Beritanya bagus2 tapi nggak mempan buat bandar bearish yg bermoto 
sell...sell...sell....

--- On Wed, 2/9/11, Hery <[email protected]> wrote:

From: Hery <[email protected]>
Subject: [saham] Banjir Australia Dongkrak Harga Acuan Batu Bara
To: "obrolan-bandar" <[email protected]>
Cc: [email protected]
Date: Wednesday, February 9, 2011, 8:40 PM







 



  


    
      
      
      
 
  
  Prospek mining masih amat bagus. Ini beritanya...

Info: Banjir Australia
  Dongkrak Harga Acuan Batu Bara USD127,05/Ton
  
 


OKEZONE.COM:
Banjir
besar yang melanda Queensland, penghasil batu
bara terbesar di Australia
rupanya menjadi salah satu penyebab utama naiknya harga acuan batu bara
Februari ini. 



Harga Batubara Acuan (HBA) bulan Februari yang ditetapkan Ditjen Minerba
Kementerian ESDM mencapai USD127,05 per ton, atau naik USD14,65 per ton dari
USD112,4 per ton pada Januari 2011.



HBA menggunakan formula yang mengacu kepada rata-rata indeks ICI-1 (Indonesia
Coal Index), Platts-1, NEX (New Castle Export Index) dan GC (New Castle Global
Coal Index). HBA berlaku untuk harga harga spot (kontrak penjualan di bawah 12
bulan) sedangkan untuk harga term (kontrak penjualan lebih dari 12 bulan),
harga acuan menggunakan rata-rata HBA tiga bulan terakhir dan harga berlaku
untuk penjualan batubara selama 12 bulan.



"Kenaikan indeks harga perdagangan batu bara dunia yang berdampak terhadap
kenaikan HBA kemungkinan disebabkan oleh banjir bandang di Australia awal tahun 
ini dan diperburuk oleh
terjangan badai Yasi Queensland
minggu lalu. Australia
merupakan ekspotir batu bara terbesar dunia dengan ekspor sebesar 261 juta ton
atau sekira 28 persen total dunia," ungkap laporan yang dirilis dari situs
resmi Kementerian ESDM, di Jakarta,
Kamis (10/2/2011).



Selain gangguan pasokan batubara dari Australia,
kenaikan harga batu bara di dunia disinyalir juga diakibatkan oleh meningkatnya
permintaan dari dunia khususnya India
dan China.



Pada tahun 2009 konsumsi batu bara China mencapai 3,4 miliar ton (data
International Energy Statistics, EIA) dengan laju pertumbuhan sepanjang
2005-2009 sebesar 5-15 persen per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan domestiknya,
tahun ini sekira 180 juta ton batu bara akan diimpor China. Indonesia
tercatat sebagai pemasok batu bara terbesar bagi China pada 2010 dengan volume
sebesar 55 juta ton.



Kebutuhan batu bara India
diperkirakan mencapai 696 juta ton sepanjang tahun fiskal  ini hingga
Maret 2012, sedangkan pasokan domestik hanya sekira 554 juta ton. Dengan kata
lain terdapat kekurangan pasokan sekira 142 juta ton.



"India
memproduksi batu bara sekira 526,16 juta ton pada 2009/2010, naik 6,78 persen
dari 492,76 juta ton pada tahun sebelumnya. Sedangkan impor batu bara India 
diperkirakan
meningkat dari 59 juta ton pada 2008/2009 menjadi 73,25 juta ton pada
2009/2010," tambah laporan tersebut.



Untuk memenuhi kebutuhan domestik, nampaknya India akan terus meningkatkan impor
batu bara khususnya thermal coal guna kepentingan pembangkitan listrik. Walau 
India memiliki
sumberdaya batu bara sekira 267 miliar ton (Geological Survey of India), namun
kebanyakan sumberdaya tersebut berada pada hutan lindung dan lokasi-lokasi lain
yang infrastruktur transportasinya minim.(adn)(rhs)


    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke