terima kasih untuk sharingnya, saya ingin pendapat bapak  tentang cut loss
dan average down, misalkan ada berita yang menyebabkan atau diprediksi akan
menyebabkan market bearish, dan prediksi kita juga mengatakan demikian, baik
mana antara cut loss dengan metode cut loss fast dan kemudian tampung
dibawah dengan lot yang sama atau dengan average down? perbedaannya adalah
besarnya modal, kalau average down butuh dana tambahan, kalau cut loss fast
tidak perlu dana tambahan, bila tidak memperhatikan besarnya modal, mana
yang lebih baik kita lakukan?


2011/3/17 Fabianto Wangsamulya <[email protected]>

>
>
> Di milis ini pernah dibahas mengenai average up vs average down dan
> sebagian besar berpandangan bahwa average up lebih baik daripada average
> down. Untuk trader mungkin memang average up lebih baik daripada average
> down, tapi bagi investor saya berpendapat average down lebih baik.
>
> Bagi investor faktor terpenting dalam berinvestasi saham adalah valuasi dan
> faktor resiko dalam pengelolaan portfolio, terutama jika dananya besar. Bagi
> saya tidak bijak bagi seorang investor untuk menyimpan semua investasi dalam
> satu tempat saja (misalnya saham). Investor yang baik akan mengelola
> portfolionya dalam berbagai instrumen dari high risk sampai low risk (mis
> saham, obligasi, deposito).
>
> Nah bagi investor seperti inilah kesempatan rebalancing portfolio tiba
> ketika harga saham naik dan turun dengan menerapkan strategi kontrarian
> alias melawan tren. Dalam stretagi ini ketika harga saham naik, investor
> menjual sebagian sahamnya. Sebaliknya ketika harga turun, investor membeli
> saham.
>
> Pertanyaan yang sering diajukan:
> Dari mana dana membeli saham ketika harga sedang turun? Karena ada
> portfolio lain selain saham, maka dari situlah dana untuk membeli saham,
> misalnya dari obligasi atau deposito yang dicairkan sebagian.
>
> Pertanyaan berikutnya:
> Bagaimana cara melakukan average down?
>
> Ada 2 contoh yang saya pikir mudah untuk dilakukan.
>
> Contoh 1:
> Portfolio dibagi menjadi 2 bagian, mis saham dan cash 1:1. Jika nilai saham
> turun 10%, dilakukan pembelian saham sehingga perbandingan saham dan cash
> menjadi 1:1 kembali. Demikian juga jika nilai saham naik 10%, dilakukan
> penjualan saham sehingga perbandingan menjadi 1:1.
>
> Contoh 2:
> Portfolio dibagi 5 bagian, saham dan cash 1:4. Jika harga saham turun 20%
> dari harga awal, beli saham dari 1 bagian cash. Jika harga saham turun lagi
> sampai 40% dari harga awal, beli saham dari 1 bagian cash lagi. Demikian
> juga jika harga naik 20% dari target, jual 20% saham, dst.
>
> Perbandingan dalam contoh bisa dimodifikasi dan mungkin bisa menjadi bahan
> penelitian mengenai pengelolaan portfolio (jika sudah ada, bisa tolong
> dishare). Saya pribadi gampangnya menggunakan cara pada contoh 1 (dan pernah
> ditanyakan kenapa perbandingannya 1:1, jawabannya agar mudah hitungnya
> saja).
>
> Semoga menambah wawasan kita bersama.
>
> ---
> Fabianto
>  
>

Kirim email ke