Saya setuju banget dengan Pak Susanto Salim. Emang bener, gak selalu apa yang dibilang di text book pada kenyataannya akan sama. Karena harus di timbang dulu (sebenarnya ada trade-off antara kenaikan suku bunga dengan pengurangan jumlah uang beredar di masyarakat terhadap penurunan harga-harga barang di masyarakat). Dalam teori monetarist memang dikatakan bahwa kalau jumlah uang beredar di masyarakat berkurang (M = Money) dan Velocity of Money (V) atau kecepatan uang beredar di masyarakat konstan, serta jumlah transaksi dalam masyarakat (T = Number of Transaction) juga konstan, maka secara matematis, harga (P = Price Level) akan turun ====> MV = PT. Itu yang disebut oleh orang DPR itung-itungan sederhana anak SD. Masalahnya Milton Friedman si monetarist ini juga selalu memasukkan asumsi Ceteris Paribus, yakni hal-hal lain diluar yang diteliti atau diuji, tidak berubah atau konstan, misalnya consumer behavior dan producer behavior.
Nah, kalau yang dibilang Pak Susanto, dengan tingkat suku bunga naik, maka risk-free rate atau safe-harbour rate dari suku bunga bebas risiko juga naik, maka tentu pengusaha atau produsen akan meminta risk premium atau imbal hasil atau return yang lebih tinggi untuk menutupi biaya bunga pinjaman apabila pinjaman dipakai (employed) dalam kegiatan untuk memproduksi barang. Apabila ada produsen yang tidak menggunakan pinjaman dalam kegiatan produksinya (non levered firm), mereka juga ingin memiliki risk premium di atas tingkat suku bunga risiko, karena intinya kalau bisa enak-enakan nyantai di pelabuhan atau dermaga yang indah sambil menikmati sunset tanpa harus dipusingkan dengan urusan bahan baku (Material), masalah karyawan (Man), masalah modal kerja (Money), dan masalah produksi (Machine), mereka juga kepingin di setiap akhir bulan ongkang-ongkang kaki terima pendapatan bunga yang sifatnya tetap dan bebas risiko, karena dijamin oleh LPS atau pemerintah (makanya disebut safe-harbor rate). Nah, untuk mengkompensasikan effort mereka mengelola 4 M tadi (Material, Man, Money, dan Machine), maka mereka juga meminta return yang lebih tinggi dari tingkat suku bunga bebas risiko dan itu adalah logis dari kacamata pengusaha manapun (producer behavour). Nah, kalau produsen menaikkan risk premium-nya, maka akan terjadi kenaikan harga barang di dalam masyarakat yang dalam ekonomi klasik dinamakan cost push inflation. Nah inilah inflasi yang siap-siap ditelan oleh Penguasa dan masyarakatnya. --- On Tue, 15/2/11, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: [saham] Pakai Hitungan Anak SD, DPR Kritik Kenaikan BI Rate To: [email protected] Date: Tuesday, 15 February, 2011, 9:28 PM Dimana2 disemua peristiwa didunia ini Penonton selalu lebih jago dan pintar, daripada pemain Bravo penonton!!!! From: [email protected] Sender: [email protected] Date: Mon, 14 Feb 2011 23:10:07 +0000To: <[email protected]>ReplyTo: [email protected] Subject: Re: [saham] Pakai Hitungan Anak SD, DPR Kritik Kenaikan BI Rate Its easy jawabannya I really don't give a damn... HuahuahuaPowered by Telkomsel BlackBerry®From: Susanto Salim <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 15 Feb 2011 02:34:19 +0700To: <[email protected]>ReplyTo: [email protected] Subject: Re: [saham] Pakai Hitungan Anak SD, DPR Kritik Kenaikan BI Rate Saya melihat banyak yang komentar negatif tentang logika anak SD DPR ini, tapi saya kira argumennya cukup masuk akal. Bisakah kira2 temen2 yang menertawakan anggota dewan ini memberi sanggahan dengan alasannya, as to why he is so damn wrong? (pake bahasa linggis dikit biar keliatan intelek katanya :)) Saya paham secara teori memang katanya kalo BI rate naik, maka inflasi akan berkurang, karena jumlah duit yang beredar berkurang...Ada yang tahu mengapaa kalo bunga naik jumlah duit yang beredar berkurang? (selain karena kumpeni jadi kurang termotivasi untuk pinjam duit) Apakah berkurangnya duit yang beredar ini cukup besar untuk mengkompensasi kenaikan harga yang bakal terjadi karena modal untuk memproduksi barang jadi bertambah sebagai akibat dari bunga pinjaman yang diasumsikan akan naik juga dengan kenaikan BI rate? Ada yang sudah ngitung...or simply maen comot aja dari text book ekonomi dengan teorinya yang menghasilkan krisis demi krisis... 2011/2/14 caknoval <[email protected]> Wah, hebat bener DPR. Pakai hitungan anak SD berani mengkritik BI yang banyak doktor ekonominya. Wassalam, Noval http://www.detikfinance.com/read/2011/02/14/163154/1571078/5/pakai-hitungan-anak-sd-dpr-kritik-kenaikan-bi-rate?f9911013 Senin, 14/02/2011 16:31 WIB Pakai Hitungan Anak SD, DPR Kritik Kenaikan BI Rate Suhendra - detikFinance Jakarta - DPR mengkritik langkah BI menaikkan suku bunga acuan, BI Rate 25 basis poin menjadi 6,75% karena dinilai bisa memicu inflasi. Padahal BI sebelumnya menaikkan BI Rate untuk merespons inflasi yang melonjak tinggi. Adalah anggota Komisi XI DPR-RI Arif Budimanta yang mengkritik kebijakan itu. Anggota DPR dari PDIP itu mempertanyakan alasan BI menaikan BI Rate 25 basis poin menjadi 6,75% pada 4 Februari 2011 lalu. Berdasarkan hitungan sederhana saja, jika BI rate naik maka implikasinya justru pada kenaikan inflasi lagi. "BI rate naik suku bunga pinjaman otomatis naik, apakah akan melawan pasar? Biaya produksi naik, di tingkat konsumen akan naik. Ya inflasi naik. Ini matematika sederhana saja, anak SD, saya nggak tahu kalau BI lebih canggih," kata Arif dalam raker BI dengan Komisi XI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (14/2/2011) Ia mengatakan selama ini usulan DPR terhadap BI selalu tak diperhatikan sehingga terkesan percuma saja. Namun ia mengusulkan agar setiap triwulan dalam rangka anggaran tahunan Bank Indonesia (ATBI), Arif meminta suatu laporan korelasi kebijakan moneter BI dengan pengendalian inflasi. "BI selaku Bank Sentral dikaitkan core inflation," katanya. Ia juga mengkritik soal konsistensi target inflasi tahun 2011 yang menurut versi pemerintah sebesar 5,3%. Sementara BI, menggunakan pola target inflasi 2011 dengan pola 5% plus minus 1%. Ditempat yang sama Gubernur BI. Darmin Nasution menyatakan optimisnya terhadap inflasi 2011 pada rentang 5% plus minus 1%. "Melalui bauran kebijakan moneter dan makroprudensial tersebut, serta langkah-langkah pemerintah untuk mengatasi tingginnya harga komoditi pangan, BI meyakini inflasi dapat dijaga pada sasarannya yakni 5% plus minus 1% untuk 2011," katanya. BI dalam rapat terakhirnya memang memutuskan kenaikan BI Rate 25 basis poin menjadi 6,75%. Keputusan ini diambil akibat peningkatan inflasi yang dipicu oleh pergerakan harga pangan dunia yang tinggi. (hen/qom)
