Yah di baca saja untuk reference... Mereka mau tulis bohong banyak jg resiko 
nya banyak.. Dan kita2 jg sudah pintar. Jgn cuman baca buy sell aja baca isi 
nya.. Angka2 laporan keuangan sebelum nya di tulis audited yah bearti dia ga 
asal2 buat2 angka nya. Paling asumsi untuk tahun ini dan ke depannya. 

Tapi di back up argumentasi nya kenapa dia bs blg naik or turun. Kalau wajar 
yah bs di percaya. Kalau dia blg produksi bakal menurun banyak tp rating buy 
yah itu kita yang sudah pinter bisa pikir sendiri. 



Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: Fabianto Wangsamulya <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 8 Mar 2011 18:49:24 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [saham] Trust No Analyst?

Rekan2 milis saham,

Umumnya anggapan orang adalah analis saham baik itu fundamental maupun teknikal 
adalah pihak-pihak yang paling mengerti kondisi pasar sehingga tidak sedikit 
juga orang yang mengandalkan analisis atau rekomendasi dari analis dalam 
memutuskan membeli atau menjual saham. Semakin besar institusi analis tersebut, 
makin besar juga kepercayaan orang, apalagi jika analisis atau rekomendasi 
tersebut dikeluarkan oleh institusi asing seperti Merrill Lynch, Goldman Sachs, 
Citigroup, Morgan Stanley, dll.

Tapi saya baca-baca informasi dari buku dan internet, ternyata institusi besar 
juga tidak luput dari masalah yaitu bisa ada oknum yang dengan sengaja 
menyesatkan investor. Institusi asing yang saya tulis di atas juga rupanya 
tidak luput dari hal tersebut. Silakan lihat di wikipedia untuk contoh beberapa 
hal yang menjadi kontroversial berhubungan dengan penyesatan informasi.

Kalau dalam buku Freakonomics, penulisnya berpendapat bahwa analis memang punya 
kecenderungan untuk mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri karena 
keuntungan dalam melakukan "kecurangan" lebih besar daripada keuntungannya 
dalam misalnya komisinya. Istilah tradingnya rewardnya lebih besar daripada 
risknya.

Pertanyaannya : Apa masih layak kita mempercayai analis?
Saya berpendapat lebih baik kita belajar sendiri analisis teknikal dan atau 
fundamental untuk memutuskan membeli atau menjual saham karena analis tidak 
mendapat apa-apa jika kita untung ataupun menanggung kerugian apa-apa jika kita 
rugi. Ada yang berpendapat bahwa analisis dan rekomendasi bisa menjadi bahan 
masukan tapi jangan diterima sepenuhnya. Saya bisa setuju, paling tidak kita 
bisa melihat sudut pandang orang lain walau ada bahayanya yaitu bias atau 
anggapan bahwa analis institusi besar lebih tahu daripada kita.

Semoga memberi pencerahan sehingga kita tidak mudah diombang-ambingkan berita, 
rumor, analis, dan rekomendasi dari berbagai pihak yang seringkali bertentangan 
satu sama lain.

---

Fabianto


      

Kirim email ke