50 tahun lalu ada istilah 'emerging markets' yang dipopulerkan oleh Antoine
van Agtmael. 9 tahun lalu Jim O'Neill (kepala Goldman Sachs Asset
Management) menselaraskan kembali istilah tersebut dengan lebih spesifik
sebagai BRIC (Brazil, Russia, India, China). Setelah dirasakan mulai usang
dengan pembatasan kepada 4 negara tersebut, Jim akan memperluas dan mencakup
negara-negara potensial lainnya dengan pencapaian GDP minimal 1% dari GDP
dunia. Akan bergabung segera Mexico, Korea Selatan, Turki dan Indonesia yang
masing-masing berkontribusi lebih dari 1% dari GDP global. Indonesia sendiri
berkontribusi sekitar 1,1%. Istilah yang akan digunakan lebih terbuka "gowth
markets".

Peristilahan ini bukan berakhir semata sebagai istilah dalam wacana akademis
atau kepentingan 'marketing'. Data perkembangan laju investasi menunjukkan
bahwa investasi dunia satu dekade terakhir berfokus kepada keempat negara
BRIC tersebut, dan alangkah tepatnya keputusan investasi yang mengikuti
konsentrasi BRIC jika dimulai sejak awal istilah tersebut diluncurkan 2001
lalu. Bahkan Pemerintah Cina atas dasar peristilahan BRIC ini telah
mengadakan pertemuan tahunan reguler yang disebut "BRIC summit" dengan
mengundang keempat negara kunci tersebut.

Dapat dibayangkan esensi dan pentingnya dampak dari masuknya Indonesia dalam
klub elite 'emerging markets' terpilih tersebut kelak tahun ini. Hal ini
diamini oleh Gita Wirjawan, Kepala BKPM, yang telah berbicara langsung
dengan Jim O'Neill. (
http://bisnis.vivanews.com/news/read/199872-goldman-sachs--indonesia-pasar-baru-investor
)

'+'

Kirim email ke