apanya yang smart sih? bingung.. akrobat sinar mas nya?
terus dengan akrobat perusahaannya jadi bernilai? 
cuan aja dulu, bagiin deviden aja dulu.. abis gitu baru lah boleh dilirik

Daud Muhamad Samsudin Hardjakusumah
[email protected]
sidaut.blogspot.com




________________________________
From: PH <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, February 18, 2011 9:41:19 AM
Subject: Re: [saham] SmartFren, How Smart!

  
Hehehe sapa yang mau dengerin... Orang2 uda mau lari semua tuh makanya pasang 
jual karena saham nya ga senilai segitu..

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
________________________________

From:  Tikno Susatio <[email protected]> 
Sender:  [email protected] 
Date: Fri, 18 Feb 2011 13:18:56 +0700
To: <[email protected]>
ReplyTo:  [email protected] 
Subject: Re: [saham] SmartFren, How Smart!
  
berita bagus untuk yang nyangkut di fren, ada sedikit harapan untuk naik, 
semoga 
tahun ini smartfren bisa untung hingga momentum keuntungan ini bisa menaikkan 
harga sahamnya. dalam pemikiran saya, kalau ada seminar cara menggoreng 
saham/cara membangunkan saham tidur, pasti banyak peminatnya. salah satu 
pemikiran bagaimana membangunkan saham tidur adalah jangan memasang order jual 
di 50, seperti di fren ratusan ribu bahkan pernah sampai jutaan lot dipasang di 
harga 50, ini akan menimbulkan kesan perusahaan yang tidak sehat dan memang 
demikian. nah untuk menimbulkan kesan perusahaan yang memiliki harapan, seperti 
fren ini dengan berita ini ada secerah harapan, maka jangan order jual di 50, 
atau hold dulu kalau mau jualan. dengan order jual yang sedikit/ hanya ribuan 
lot, maka akan lebih mudah mengangkat harga sahamnya.
mudah mudahan dengan adanya berita positif yad. maka harganya akan segera 
terangkat.
saya pernah nyangkut di fren sekitar 2 bulan, dan rasanya tidak nyaman sama 
sekali, untung saya dapat cutloss hari pertama fren bergerak. 

harapan kita harga fren bisa bergerak lagi dan rekan rekan yang nyangkut bisa 
tersenyum lega.


2011/2/17 Dimas Yoga <[email protected]>

  
>
>
>Komporin saham FREN dolo aahh.. :)
>mumpung di level support kuat, hehe
>
>
>Sumber : http://teguhidx.blogspot.com/2011/02/smartfren.html
>
>
>---
>
>
>Selasa, 08 Februari 2011
>SmartFren, How Smart!
>Beberapa waktu lalu, Mobile-8 (FREN) menggelar right issue sebanyak 75.7 
>milyar 
>lembar saham pada harga Rp50 per lembar saham, dengan pembeli siaganya adalah 
>tiga perusahaan yang tergabung dalam Grup Sinarmas. Lalu apa yang menarik dari 
>aksi korporasi ini? Ada dua hal. Pertama, perhatikan jumlah saham baru yang 
>diterbitkan, 75.7 milyar lembar! Itu adalah jumlah yang sangat banyak, 
>sehingga 
>meski harga right issue-nya ditetapkan pada batas terendah yaitu Rp50, nilai 
>right issue-nya tetap saja besar, yaitu Rp3.8 trilyun.
>
>Logikanya jika sebuah perusahaan menggelar right issue, maka nilai sahamnya 
>akan 
>terdilusi, karena jumlah saham yang beredar bertambah. Alhasil, harga saham 
>FREN 
>pasca right issue seharusnya turun, sehingga market cap-nya akan tetap. 
>Sebelum 
>right issue, jumlah saham FREN adalah 42.9 milyar lembar, sehingga market cap 
>FREN adalah Rp50 x 42.9 milyar = Rp2.1 trilyun. Karena setelah right issue ini 
>jumlah saham FREN yang beredar di market akan menjadi 133.6 milyar lembar 
>(sudah 
>termasuk waran), maka secara teoritis harga sahamnya akan menjadi Rp2.1 
>trilyun 
>/ 133.6 milyar = Rp16.
>
>Nah, disinilah menariknya. Kita tahu bahwa saham FREN, dan juga semua saham 
>lainnya di BEI, harganya tidak bisa turun lebih rendah dari 50. Sehingga 
>setelah 
>right issue ini, saham FREN akan tetap di level 50, dan tidak akan turun ke 
>level 16. Artinya? Market cap atau nilai pasar FREN akan meningkat pesat, 
>meskipun harga sahamnya gak naik barang 1 Rupiah pun. Sebelum right issue, 
>market cap FREN seperti yang sudah disebut diatas adalah Rp2.1 trilyun. Dan 
>setelah right issue, menjadi Rp50 x 133.6 milyar = Rp6.7 trilyun. Sekilas, 
>kenaikan nilai FREN dari 2.1 trilyun menjadi 6.7 trilyun tersebut adalah 
>wajar, 
>karena mereka kan dapet kucuran dana 3.8 trilyun dari Grup Sinarmas yang 
>membeli 
>saham right issue sebanyak 75.7 milyar lembar tadi, plus dana tambahan dari 
>realisasi waran.
>
>Intinya, right issue ini sengaja ditetapkan pada harga minimum agar saham FREN 
>tidak terdilusi setelahnya, dan jumlah saham baru yang diterbitkan sengaja 
>dibuat sebanyak mungkin, agar nilai right issue-nya besar, yaitu 3.8 trilyun.
>
>Itu hal menarik pertama. Kedua, berhubungan dengan pertanyaan berikut: Apa 
>yang 
>akan FREN lakukan dengan dana 3.8 trilyun yang ‘dihibahkan’ Sinarmas kepada 
>mereka? Ternyata hampir seluruhnya atau 99.9%, digunakan untuk membeli PT 
>Smart 
>Telecom (Smartel), sebuah perusahaan telekomunikasi milik Grup Sinarmas. Nah 
>mulai dari sini, sudah dapet kan benang merahnya? Kesimpulannya, Sinarmas 
>menyuntikkan dana 3.8 trilyun ke FREN melalui mekanisme right issue, untuk 
>membeli perusahaannya sendiri, yaitu Smartel. Jadi sebenarnya sama sekali 
>tidak 
>ada uang yang berpindah tangan, karena pembeli dan penjualnya adalah pihak 
>yang 
>sama, yaitu sama-sama Sinarmas. Dengan cara ini, Smartel bisa merger dengan 
>FREN, sekaligus secara tidak langsung listing di bursa melalui FREN, sehingga 
>Smartel menjadi memiliki nilai pasar, yaitu 3.8 trilyun tadi. Setelah Smartel 
>ini digabung dengan Mobile-8, maka jadilah SmartFren dengan total nilai pasar 
>6.7 trilyun.
>
>Hal yang perlu dicatat dari nilai baru SmartFren (FREN) pasca merger dengan 
>Smartel adalah, secara fundamental nilai pasar 6.7 trilyun tersebut agak 
>terlalu 
>tinggi. Setelah merger, ekuitas SmartFren per 31 Agustus 2010 akan menjadi 4.1 
>trilyun, sehingga PBV FREN = 6.7 / 4.1 = 1.6 kali). Untuk sebuah perusahaan 
>yang 
>kerjaannya rugi melulu dengan neraca yang dipenuhi defisit, PBV 1.6 kali 
>tersebut tentunya terlalu mahal. Pada kuartal III 2010, FREN mencatat rugi 
>bersih 1.1 trilyun. Sementara pada Agustus 2010, Smartel juga mencatat rugi 
>bersih 416 milyar.
>
>Tapi karena saham FREN di market tidak mungkin turun lebih rendah dari 50, 
>maka 
>nilai FREN juga tidak mungkin turun dari posisi 6.7 trilyun. Sehingga disisi 
>lain, nilai pasar Smartel juga tidak akan turun dari 3.8 trilyun. Disinilah 
>letak kejeniusan Grup Sinarmas. Seandainya mereka memasukkan Smartel ke bursa 
>dengan cara IPO, dimana harga IPO-nya tentunya gak bisa ditetapkan pada harga 
>50 
>per saham (sebenarnya bisa saja sih, tapi masa iya 50 perak banget?), maka 
>nilai 
>Smartel bisa saja turun jika harga sahamnya turun lebih rendah dari harga 
>IPO-nya. Mengingat fundamental Smartel sama rapuhnya dengan fundamental 
>Mobile-8, maka hal tersebut sangat mungkin bisa terjadi.
>
>Sementara tujuan Sinarmas bukanlah meraih dana dari masyarakat, melainkan 
>‘memberi’ Smartel harga pasar yang stabil. Dengan menggunakan jasa FREN, 
>Sinarmas lalu berhasil menghargai Smartel 3.8 trilyun, pada harga saham 
>minimum 
>yaitu 50 per saham, yang tentunya tidak bisa lebih rendah lagi. Sekarang, 
>siapapun yang berminat untuk membeli 100% saham Smartel, maka dia harus 
>membayar 
>3.8 trilyun, tidak bisa kurang!
>
>Prospek FREN setelah merger dengan Smartel
>
>Pada artikel sebelumnya berjudul XL Axiata, penulis menulis bahwa dengan 
>mempertimbangkan beberapa alasan, prospek pertumbuhan bisnis telekomunikasi di 
>Indonesia masih cerah. Namun masalah utama yang dihadapi oleh para perusahaan 
>yang bermain di bisnis ini adalah tingkat persaingan yang sangat ketat. 
>Mobile-8 
>dan Smartel bisa jadi merupakan segelintir perusahaan telekomunikasi yang 
>kalah 
>bersaing dengan perusahaan telekomunikasi lainnya. Itu terlihat dari ketidak 
>mampuan mereka berdua dalam mencetak laba bersih dalam setahun terakhir. Tapi 
>bagaimana ceritanya kalau dua perusahaan ini bergabung menjadi SmartFren? 
>Harapannya tentu, kinerja mereka akan jadi lebih baik.
>
>Sebelumnya, XL Axiata (EXCL) juga mencatat kinerja yang buruk ketika masih 
>bernama Excelcom, dan masih dipegang oleh Grup Rajawali-nya Peter Sondakh. 
>Namun 
>setelah Axiata Berhad, sebuah perusahaan telekomunikasi asal Malaysia, 
>mengambil 
>alih EXCL dan mengucurkan dana untuk meningkatkan modal dan asetnya, kinerja 
>EXCL serta merta membaik. Harga sahamnya pun dengan cepat menanjak terutama 
>dalam dua tahun terakhir. Kemungkinan besar, Grup Sinarmas memperhatikan hal 
>ini, sehingga mereka mengajak Mobile-8 untuk merger. Jika Mobile-8 dan Smartel 
>terus saja berjalan sendiri-sendiri, maka sampai kapanpun mereka akan kalah 
>bersaing dengan perusahaan telekomunikasi lainnya, karena ukuran mereka berdua 
>terlalu kecil, bahkan untuk ukuran perusahaan telekomunikasi di pasar CDMA. 
>Tapi 
>jika mereka berdua digabung, maka akan diperoleh sebuah perusahaan dengan 
>total 
>aset Rp11.8 trilyun (per 31 Agustus 2010), dan nilai pasar 6.7 trilyun. Cukup 
>besar! Dan bonus: nilai pasar tersebut tidak mungkin bisa turun.
>
>Faktor lainnya, merger ini seperti mendapat angin segar ketika proses merger 
>Esia-nya Bakrie Telecom (BTEL) dengan Flexi-nya Telkom (TLKM), seperti menemui 
>jalan buntu. Selama ini, Esia dan Flexi adalah penguasa pasar CDMA di 
>Indonesia. 
>Meski demikian, dua perusahaan ini pun tetap sadar akan perlunya merger untuk 
>kelangsungan usaha mereka (sayangnya dalam mergernya banyak klausul yang 
>ditengarai hanya menguntungkan Esia, sehingga banyak pihak menolak merger 
>tersebut). Sementara Smartel dan Mobile-8 hanyalah pemain kelas dua. Jika Esia 
>dan Flexi gagal bergabung, maka gabungan Smartel dan Mobile-8 dalam bentuk 
>SmartFren memiliki peluang untuk muncul sebagai penguasa pasar CDMA yang baru.
>
>Bagaimana dengan sahamnya?
>
>Kembali ke nilai pasar FREN. Dari tadi kita sudah berkali-kali menyebutkan 
>bahwa 
>nilai FREN di market (market cap-nya) tidak bisa lebih rendah dari 6.7 
>trilyun, 
>karena harga saham FREN tidak bisa lebih rendah dari 50. Pertanyaannya, gimana 
>kalau harga FREN naik? Maka tentu market cap FREN juga akan naik. Setiap 
>kenaikan harga saham FREN sebesar Rp1, market cap FREN akan naik Rp133.6 
>milyar 
>(karena jumlah saham FREN yang beredar di market setelah right issue kan 133.6 
>milyar lembar). Jika FREN naik ke 100, misalnya, maka market cap FREN akan 
>menjadi 13.4 trilyun.
>
>Lalu mungkinkah FREN bisa naik? Secara fundamental tentu tidak mungkin, karena 
>merger antara Mobile-8 dan Smartel masih belum menghasilkan apa-apa. SmartFren 
>masih merupakan perusahaan dengan utang segudang, dan juga rugi bersih yang 
>besar. Tapi secara spekulasi, FREN bisa saja naik sewaktu-waktu. Beberapa 
>waktu 
>terakhir, Grup Sinarmas tampak rajin menggoreng saham mereka. Lihat saja Bank 
>Sinarmas (BSIM) dan Dian Swastika Sentosa (DSSA) yang naik sangat pesat dalam 
>beberapa waktu terakhir. So, bukan tidak mungkin mereka melakukan hal yang 
>sama 
>terhadap FREN. Dan untuk melakukannya mudah saja kok, karena mereka tentunya 
>punya banyak uang untuk itu.
>
>Bagi Sinarmas, mereka bisa memperoleh keuntungan tertentu jika FREN naik ke, 
>katakanlah, level 100. Contohnya, mereka bisa menjaminkan 25% saham FREN yang 
>senilai Rp3.4 trilyun (25% x 133.6 milyar x Rp100) ke bank atau lembaga 
>keuangan 
>lainnya, untuk memperoleh pinjaman sebesar Rp1.5 trilyun untuk 
>merestrukturisasi 
>utang-utang SmartFren. Penulis kira, bank manapun akan dengan senang hati 
>memberikan pinjaman tersebut. Kenapa? Karena nilai jaminannya jauh lebih besar 
>dari nilai pinjamannya. Bahkan kalaupun harga saham FREN jeblok ke level 50, 
>maka nilai jaminannya hanya turun menjadi Rp1.7 trilyun, masih lebih besar 
>sekitar 200 milyar dibanding nilai pinjamannya. Dan si bank juga bisa 
>iseng-iseng memainkan sekian milyar saham FREN yang mereka pegang untuk 
>menggoreng harganya di market, sehingga mereka bisa meraup keuntungan tambahan 
>diluar bunga. So, jika dilihat dari sisi ini, Sinarmas punya cukup alasan 
>untuk 
>sewaktu-waktu menaikkan harga saham FREN.
>
>Finally, kesimpulan dari artikel ini ada dua. Pertama, dengan merger ini, FREN 
>kini memiliki secercah peluang untuk bersaing dengan perusahaan telekomunikasi 
>yang lebih mapan seperti Telkom (TLKM), XL Axiata (EXCL), Bakrie Telecom 
>(BTEL) 
>dan Indosat (ISAT). Menarik untuk melihat apakah perusahaan ini akan mampu 
>mencatat peningkatan kinerja di masa mendatang. Dan kedua, berbeda dengan 
>sebelumnya, kini FREN memiliki peluang untuk menguat sewaktu-waktu, meski 
>hanya 
>secara spekulatif.
>
>Tapi masalahnya, kita tentunya gak akan pernah tahu kapan Sinarmas akan 
>memulai 
>cooking show-nya. Kalau anda mau bermain aman dan tidak suka spekulasi, maka 
>sebaiknya FREN ini baru diperhatikan jika nanti kinerjanya benar-benar 
>menguat, 
>atau setidaknya sudah tidak rugi lagi.
>
>
>
>
>
>

 


      

Kirim email ke