Sepertinya begitu bung tonny. Let see
Regard Krisna Putra Darma xna-investment.blogspot.com sent from BlackBerry® -----Original Message----- From: [email protected] Sender: [email protected] Date: Sat, 29 Jan 2011 05:00:42 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [saham] Garuda IPO Waduh....belum tanggal mainnya udah dibilang gagal yakk...nanti jd byk yg ga mau bayar pemesanannya nih...hehehe.... Powered by TK.Berry® -----Original Message----- From: sahamvalas <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Fri, 28 Jan 2011 19:57:22 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [saham] Garuda IPO numpang copas dr sbelah Baca-baca berita terakhir soal IPO Garuda, banyak yang menyebutkan kalau IPO-nya ternyata akhirnya nggak laku. Lebih dari separuh saham yang dilepas hanya diserap oleh penjamin emisinya, alias gak diserap oleh investor publik. Padahal jumlahnya sudah dikurangi dari 9.4 milyar menjadi hanya 6.4 milyar lembar saham saja. Oversubscribe yang terjadi pun hanya 1.3 kali. Hmm, apakah karena harganya mahal? Mungkin nggak juga. Harga saham Garuda memang mahal, terutama kalau dilihat dari sisi fundamental. Tapi kalau cuma itu masalahnya, seharusnya tidak sampai membuat masyarakat jadi nggak berminat terhadapnya. IPO-IPO sebelum Garuda juga ditetapkan pada harga mahal, namun minat masyarakat tetap saja tinggi. Martina Berto (MBTO) contohnya, oversubscribe yang terjadi (atau setidaknya yang diklaim penjamin emisinya) mencapai 11 kali. Jadi apa masalahnya? Ada beberapa poin. Pertama, waktu penyelenggaraan IPO-nya. Seperti kita ketahui, Garuda menggelar IPO pada saat sekarang ini, dimana kondisi market mulai ‘istirahat’ setelah terus menerus menguat sejak September tahun lalu. Seharusnya, Garuda menggelar IPO-nya pada Oktober atau November lalu, yaitu ketika IHSG lagi tinggi-tingginya. Nyatanya pada periode tersebut, banyak sekali perusahaan yang menggelar IPO karena memanfaatkan momen pasar yang lagi bullish, dan mereka memang sukses menjaring dana sebesar-besarnya dari masyarakat. Sepanjang September – Desember 2010 lalu, gak pernah kedengaran ada kabar yang menyebutkan bahwa ada saham IPO yang gak laku. Nah, para pihak-pihak yang berkepentingan dengan IPO Garuda ini seharusnya mengerti bahwa meski harga saham Garuda ditetapkan pada harga terendah sekalipun, harga tersebut akan tetap dinilai mahal, karena fundamental Garuda memang buruk. Jadi? Mereka seharusnya menjual Garuda ketika IHSG lagi dipuncak, sama seperti perusahaan-perusahaan swasta. Investor ketika itu sedang sangat bersemangat, sehingga mereka akan lebih fokus pada status BUMN-nya Garuda (sehingga secara spekulatif sahamnya mungkin masih bisa melejit, dan juga karena didukung kondisi market yang kondusif), daripada fundamentalnya. Alhasil, seperti IPO-IPO lainnya yang sukses, IPO Garuda kemungkinan besar juga akan diserap habis oleh publik. Tapi sayangnya, IPO BUMN yang digelar ketika itu malah Krakatau Steel (KRAS), yang secara fundamental jauh lebih baik dari Garuda. Seharusnya, IPO Garuda-lah yang digelar ketika itu, dan IPO KRAS baru digelar sekarang. Memangnya kenapa? Karena yang namanya bullish di market itu gak pernah bertahan selamanya. Selalu akan ada masa dimana harga-harga saham akan kembali ke level normalnya masing-masing, sehingga indeks sahampun akan terkoreksi, juga untuk kembali ke level normalnya. Jadi jika Garuda baru menggelar IPO-nya sekarang ini, maka itu sudah sangat terlambat, karena bullish di market sudah keburu pergi. Kalau dilihat dari tindakan Kementerian BUMN yang mengurangi jumlah saham Garuda yang dilepas hanya karena faktor market yang lagi lesu, maka sepertinya mereka gak punya orang yang ngerti konsep sederhana soal bullish – bearish ini. Mungkin mereka pikir IHSG akan selalu berada diatas selamanya. Dan masalah keterlambatan itu diperburuk dengan peristiwa dimana beberapa saham IPO sebelum Garuda yang dihargai kemahalan, mulai berjatuhan hingga dibawah harga IPO-nya karena IHSG mulai terkoreksi (atau bisa juga sebaliknya, turunnya saham-saham IPO itulah yang menyebabkan IHSG terkoreksi). Kalaupun ada seorang investor yang tadinya sangat berminat dengan Garuda ini, maka setelah melihat jatuhnya IPO-IPO sebelum Garuda tersebut, dia pasti akan terpengaruh, dan mulai berpikir bahwa Garuda pun mungkin akan mengalami hal yang sama, bahkan meskipun seandainya Garuda dijual murah. Itu satu masalah, terkait waktu penyelenggaraan IPO yang kurang tepat. Masalah lainnya, berkaitan dengan Bank Mandiri. Tindakan BMRI yang langsung menjual sahamnya di Garuda (yang merupakan hasil konversi utang) pada saat IPO-nya, menyebabkan investor semakin tidak yakin dengan prospek dari Garuda ini. Memangnya kenapa? Begini, ketika BMRI seperti tergesa-gesa untuk melepas sahamnya di Garuda, maka investor yang paling awam sekalipun akan langsung berpikir kalau saham Garuda ini nggak berharga sama sekali. Lha wong BMRI aja langsung menjualnya kok? Itu kan berarti bank terbesar di Indonesia ini juga nggak berminat sama saham Garuda. Kalau memang Garuda ini bagus, sehingga katakanlah harganya mungkin bisa naik ke setidaknya 1,000 setelah listing nanti, maka BMRI seharusnya tetap memegang sahamnya tersebut, dan baru menjualnya pada harga 1,000 tadi. Lumayan kan, gain lebih dari 30% lho itu. Eh, ini langsung dijualnya pada harga 750. Berarti BMRI juga gak percaya kalau saham Garuda akan sukses di market, dan kemungkinan akan turun. Dan kalau institusi sebesar BMRI saja sudah tidak percaya, gimana investor publik mau percaya? Berikutnya, pemerintah atau dalam hal ini manajemen Garuda, juga tidak melakukan hal yang biasanya dilakukan oleh perusahaan yang akan IPO. Apa itu? Meningkatkan kinerja perusahaan, atau setidaknya mempercantik laporan keuangan terakhirnya, agar investor tertarik. Ibaratnya, sayap-sayap Garuda ini sudah patah (kinerjanya jelek) sejak dulu, jadi cobalah sekali ini diperbaiki agar nanti dia (sahamnya) bisa terbang. Kalau penulis baca-baca laporan keuangan terbaru perusahaan yang akan IPO, maka selalu saja kinerjanya yang terakhir sekilas tampak meningkat drastis dibanding periode sebelumnya, meski kadang-kadang kalau dianalisis lebih dalam lagi ternyata cuma kelihatannya saja. Sementara Garuda? Kinerjanya pada september 2010 malah turun dibanding periode sebelumnya, dan hal itu terlihat sangat jelas di laporan keuangannya. Dan terakhir, berbagai informasi yang beredar terkait IPO Garuda, terkesan simpang siur, sehingga membuat investor mulai berpikir kalau pelaksanaan IPO Garuda ini nggak beres. Kementrian BUMN mengumumkan bahwa Garuda akan meraih dana 4.8 trilyun dari IPO. Tapi anehnya ada versi lain yang menyebutkan bahwa Garuda seharusnya hanya akan memperoleh dana 4.3 trilyun saja. Jadi mana yang benar? Terus, setelah sebelumnya disebutkan bahwa BMRI akan meraup 1.1 trilyun dari IPO Garuda ini, belakangan naik menjadi 1.4 trilyun. Dan lain sebagainya. Kesimpulannya, IPO Garuda ini boleh dibilang digelar tanpa strategi sama sekali. Sepertinya tidak ada niatan dari Pemerintah untuk menjadikan go private-nya Garuda ini sebagai upaya untuk membuat Garuda menjadi lebih baik. Jadi wajar kalau IPO-nya akhirnya kurang sukses. Mungkin itu karena pemiliknya adalah negara (Angkasa Pura I dan II juga merupakan BUMN). Jadi meski proses IPO Garuda ini tidak berjalan dengan baik, namun sepertinya tidak akan ada pihak yang protes, sebab yang dirugikan adalah negara sebagai pemilik Garuda. Bukan Pemerintah, atau siapapun. Kalaupun ada yang protes, paling-paling anggota DPR dari partai oposisi. http://teguhidx.blogspot.com/2011/01/kegagalan-ipo-garuda.html
