Melihat ke belakang ambisi BIPI yang begitu menggebu-gebu mengakuisisi ELSA pada Pebruari tahun lalu untuk menggenapi aksi korporasi BIPI listing di BEI, benar sinyalemen sejumlah analis bahwa ambisi tersebut terlalu optimis. Persoalan bukan pada ELSA, tetapi terhadap ambisi itu yang dalam bahasa sehari-hari disebut "besar pasak daripada tiang". Akuisisi 37,15% saham ELSA oleh BIPI yang sepenuhnya didanai oleh utang berupa 'promissory notes' dari induk perusahaannya PT Indotambang Perkasa senilai Rp894,81 miliar sudah dikhawatirkan oleh banyak pihak.
Alasan BIPI bahwa pendapatan konsolidasi ELSA selama 2010 yang belum memenuhi harapan BIPI sangat tidak rasional mengingat pertimbangan mereka masuk dengan perspektif jangka panjang sebagaimana kompetitor terdahulunya seperti Saratoga Capital/Northstar Pacific, PT Pertamina (Persero), Petronas dan Nippon Oil Corporation. Investor institusi saat itu memahami bagaimana kendala regulasi di Indonesia menghambat iklim investasi hulu yang mencapai puncaknya selama 2010, dan ELSA sebagai pemain kunci pada jasa penunjang hulu merasakan imbasnya dari penundaan sejumlah proyek klien 'upstream' migas. Sejumlah hambatan iklim investasi ini sendiri sudah diterobos dan dicarikan jalan keluarnya oleh Pemerintah RI menjelang akhir 2010 disertai komitmen untuk mendorong peningkatan investasi dan 'lifting' migas mengingat permintaan migas tidak dapat lagi ditahan pada tahun-tahun selanjutnya di tengah terbatasnya suplai lokal. Kasus "besar pasak daripada tiang" BIPI dalam mengakusisi ELSA ini bukan cerita pertama, emiten cemerlang lainnya pada sub-sektor yang sama seperti APEX yang diakuisisi oleh MIRA juga meninggalkan bom waktu utang yang tidak kalah dahsyatnya bagi MIRA. Salah satu analis pada waktu itu telah mengingatkan perihal ambisi BIPI yang tidak baik bagi kesehatan keuangan dirinya sendiri. "Terlalu percaya diri, dihubungi terpisah, Kepala Riset PT Bhakti Securities Edwin Sebayang menilai pembelian saham Elnusa 37,15% yang diambil alih Benakat cukup spekulatif. Pasalnya, sumber dana pembelian tersebut merupakan pinjaman yang menuntut beban pengembalian." ( http://bataviase.co.id/node/129465). Jadi, jika 'flashback' ke belakang, sangat dipercaya pendorong akuisisi ini merupakan langkah yang diskenariokan semata untuk menopang laju harga listing BIPI saat IPO yang secara fundamental tidak "mempunyai apa-apa". Edwin juga menambahkan waktu itu, "Saya menilai Benakat terlalu percaya diri. Jika bicara jujur, performa Benakat itu sendiri sampai Agustus kemarin (2009) masih mengalami kerugian. Benakat sendiri hanya punya sumur-sumur tua. Jadi pendapatan 2010 masih diragukan." Dengan akan jatuh tempo-nya 'promissory notes' yang digunakan BIPI untuk mendanai akuisisi ELSA pada 12 Maret 2011 sebagaimana pinjaman gadai 12,55% saham ELSA-nya kepada Amadia Investment, serta tipisnya nilai kas yang hanya Rp63 miliar per akhir September 2010, pilihan yang rasional bagi BIPI untuk bersikap realistis melepas saham ELSA yang diperolehnya pada kisaran harga Rp330 berdasarkan kesepakatan transaksi 11 Pebruari 2010. Perkembangan situasi terakhir ini sangat penting untuk dicermati oleh para investor maupun peminat saham ELSA, khususnya, yang cenderung akan diuntungkan dengan sentimen positif ketimbang sebaliknya saham BIPI yang justru mengkonfirmasi kesulitan likuiditas perusahaan. Satu hal yang pasti, tidak ada pihak yang lebih tahu kondisi keuangan BIPI selain manajemen BIPI sendiri. Oleh karena itu, skenario penjualan saham simpanan ELSA ini pun sudah patut diduga telah dipersiapkan sejak 6 bulan lalu dengan beberapa calon 'strategic investors' prospektif. Hal lain yang jelas, at all cost BIPI akan melepas dengan 'profit margin' yang memadai. Pertanyaan yang tersisa, siapakah dia?... Rasa-rasanya sudah mulai disebut dan diangkat sejak beberap waktu lalu. Bisa dari salah satu kandidat lama, atau baru, atau sinerji di keduanya. Yang jelas, prospek investasi hulu migas ke depan sangat progresif dan prospektif. Meminjam pernyataan Sandiaga Uno (Saratoga Capital) saat diwawancarai 22 Maret 2010 lalu, Ya, ini kegagalan kita di awal tahun 2010, padahal sudah dipelototi 6 bulan loh. Kita sebenarnya sudah siapkan US$ 150 juta. Kita masih tertarik dengan sektor tersebut. Jasa migas itu, karena Indonesia mempunyai historis menjadi negara dengan cadangan migas terbesar di Asia Tenggara, tapi kita tidak punya perusahaan kelas dunia dibidang jasa migas. Istilahnya tukang ledengnya nggak ada, seperti PGN hanya sebagai penyedia infrastruktur, seharusnya kita punya perusahaan jasa migas yang kuat, Elnusa punya peluang itu, dengan adanya sumber dana yang kuat, visi misi dan dukungan manajemen. Ada juga sejumlah investor/trader ritel yang bertanya mengapa pergerakan saham ELSA belum terasa mengapresiasi perkembangan terakhir ini terkait rencana BIPI untuk melepas ELSA? Well, kesabaran dan keyakinan itu adalah sikap kunci investor. Jika Anda mencermati tanggal-tanggal kunci ketika akuisisi saham ELSA oleh BIPI tahun lalu, Anda juga bisa menemukan pola. 11 Pebruari 2010 (BIPI deal beli dan BIPI listed IPO besoknya)-harga ELSA close Rp325 12 Maret 2010 (BIPI transaksi penyelesaian pertama saham ELSA di pasar nego)-harga ELSA close Rp345 15 Maret 2010 (saham ELSA justru turun close Rp330 atau -4,35%) Kapan saham ELSA naik pasca deal akuisisi BIPI? 25 Maret 2010: close Rp405 13 April 2010: high Rp650 '+'
