melihat kesalahan logika nya? Ya, kita bisa saja > mengerjakan segala sesuatunya sendiri, atau bisa saja kita beli produk dalem > negeri semua biar gak ada duit yang lari keluar negeri, masalahnya adalah > bisakah kita mengerjakan segala sasuatunya dengan lebih baik dan lebih > efisien? sejarah sudah membuktikan bahwa negara2 membuka diri dan berdagang > sama dunia luarlah yang menjadi makmur dan maju. > > sekedar sumbang pendapat, > -santo > > 2011/1/19 Adrian Maulana <[email protected]> > > >> >> Benar, saat ini IHSG msh dipengaruhi oleh keluar masuknya dana asing krn >> mrk msh mendominasi kapitalisasi pasar modal Indonesia. >> Sehingga kalau terjadi penarikan (maupun pembelian) dalam jumlah besar, >> akan berpengaruh signifikan thd pasar modal secara umum. >> >> Prinsip ekonomi sederhana, "Permintaan Meningkat, Harga Meningkat. >> Permintaan Menurun, Harga pun Menurun" >> >> Hal ini berlaku di manapun, tdk hanya di Indonesia. >> Mengingat industri pasar modal Indonesia baru bertumbuh dalam beberapa thn >> belakangan ini (dibandingkan negara AS dan Eropa yg sdh berpuluh2 tahun), >> maka rentan thd gejolak keluar masuknya dana2 asing (kurang lebih 2/3 dana >> yg berputar di pasar modal kita masih milik asing). >> >> Ironis bila kita mendengar / mengetahui ada masyarakat Indonesia malah >> berusaha memarkir dananya di negara lain (oleh sebab apapun) dimana banyak >> negara2 lain malah berbondong2 utk berinvestasi di Indonesia, (karena sbg >> negara berkembang, Indonesia msh harus terus membangun). >> Jangan sampai nantinya perusahaan2 asing malah mencaplok semua perusahaan2 >> strategis di Indonesia sehingga kita jd kehilangan identitas bangsa. >> Cukup beratus2 tahun kita dijajah. Jgn sampai saat ini, walau dg kemasan >> yg lebih intelek spt pemberian hutang yg lunak, bantuan ini itu, hibah, dsb, >> kita menjadi terlena shg mudah dikemudikan oleh negara lain. >> Itu yg disebut penjajahan era masa kini. Tidak lagi dg fisik, tp justru dg >> cara yg lebih intelek yg menurut saya jauh lebih berbahaya, krn seringkali >> kita dlm keadaan tdk sadar (lengah). >> >> Indonesia mungkin tertinggal dalam banyak hal. Namun jgn jadikan itu sbg >> alasan kita utk tdk berpikir ke arah Indonesia yg lebih baik. >> >> Kita bisa bahkan wajib berkontribusi memajukan bangsa sendiri sesuai >> kemampuan yg dimiliki. >> >> Dalam tulisan kali ini, saya pun ingin mengajak seluruh lapisan masyarakat >> Indonesia untuk berinvestasi di pasar modal untuk mendukung perekonomian di >> negara kita. >> >> Adrian Maulana >> >> Pls welcome to join : [email protected] >> ------------------------------ >> *From: * Mei Saputra <[email protected]> >> *Sender: * [email protected] >> *Date: *Tue, 18 Jan 2011 15:12:16 +0800 (SGT) >> *To: *<undisclosedrecipients> >> *ReplyTo: * [email protected] >> *Subject: *[saham] Asing, begitu berperannya-kah? >> >> >> >> Teman-teman sekalian, >> >> >> Saya sering mendengar beberapa opini yang menyebutkan, bahwa untuk >> mengkonfirmasi pembalikan arah IHSG yang sekarang sedang bearish, dibutuhkan >> dana asing untuk membeli saham2 di Indonesia. "Tunggu Asing net sell dalam >> beberapa hari, baru ok untuk investasi". Kurang lebih begitu bahasanya. >> >> Mohon penjelasan dari para senior disini, apakah hal ini benar adanya ? >> Apakah IHSG kita, naik atau turun digerakkan oleh dana asing ? Kalau iya, >> kira-kira apa yang terjadi kalau suatu hari nanti mereka kembali >> berinvestasi di negara masing2 ? >> >> Kemudian, apakah hal ini terjadi hanya di Indonesia atau kondisi yang sama >> juga berlaku di negara lain ? Maksud saya, bahwa naik atau turunnya suatu >> nilai komposit saham, bisa jadi tergantung pada dana asing yang masuk atau >> keluar dari negara tersebut ? >> >> Mohon pencerahannya. >> >> Terima kasih >> >> Mei Saputra >> >> > >
<<330.gif>>
