Di milis ini pernah dibahas mengenai average up vs average down dan sebagian 
besar berpandangan bahwa average up lebih baik daripada average down. Untuk 
trader mungkin memang average up lebih baik daripada average down, tapi bagi 
investor saya berpendapat average down lebih baik.

Bagi investor faktor terpenting dalam berinvestasi saham adalah valuasi dan 
faktor resiko dalam pengelolaan portfolio, terutama jika dananya besar. Bagi 
saya tidak bijak bagi seorang investor untuk menyimpan semua investasi dalam 
satu tempat saja (misalnya saham). Investor yang baik akan mengelola 
portfolionya dalam berbagai instrumen dari high risk sampai low risk (mis 
saham, obligasi, deposito).

Nah bagi investor seperti inilah kesempatan rebalancing portfolio tiba ketika 
harga saham naik dan turun dengan menerapkan strategi kontrarian alias melawan 
tren. Dalam stretagi ini ketika harga saham naik, investor menjual sebagian 
sahamnya. Sebaliknya ketika harga turun, investor membeli saham.

Pertanyaan yang sering diajukan:
Dari mana dana membeli saham ketika harga sedang turun? Karena ada portfolio 
lain selain saham, maka dari situlah dana untuk membeli saham, misalnya dari 
obligasi atau deposito yang dicairkan sebagian.

Pertanyaan berikutnya:
Bagaimana cara melakukan average down?

Ada 2 contoh yang saya pikir mudah untuk dilakukan.

Contoh 1:
Portfolio dibagi menjadi 2 bagian, mis saham dan cash 1:1. Jika nilai saham 
turun 10%, dilakukan pembelian saham sehingga perbandingan saham dan cash 
menjadi 1:1 kembali. Demikian juga jika nilai saham naik 10%, dilakukan 
penjualan saham sehingga perbandingan menjadi 1:1.

Contoh 2:
Portfolio dibagi 5 bagian, saham dan cash 1:4. Jika harga saham turun 20% dari 
harga awal, beli saham dari 1 bagian cash. Jika harga saham turun lagi sampai 
40% dari harga awal, beli saham dari 1 bagian cash lagi. Demikian juga jika 
harga naik 20% dari target, jual 20% saham, dst.

Perbandingan dalam contoh bisa dimodifikasi dan mungkin bisa menjadi bahan 
penelitian mengenai pengelolaan 
portfolio (jika sudah ada, bisa tolong dishare). Saya pribadi gampangnya 
menggunakan cara pada contoh 1 (dan pernah ditanyakan kenapa perbandingannya 
1:1, jawabannya agar mudah hitungnya saja).

Semoga menambah wawasan kita bersama.

---

Fabianto


      

Kirim email ke