Corret Pak Hery, Batubara komoditas yang tidak rentan terhadap kondisi inflasi, 
kebutuhan akan komoditas ini cukup tinggi untuk domestik juga dunia.
 
Mari kita cermati saja dengan situasi saat ini, kl kondisi Index rebound, 
apakah emiten Batu bara yang lebih cepat naik dibanding sektor perbankan or 
sebaliknya.
 
 
regards,
dh

--- Pada Kam, 10/2/11, Hery <[email protected]> menulis:


Dari: Hery <[email protected]>
Judul: [saham] Banjir Australia Dongkrak Harga Acuan Batu Bara
Kepada: "obrolan-bandar" <[email protected]>
Cc: [email protected]
Tanggal: Kamis, 10 Februari, 2011, 11:40 AM


  








Prospek mining masih amat bagus. Ini beritanya...




Info: Banjir Australia Dongkrak Harga Acuan Batu Bara USD127,05/Ton
OKEZONE.COM: Banjir besar yang melanda Queensland, penghasil batu bara terbesar 
di Australia rupanya menjadi salah satu penyebab utama naiknya harga acuan batu 
bara Februari ini. 

Harga Batubara Acuan (HBA) bulan Februari yang ditetapkan Ditjen Minerba 
Kementerian ESDM mencapai USD127,05 per ton, atau naik USD14,65 per ton dari 
USD112,4 per ton pada Januari 2011.

HBA menggunakan formula yang mengacu kepada rata-rata indeks ICI-1 (Indonesia 
Coal Index), Platts-1, NEX (New Castle Export Index) dan GC (New Castle Global 
Coal Index). HBA berlaku untuk harga harga spot (kontrak penjualan di bawah 12 
bulan) sedangkan untuk harga term (kontrak penjualan lebih dari 12 bulan), 
harga acuan menggunakan rata-rata HBA tiga bulan terakhir dan harga berlaku 
untuk penjualan batubara selama 12 bulan.

"Kenaikan indeks harga perdagangan batu bara dunia yang berdampak terhadap 
kenaikan HBA kemungkinan disebabkan oleh banjir bandang di Australia awal tahun 
ini dan diperburuk oleh terjangan badai Yasi Queensland minggu lalu. Australia 
merupakan ekspotir batu bara terbesar dunia dengan ekspor sebesar 261 juta ton 
atau sekira 28 persen total dunia," ungkap laporan yang dirilis dari situs 
resmi Kementerian ESDM, di Jakarta, Kamis (10/2/2011).

Selain gangguan pasokan batubara dari Australia, kenaikan harga batu bara di 
dunia disinyalir juga diakibatkan oleh meningkatnya permintaan dari dunia 
khususnya India dan China.

Pada tahun 2009 konsumsi batu bara China mencapai 3,4 miliar ton (data 
International Energy Statistics, EIA) dengan laju pertumbuhan sepanjang 
2005-2009 sebesar 5-15 persen per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan domestiknya, 
tahun ini sekira 180 juta ton batu bara akan diimpor China. Indonesia tercatat 
sebagai pemasok batu bara terbesar bagi China pada 2010 dengan volume sebesar 
55 juta ton.

Kebutuhan batu bara India diperkirakan mencapai 696 juta ton sepanjang tahun 
fiskal  ini hingga Maret 2012, sedangkan pasokan domestik hanya sekira 554 juta 
ton. Dengan kata lain terdapat kekurangan pasokan sekira 142 juta ton.

"India memproduksi batu bara sekira 526,16 juta ton pada 2009/2010, naik 6,78 
persen dari 492,76 juta ton pada tahun sebelumnya. Sedangkan impor batu bara 
India diperkirakan meningkat dari 59 juta ton pada 2008/2009 menjadi 73,25 juta 
ton pada 2009/2010," tambah laporan tersebut.

Untuk memenuhi kebutuhan domestik, nampaknya India akan terus meningkatkan 
impor batu bara khususnya thermal coal guna kepentingan pembangkitan listrik. 
Walau India memiliki sumberdaya batu bara sekira 267 miliar ton (Geological 
Survey of India), namun kebanyakan sumberdaya tersebut berada pada hutan 
lindung dan lokasi-lokasi lain yang infrastruktur transportasinya 
minim.(adn)(rhs)






Kirim email ke