bagusssss ne...saya juga ada nyangkut di FREN.
u are my FREN.....

hahahhahaa



________________________________
From: Dimas Yoga <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thu, February 17, 2011 8:27:32 PM
Subject: [saham] SmartFren, How Smart!

  


Komporin saham FREN dolo aahh.. :)
mumpung di level support kuat, hehe

Sumber : http://teguhidx.blogspot.com/2011/02/smartfren.html

---

Selasa, 08 Februari 2011
SmartFren, How Smart!
Beberapa waktu lalu, Mobile-8 (FREN) menggelar right issue sebanyak 75.7 milyar 
lembar saham pada harga Rp50 per lembar saham, dengan pembeli siaganya adalah 
tiga perusahaan yang tergabung dalam Grup Sinarmas. Lalu apa yang menarik dari 
aksi korporasi ini? Ada dua hal. Pertama, perhatikan jumlah saham baru yang 
diterbitkan, 75.7 milyar lembar! Itu adalah jumlah yang sangat banyak, sehingga 
meski harga right issue-nya ditetapkan pada batas terendah yaitu Rp50, nilai 
right issue-nya tetap saja besar, yaitu Rp3.8 trilyun.

Logikanya jika sebuah perusahaan menggelar right issue, maka nilai sahamnya 
akan 
terdilusi, karena jumlah saham yang beredar bertambah. Alhasil, harga saham 
FREN 
pasca right issue seharusnya turun, sehingga market cap-nya akan tetap. Sebelum 
right issue, jumlah saham FREN adalah 42.9 milyar lembar, sehingga market cap 
FREN adalah Rp50 x 42.9 milyar = Rp2.1 trilyun. Karena setelah right issue ini 
jumlah saham FREN yang beredar di market akan menjadi 133.6 milyar lembar 
(sudah 
termasuk waran), maka secara teoritis harga sahamnya akan menjadi Rp2.1 trilyun 
/ 133.6 milyar = Rp16.

Nah, disinilah menariknya. Kita tahu bahwa saham FREN, dan juga semua saham 
lainnya di BEI, harganya tidak bisa turun lebih rendah dari 50. Sehingga 
setelah 
right issue ini, saham FREN akan tetap di level 50, dan tidak akan turun ke 
level 16. Artinya? Market cap atau nilai pasar FREN akan meningkat pesat, 
meskipun harga sahamnya gak naik barang 1 Rupiah pun. Sebelum right issue, 
market cap FREN seperti yang sudah disebut diatas adalah Rp2.1 trilyun. Dan 
setelah right issue, menjadi Rp50 x 133.6 milyar = Rp6.7 trilyun. Sekilas, 
kenaikan nilai FREN dari 2.1 trilyun menjadi 6.7 trilyun tersebut adalah wajar, 
karena mereka kan dapet kucuran dana 3.8 trilyun dari Grup Sinarmas yang 
membeli 
saham right issue sebanyak 75.7 milyar lembar tadi, plus dana tambahan dari 
realisasi waran.

Intinya, right issue ini sengaja ditetapkan pada harga minimum agar saham FREN 
tidak terdilusi setelahnya, dan jumlah saham baru yang diterbitkan sengaja 
dibuat sebanyak mungkin, agar nilai right issue-nya besar, yaitu 3.8 trilyun.

Itu hal menarik pertama. Kedua, berhubungan dengan pertanyaan berikut: Apa yang 
akan FREN lakukan dengan dana 3.8 trilyun yang ‘dihibahkan’ Sinarmas kepada 
mereka? Ternyata hampir seluruhnya atau 99.9%, digunakan untuk membeli PT Smart 
Telecom (Smartel), sebuah perusahaan telekomunikasi milik Grup Sinarmas. Nah 
mulai dari sini, sudah dapet kan benang merahnya? Kesimpulannya, Sinarmas 
menyuntikkan dana 3.8 trilyun ke FREN melalui mekanisme right issue, untuk 
membeli perusahaannya sendiri, yaitu Smartel. Jadi sebenarnya sama sekali tidak 
ada uang yang berpindah tangan, karena pembeli dan penjualnya adalah pihak yang 
sama, yaitu sama-sama Sinarmas. Dengan cara ini, Smartel bisa merger dengan 
FREN, sekaligus secara tidak langsung listing di bursa melalui FREN, sehingga 
Smartel menjadi memiliki nilai pasar, yaitu 3.8 trilyun tadi. Setelah Smartel 
ini digabung dengan Mobile-8, maka jadilah SmartFren dengan total nilai pasar 
6.7 trilyun.

Hal yang perlu dicatat dari nilai baru SmartFren (FREN) pasca merger dengan 
Smartel adalah, secara fundamental nilai pasar 6.7 trilyun tersebut agak 
terlalu 
tinggi. Setelah merger, ekuitas SmartFren per 31 Agustus 2010 akan menjadi 4.1 
trilyun, sehingga PBV FREN = 6.7 / 4.1 = 1.6 kali). Untuk sebuah perusahaan 
yang 
kerjaannya rugi melulu dengan neraca yang dipenuhi defisit, PBV 1.6 kali 
tersebut tentunya terlalu mahal. Pada kuartal III 2010, FREN mencatat rugi 
bersih 1.1 trilyun. Sementara pada Agustus 2010, Smartel juga mencatat rugi 
bersih 416 milyar.

Tapi karena saham FREN di market tidak mungkin turun lebih rendah dari 50, maka 
nilai FREN juga tidak mungkin turun dari posisi 6.7 trilyun. Sehingga disisi 
lain, nilai pasar Smartel juga tidak akan turun dari 3.8 trilyun. Disinilah 
letak kejeniusan Grup Sinarmas. Seandainya mereka memasukkan Smartel ke bursa 
dengan cara IPO, dimana harga IPO-nya tentunya gak bisa ditetapkan pada harga 
50 
per saham (sebenarnya bisa saja sih, tapi masa iya 50 perak banget?), maka 
nilai 
Smartel bisa saja turun jika harga sahamnya turun lebih rendah dari harga 
IPO-nya. Mengingat fundamental Smartel sama rapuhnya dengan fundamental 
Mobile-8, maka hal tersebut sangat mungkin bisa terjadi.

Sementara tujuan Sinarmas bukanlah meraih dana dari masyarakat, melainkan 
‘memberi’ Smartel harga pasar yang stabil. Dengan menggunakan jasa FREN, 
Sinarmas lalu berhasil menghargai Smartel 3.8 trilyun, pada harga saham minimum 
yaitu 50 per saham, yang tentunya tidak bisa lebih rendah lagi. Sekarang, 
siapapun yang berminat untuk membeli 100% saham Smartel, maka dia harus 
membayar 
3.8 trilyun, tidak bisa kurang!

Prospek FREN setelah merger dengan Smartel

Pada artikel sebelumnya berjudul XL Axiata, penulis menulis bahwa dengan 
mempertimbangkan beberapa alasan, prospek pertumbuhan bisnis telekomunikasi di 
Indonesia masih cerah. Namun masalah utama yang dihadapi oleh para perusahaan 
yang bermain di bisnis ini adalah tingkat persaingan yang sangat ketat. 
Mobile-8 
dan Smartel bisa jadi merupakan segelintir perusahaan telekomunikasi yang kalah 
bersaing dengan perusahaan telekomunikasi lainnya. Itu terlihat dari ketidak 
mampuan mereka berdua dalam mencetak laba bersih dalam setahun terakhir. Tapi 
bagaimana ceritanya kalau dua perusahaan ini bergabung menjadi SmartFren? 
Harapannya tentu, kinerja mereka akan jadi lebih baik.

Sebelumnya, XL Axiata (EXCL) juga mencatat kinerja yang buruk ketika masih 
bernama Excelcom, dan masih dipegang oleh Grup Rajawali-nya Peter Sondakh. 
Namun 
setelah Axiata Berhad, sebuah perusahaan telekomunikasi asal Malaysia, 
mengambil 
alih EXCL dan mengucurkan dana untuk meningkatkan modal dan asetnya, kinerja 
EXCL serta merta membaik. Harga sahamnya pun dengan cepat menanjak terutama 
dalam dua tahun terakhir. Kemungkinan besar, Grup Sinarmas memperhatikan hal 
ini, sehingga mereka mengajak Mobile-8 untuk merger. Jika Mobile-8 dan Smartel 
terus saja berjalan sendiri-sendiri, maka sampai kapanpun mereka akan kalah 
bersaing dengan perusahaan telekomunikasi lainnya, karena ukuran mereka berdua 
terlalu kecil, bahkan untuk ukuran perusahaan telekomunikasi di pasar CDMA. 
Tapi 
jika mereka berdua digabung, maka akan diperoleh sebuah perusahaan dengan total 
aset Rp11.8 trilyun (per 31 Agustus 2010), dan nilai pasar 6.7 trilyun. Cukup 
besar! Dan bonus: nilai pasar tersebut tidak mungkin bisa turun.

Faktor lainnya, merger ini seperti mendapat angin segar ketika proses merger 
Esia-nya Bakrie Telecom (BTEL) dengan Flexi-nya Telkom (TLKM), seperti menemui 
jalan buntu. Selama ini, Esia dan Flexi adalah penguasa pasar CDMA di 
Indonesia. 
Meski demikian, dua perusahaan ini pun tetap sadar akan perlunya merger untuk 
kelangsungan usaha mereka (sayangnya dalam mergernya banyak klausul yang 
ditengarai hanya menguntungkan Esia, sehingga banyak pihak menolak merger 
tersebut). Sementara Smartel dan Mobile-8 hanyalah pemain kelas dua. Jika Esia 
dan Flexi gagal bergabung, maka gabungan Smartel dan Mobile-8 dalam bentuk 
SmartFren memiliki peluang untuk muncul sebagai penguasa pasar CDMA yang baru.

Bagaimana dengan sahamnya?

Kembali ke nilai pasar FREN. Dari tadi kita sudah berkali-kali menyebutkan 
bahwa 
nilai FREN di market (market cap-nya) tidak bisa lebih rendah dari 6.7 trilyun, 
karena harga saham FREN tidak bisa lebih rendah dari 50. Pertanyaannya, gimana 
kalau harga FREN naik? Maka tentu market cap FREN juga akan naik. Setiap 
kenaikan harga saham FREN sebesar Rp1, market cap FREN akan naik Rp133.6 milyar 
(karena jumlah saham FREN yang beredar di market setelah right issue kan 133.6 
milyar lembar). Jika FREN naik ke 100, misalnya, maka market cap FREN akan 
menjadi 13.4 trilyun.

Lalu mungkinkah FREN bisa naik? Secara fundamental tentu tidak mungkin, karena 
merger antara Mobile-8 dan Smartel masih belum menghasilkan apa-apa. SmartFren 
masih merupakan perusahaan dengan utang segudang, dan juga rugi bersih yang 
besar. Tapi secara spekulasi, FREN bisa saja naik sewaktu-waktu. Beberapa waktu 
terakhir, Grup Sinarmas tampak rajin menggoreng saham mereka. Lihat saja Bank 
Sinarmas (BSIM) dan Dian Swastika Sentosa (DSSA) yang naik sangat pesat dalam 
beberapa waktu terakhir. So, bukan tidak mungkin mereka melakukan hal yang sama 
terhadap FREN. Dan untuk melakukannya mudah saja kok, karena mereka tentunya 
punya banyak uang untuk itu.

Bagi Sinarmas, mereka bisa memperoleh keuntungan tertentu jika FREN naik ke, 
katakanlah, level 100. Contohnya, mereka bisa menjaminkan 25% saham FREN yang 
senilai Rp3.4 trilyun (25% x 133.6 milyar x Rp100) ke bank atau lembaga 
keuangan 
lainnya, untuk memperoleh pinjaman sebesar Rp1.5 trilyun untuk 
merestrukturisasi 
utang-utang SmartFren. Penulis kira, bank manapun akan dengan senang hati 
memberikan pinjaman tersebut. Kenapa? Karena nilai jaminannya jauh lebih besar 
dari nilai pinjamannya. Bahkan kalaupun harga saham FREN jeblok ke level 50, 
maka nilai jaminannya hanya turun menjadi Rp1.7 trilyun, masih lebih besar 
sekitar 200 milyar dibanding nilai pinjamannya. Dan si bank juga bisa 
iseng-iseng memainkan sekian milyar saham FREN yang mereka pegang untuk 
menggoreng harganya di market, sehingga mereka bisa meraup keuntungan tambahan 
diluar bunga. So, jika dilihat dari sisi ini, Sinarmas punya cukup alasan untuk 
sewaktu-waktu menaikkan harga saham FREN.

Finally, kesimpulan dari artikel ini ada dua. Pertama, dengan merger ini, FREN 
kini memiliki secercah peluang untuk bersaing dengan perusahaan telekomunikasi 
yang lebih mapan seperti Telkom (TLKM), XL Axiata (EXCL), Bakrie Telecom (BTEL) 
dan Indosat (ISAT). Menarik untuk melihat apakah perusahaan ini akan mampu 
mencatat peningkatan kinerja di masa mendatang. Dan kedua, berbeda dengan 
sebelumnya, kini FREN memiliki peluang untuk menguat sewaktu-waktu, meski hanya 
secara spekulatif.

Tapi masalahnya, kita tentunya gak akan pernah tahu kapan Sinarmas akan memulai 
cooking show-nya. Kalau anda mau bermain aman dan tidak suka spekulasi, maka 
sebaiknya FREN ini baru diperhatikan jika nanti kinerjanya benar-benar menguat, 
atau setidaknya sudah tidak rugi lagi.



 


      

Kirim email ke