Komporin saham FREN dolo aahh.. :)
mumpung di level support kuat, hehe

Sumber : http://teguhidx.blogspot.com/2011/02/smartfren.html

---

Selasa, 08 Februari 2011
SmartFren, How Smart! <http://teguhidx.blogspot.com/2011/02/smartfren.html>

Beberapa waktu lalu, Mobile-8 (FREN) menggelar right issue sebanyak 75.7
milyar lembar saham pada harga Rp50 per lembar saham, dengan pembeli
siaganya adalah tiga perusahaan yang tergabung dalam Grup Sinarmas. Lalu apa
yang menarik dari aksi korporasi ini? Ada dua hal. Pertama, perhatikan
jumlah saham baru yang diterbitkan, 75.7 milyar lembar! Itu adalah jumlah
yang sangat banyak, sehingga meski harga right issue-nya ditetapkan pada
batas terendah yaitu Rp50, nilai right issue-nya tetap saja besar, yaitu
Rp3.8 trilyun.

Logikanya jika sebuah perusahaan menggelar right issue, maka nilai sahamnya
akan terdilusi, karena jumlah saham yang beredar bertambah. Alhasil, harga
saham FREN pasca right issue seharusnya turun, sehingga market cap-nya akan
tetap. Sebelum right issue, jumlah saham FREN adalah 42.9 milyar lembar,
sehingga market cap FREN adalah Rp50 x 42.9 milyar = Rp2.1 trilyun. Karena
setelah right issue ini jumlah saham FREN yang beredar di market akan
menjadi 133.6 milyar lembar (sudah termasuk waran), maka secara teoritis
harga sahamnya akan menjadi Rp2.1 trilyun / 133.6 milyar = Rp16.

Nah, disinilah menariknya. Kita tahu bahwa saham FREN, dan juga semua saham
lainnya di BEI, harganya tidak bisa turun lebih rendah dari 50. Sehingga
setelah right issue ini, saham FREN akan tetap di level 50, dan tidak akan
turun ke level 16. Artinya? Market cap atau nilai pasar FREN akan meningkat
pesat, meskipun harga sahamnya gak naik barang 1 Rupiah pun. Sebelum right
issue, market cap FREN seperti yang sudah disebut diatas adalah Rp2.1
trilyun. Dan setelah right issue, menjadi Rp50 x 133.6 milyar = Rp6.7
trilyun. Sekilas, kenaikan nilai FREN dari 2.1 trilyun menjadi 6.7 trilyun
tersebut adalah wajar, karena mereka kan dapet kucuran dana 3.8 trilyun dari
Grup Sinarmas yang membeli saham right issue sebanyak 75.7 milyar lembar
tadi, plus dana tambahan dari realisasi waran.

Intinya, right issue ini sengaja ditetapkan pada harga minimum agar saham
FREN tidak terdilusi setelahnya, dan jumlah saham baru yang diterbitkan
sengaja dibuat sebanyak mungkin, agar nilai right issue-nya besar, yaitu 3.8
trilyun.

Itu hal menarik pertama. Kedua, berhubungan dengan pertanyaan berikut: Apa
yang akan FREN lakukan dengan dana 3.8 trilyun yang ‘dihibahkan’ Sinarmas
kepada mereka? Ternyata hampir seluruhnya atau 99.9%, digunakan untuk
membeli PT Smart Telecom (Smartel), sebuah perusahaan telekomunikasi milik
Grup Sinarmas. Nah mulai dari sini, sudah dapet kan benang merahnya?
Kesimpulannya, *Sinarmas menyuntikkan dana 3.8 trilyun ke FREN melalui
mekanisme right issue, untuk membeli perusahaannya sendiri, yaitu Smartel*.
Jadi sebenarnya sama sekali tidak ada uang yang berpindah tangan, karena
pembeli dan penjualnya adalah pihak yang sama, yaitu sama-sama Sinarmas.
Dengan cara ini, Smartel bisa merger dengan FREN, sekaligus secara tidak
langsung listing di bursa melalui FREN, sehingga Smartel menjadi *memiliki
nilai pasar, yaitu 3.8 trilyun* tadi. Setelah Smartel ini digabung dengan
Mobile-8, maka jadilah SmartFren dengan total nilai pasar 6.7 trilyun.

Hal yang perlu dicatat dari nilai baru SmartFren (FREN) pasca merger dengan
Smartel adalah, secara fundamental nilai pasar 6.7 trilyun tersebut agak
terlalu tinggi. Setelah merger, ekuitas SmartFren per 31 Agustus 2010 akan
menjadi 4.1 trilyun, sehingga PBV FREN = 6.7 / 4.1 = 1.6 kali). Untuk sebuah
perusahaan yang kerjaannya rugi melulu dengan neraca yang dipenuhi defisit,
PBV 1.6 kali tersebut tentunya terlalu mahal. Pada kuartal III 2010, FREN
mencatat rugi bersih 1.1 trilyun. Sementara pada Agustus 2010, Smartel juga
mencatat rugi bersih 416 milyar.

Tapi karena saham FREN di market tidak mungkin turun lebih rendah dari 50,
maka nilai FREN juga tidak mungkin turun dari posisi 6.7 trilyun. Sehingga
disisi lain, nilai pasar Smartel juga tidak akan turun dari 3.8 trilyun.
Disinilah letak kejeniusan Grup Sinarmas. Seandainya mereka memasukkan
Smartel ke bursa dengan cara IPO, dimana harga IPO-nya tentunya gak bisa
ditetapkan pada harga 50 per saham (sebenarnya bisa saja sih, tapi masa iya
50 perak banget?), maka nilai Smartel bisa saja turun jika harga sahamnya
turun lebih rendah dari harga IPO-nya. Mengingat fundamental Smartel sama
rapuhnya dengan fundamental Mobile-8, maka hal tersebut sangat mungkin bisa
terjadi.

Sementara tujuan Sinarmas bukanlah meraih dana dari masyarakat, melainkan
‘memberi’ Smartel harga pasar yang stabil. Dengan menggunakan jasa FREN,
Sinarmas lalu berhasil menghargai Smartel 3.8 trilyun, pada harga saham
minimum yaitu 50 per saham, yang tentunya tidak bisa lebih rendah lagi.
Sekarang, siapapun yang berminat untuk membeli 100% saham Smartel, maka dia
harus membayar 3.8 trilyun, tidak bisa kurang!

*Prospek FREN setelah merger dengan Smartel*

Pada artikel sebelumnya berjudul XL Axiata, penulis menulis bahwa dengan
mempertimbangkan beberapa alasan, prospek pertumbuhan bisnis telekomunikasi
di Indonesia masih cerah. Namun masalah utama yang dihadapi oleh para
perusahaan yang bermain di bisnis ini adalah tingkat persaingan yang sangat
ketat. Mobile-8 dan Smartel bisa jadi merupakan segelintir perusahaan
telekomunikasi yang kalah bersaing dengan perusahaan telekomunikasi lainnya.
Itu terlihat dari ketidak mampuan mereka berdua dalam mencetak laba bersih
dalam setahun terakhir. Tapi bagaimana ceritanya kalau dua perusahaan ini
bergabung menjadi SmartFren? Harapannya tentu, kinerja mereka akan jadi
lebih baik.

Sebelumnya, XL Axiata (EXCL) juga mencatat kinerja yang buruk ketika masih
bernama Excelcom, dan masih dipegang oleh Grup Rajawali-nya Peter Sondakh.
Namun setelah Axiata Berhad, sebuah perusahaan telekomunikasi asal Malaysia,
mengambil alih EXCL dan mengucurkan dana untuk meningkatkan modal dan
asetnya, kinerja EXCL serta merta membaik. Harga sahamnya pun dengan cepat
menanjak terutama dalam dua tahun terakhir. Kemungkinan besar, Grup Sinarmas
memperhatikan hal ini, sehingga mereka mengajak Mobile-8 untuk merger. Jika
Mobile-8 dan Smartel terus saja berjalan sendiri-sendiri, maka sampai
kapanpun mereka akan kalah bersaing dengan perusahaan telekomunikasi
lainnya, karena ukuran mereka berdua terlalu kecil, bahkan untuk ukuran
perusahaan telekomunikasi di pasar CDMA. Tapi jika mereka berdua digabung,
maka akan diperoleh sebuah perusahaan dengan total aset Rp11.8 trilyun (per
31 Agustus 2010), dan nilai pasar 6.7 trilyun. Cukup besar! Dan bonus: nilai
pasar tersebut tidak mungkin bisa turun.

Faktor lainnya, merger ini seperti mendapat angin segar ketika proses merger
Esia-nya Bakrie Telecom (BTEL) dengan Flexi-nya Telkom (TLKM), seperti
menemui jalan buntu. Selama ini, Esia dan Flexi adalah penguasa pasar CDMA
di Indonesia. Meski demikian, dua perusahaan ini pun tetap sadar akan
perlunya merger untuk kelangsungan usaha mereka (sayangnya dalam mergernya
banyak klausul yang ditengarai hanya menguntungkan Esia, sehingga banyak
pihak menolak merger tersebut). Sementara Smartel dan Mobile-8 hanyalah
pemain kelas dua. Jika Esia dan Flexi gagal bergabung, maka gabungan Smartel
dan Mobile-8 dalam bentuk SmartFren memiliki peluang untuk muncul sebagai
penguasa pasar CDMA yang baru.

*Bagaimana dengan sahamnya?*

Kembali ke nilai pasar FREN. Dari tadi kita sudah berkali-kali menyebutkan
bahwa nilai FREN di market (market cap-nya) tidak bisa lebih rendah dari 6.7
trilyun, karena harga saham FREN tidak bisa lebih rendah dari 50.
Pertanyaannya, gimana kalau harga FREN naik? Maka tentu market cap FREN juga
akan naik. Setiap kenaikan harga saham FREN sebesar Rp1, market cap FREN
akan naik Rp133.6 milyar (karena jumlah saham FREN yang beredar di market
setelah right issue kan 133.6 milyar lembar). Jika FREN naik ke 100,
misalnya, maka market cap FREN akan menjadi 13.4 trilyun.

Lalu mungkinkah FREN bisa naik? Secara fundamental tentu tidak mungkin,
karena merger antara Mobile-8 dan Smartel masih belum menghasilkan apa-apa.
SmartFren masih merupakan perusahaan dengan utang segudang, dan juga rugi
bersih yang besar. Tapi secara spekulasi, FREN bisa saja naik sewaktu-waktu.
Beberapa waktu terakhir, Grup Sinarmas tampak rajin menggoreng saham mereka.
Lihat saja Bank Sinarmas (BSIM) dan Dian Swastika Sentosa (DSSA) yang naik
sangat pesat dalam beberapa waktu terakhir. So, bukan tidak mungkin mereka
melakukan hal yang sama terhadap FREN. Dan untuk melakukannya mudah saja
kok, karena mereka tentunya punya banyak uang untuk itu.

Bagi Sinarmas, mereka bisa memperoleh keuntungan tertentu jika FREN naik ke,
katakanlah, level 100. Contohnya, mereka bisa menjaminkan 25% saham FREN
yang senilai Rp3.4 trilyun (25% x 133.6 milyar x Rp100) ke bank atau lembaga
keuangan lainnya, untuk memperoleh pinjaman sebesar Rp1.5 trilyun untuk
merestrukturisasi utang-utang SmartFren. Penulis kira, bank manapun akan
dengan senang hati memberikan pinjaman tersebut. Kenapa? Karena nilai
jaminannya jauh lebih besar dari nilai pinjamannya. Bahkan kalaupun harga
saham FREN jeblok ke level 50, maka nilai jaminannya hanya turun menjadi
Rp1.7 trilyun, masih lebih besar sekitar 200 milyar dibanding nilai
pinjamannya. Dan si bank juga bisa iseng-iseng memainkan sekian milyar saham
FREN yang mereka pegang untuk menggoreng harganya di market, sehingga mereka
bisa meraup keuntungan tambahan diluar bunga. So, jika dilihat dari sisi
ini, Sinarmas punya cukup alasan untuk sewaktu-waktu menaikkan harga saham
FREN.

Finally, kesimpulan dari artikel ini ada dua. Pertama, dengan merger ini,
FREN kini memiliki secercah peluang untuk bersaing dengan perusahaan
telekomunikasi yang lebih mapan seperti Telkom (TLKM), XL Axiata (EXCL),
Bakrie Telecom (BTEL) dan Indosat (ISAT). Menarik untuk melihat apakah
perusahaan ini akan mampu mencatat peningkatan kinerja di masa mendatang.
Dan kedua, berbeda dengan sebelumnya, kini FREN memiliki peluang untuk
menguat sewaktu-waktu, meski hanya secara spekulatif.

Tapi masalahnya, kita tentunya gak akan pernah tahu kapan Sinarmas akan
memulai cooking show-nya. Kalau anda mau bermain aman dan tidak suka
spekulasi, maka sebaiknya FREN ini baru diperhatikan jika nanti kinerjanya
benar-benar menguat, atau setidaknya sudah tidak rugi lagi.

Kirim email ke