om + tolong analisa jeroan MNCN dong kalo ada
Terimakasih

 Daud Muhamad Samsudin Hardjakusumah
[email protected]
sidaut.blogspot.com




________________________________
From: positif01 <[email protected]>
Sent: Fri, February 18, 2011 9:35:11 AM
Subject: [saham] ELSA: Lika-liku BIPI dan akhirnya...

  
Melihat ke belakang ambisi BIPI yang begitu menggebu-gebu mengakuisisi ELSA 
pada 
Pebruari tahun lalu untuk menggenapi aksi korporasi BIPI listing di BEI, benar 
sinyalemen sejumlah analis bahwa ambisi tersebut terlalu optimis. Persoalan 
bukan pada ELSA, tetapi terhadap ambisi itu yang dalam bahasa sehari-hari 
disebut "besar pasak daripada tiang". Akuisisi 37,15% saham ELSA oleh BIPI yang 
sepenuhnya didanai oleh utang berupa 'promissory notes' dari induk 
perusahaannya 
PT Indotambang Perkasa senilai Rp894,81 miliar sudah dikhawatirkan oleh banyak 
pihak.

Alasan BIPI bahwa pendapatan konsolidasi ELSA selama 2010 yang belum memenuhi 
harapan BIPI sangat tidak rasional mengingat pertimbangan mereka masuk dengan 
perspektif jangka panjang sebagaimana kompetitor terdahulunya seperti Saratoga 
Capital/Northstar Pacific, PT Pertamina (Persero), Petronas dan Nippon Oil 
Corporation. Investor institusi saat itu memahami bagaimana kendala regulasi di 
Indonesia menghambat iklim investasi hulu yang mencapai puncaknya selama 2010, 
dan ELSA sebagai pemain kunci pada jasa penunjang hulu merasakan imbasnya dari 
penundaan sejumlah proyek klien 'upstream' migas. Sejumlah hambatan iklim 
investasi ini sendiri sudah diterobos dan dicarikan jalan keluarnya oleh 
Pemerintah RI menjelang akhir 2010 disertai komitmen untuk mendorong 
peningkatan 
investasi dan 'lifting' migas mengingat permintaan migas tidak dapat lagi 
ditahan pada tahun-tahun selanjutnya di tengah terbatasnya suplai lokal.

Kasus "besar pasak daripada tiang" BIPI dalam mengakusisi ELSA ini bukan cerita 
pertama, emiten cemerlang lainnya pada sub-sektor yang sama seperti APEX yang 
diakuisisi oleh MIRA juga meninggalkan bom waktu utang yang tidak kalah 
dahsyatnya bagi MIRA. Salah satu analis pada waktu itu telah mengingatkan 
perihal ambisi BIPI yang tidak baik bagi kesehatan keuangan dirinya sendiri. 
"Terlalu percaya diri, dihubungi terpisah, Kepala Riset PT Bhakti Securities  
Edwin Sebayang menilai pembelian saham Elnusa 37,15% yang diambil alih Benakat  
cukup spekulatif. Pasalnya, sumber dana pembelian tersebut merupakan pinjaman  
yang menuntut beban pengembalian." (http://bataviase.co.id/node/129465). Jadi, 
jika 'flashback' ke belakang, sangat dipercaya pendorong akuisisi ini merupakan 
langkah yang diskenariokan semata untuk menopang laju harga listing BIPI saat 
IPO yang secara fundamental tidak "mempunyai apa-apa". Edwin juga menambahkan 
waktu itu, "Saya menilai Benakat terlalu percaya diri. Jika bicara jujur, 
performa Benakat  itu sendiri sampai Agustus kemarin (2009) masih mengalami 
kerugian. Benakat sendiri  hanya punya sumur-sumur tua. Jadi pendapatan 2010 
masih diragukan."

Dengan akan jatuh tempo-nya 'promissory notes' yang digunakan BIPI untuk 
mendanai akuisisi ELSA pada 12 Maret 2011 sebagaimana pinjaman gadai 12,55% 
saham ELSA-nya kepada Amadia Investment, serta tipisnya nilai kas yang hanya 
Rp63 miliar per akhir September 2010, pilihan yang rasional bagi BIPI untuk 
bersikap realistis melepas saham ELSA yang diperolehnya pada kisaran harga 
Rp330 
berdasarkan kesepakatan transaksi 11 Pebruari 2010.

Perkembangan situasi terakhir ini sangat penting untuk dicermati oleh para 
investor maupun peminat saham ELSA, khususnya, yang cenderung akan diuntungkan 
dengan sentimen positif ketimbang sebaliknya saham BIPI yang justru 
mengkonfirmasi kesulitan likuiditas perusahaan. Satu hal yang pasti, tidak ada 
pihak yang lebih tahu kondisi keuangan BIPI selain manajemen BIPI sendiri. Oleh 
karena itu, skenario penjualan saham simpanan ELSA ini pun sudah patut diduga 
telah dipersiapkan sejak 6 bulan lalu dengan beberapa calon 'strategic 
investors' prospektif. Hal lain yang jelas, at all cost BIPI akan melepas 
dengan 
'profit margin' yang memadai. Pertanyaan yang tersisa, siapakah dia?...

Rasa-rasanya sudah mulai disebut dan diangkat sejak beberap waktu lalu. Bisa 
dari salah satu kandidat lama, atau baru, atau sinerji di keduanya. Yang jelas, 
prospek investasi hulu migas ke depan sangat progresif dan prospektif. Meminjam 
pernyataan Sandiaga Uno (Saratoga Capital) saat diwawancarai 22 Maret 2010 lalu,

Ya, ini kegagalan kita di awal tahun 2010, padahal sudah dipelototi 6 bulan 
loh. 
Kita sebenarnya sudah siapkan US$ 150 juta.  Kita masih tertarik dengan sektor 
tersebut. Jasa migas itu, karena Indonesia mempunyai historis menjadi negara 
dengan cadangan migas terbesar di Asia Tenggara, tapi kita tidak punya
perusahaan kelas dunia dibidang jasa migas.
Istilahnya tukang ledengnya nggak ada, seperti PGN hanya sebagai penyedia 
infrastruktur, seharusnya kita punya perusahaan jasa migas yang kuat, Elnusa 
punya peluang itu, dengan adanya sumber dana yang kuat, visi misi dan dukungan 
manajemen.
Ada juga sejumlah investor/trader ritel yang bertanya mengapa pergerakan saham 
ELSA belum terasa mengapresiasi perkembangan terakhir ini terkait rencana BIPI 
untuk melepas ELSA? Well, kesabaran dan keyakinan itu adalah sikap kunci 
investor. Jika Anda mencermati tanggal-tanggal kunci ketika akuisisi saham ELSA 
oleh BIPI tahun lalu, Anda juga bisa menemukan pola.
11 Pebruari 2010 (BIPI deal beli dan BIPI listed IPO besoknya)-harga ELSA close 
Rp325
12 Maret 2010 (BIPI transaksi penyelesaian pertama saham ELSA di pasar 
nego)-harga ELSA close Rp345
15 Maret 2010 (saham ELSA justru turun close Rp330 atau -4,35%)
Kapan saham ELSA naik pasca deal akuisisi BIPI?
25 Maret 2010: close Rp405
13 April 2010: high Rp650
'+'
 


      

Kirim email ke