Nice sharing Ɓя̲̅ơ◦°˚˚°◦õ Sangat mencerahkan trutama bagi saya yang masih newbie ini.
Keep posting and good luck Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -----Original Message----- From: Fabianto Wangsamulya <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Wed, 16 Mar 2011 19:32:55 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [saham] Average Down (Kontrarian) Di milis ini pernah dibahas mengenai average up vs average down dan sebagian besar berpandangan bahwa average up lebih baik daripada average down. Untuk trader mungkin memang average up lebih baik daripada average down, tapi bagi investor saya berpendapat average down lebih baik. Bagi investor faktor terpenting dalam berinvestasi saham adalah valuasi dan faktor resiko dalam pengelolaan portfolio, terutama jika dananya besar. Bagi saya tidak bijak bagi seorang investor untuk menyimpan semua investasi dalam satu tempat saja (misalnya saham). Investor yang baik akan mengelola portfolionya dalam berbagai instrumen dari high risk sampai low risk (mis saham, obligasi, deposito). Nah bagi investor seperti inilah kesempatan rebalancing portfolio tiba ketika harga saham naik dan turun dengan menerapkan strategi kontrarian alias melawan tren. Dalam stretagi ini ketika harga saham naik, investor menjual sebagian sahamnya. Sebaliknya ketika harga turun, investor membeli saham. Pertanyaan yang sering diajukan: Dari mana dana membeli saham ketika harga sedang turun? Karena ada portfolio lain selain saham, maka dari situlah dana untuk membeli saham, misalnya dari obligasi atau deposito yang dicairkan sebagian. Pertanyaan berikutnya: Bagaimana cara melakukan average down? Ada 2 contoh yang saya pikir mudah untuk dilakukan. Contoh 1: Portfolio dibagi menjadi 2 bagian, mis saham dan cash 1:1. Jika nilai saham turun 10%, dilakukan pembelian saham sehingga perbandingan saham dan cash menjadi 1:1 kembali. Demikian juga jika nilai saham naik 10%, dilakukan penjualan saham sehingga perbandingan menjadi 1:1. Contoh 2: Portfolio dibagi 5 bagian, saham dan cash 1:4. Jika harga saham turun 20% dari harga awal, beli saham dari 1 bagian cash. Jika harga saham turun lagi sampai 40% dari harga awal, beli saham dari 1 bagian cash lagi. Demikian juga jika harga naik 20% dari target, jual 20% saham, dst. Perbandingan dalam contoh bisa dimodifikasi dan mungkin bisa menjadi bahan penelitian mengenai pengelolaan portfolio (jika sudah ada, bisa tolong dishare). Saya pribadi gampangnya menggunakan cara pada contoh 1 (dan pernah ditanyakan kenapa perbandingannya 1:1, jawabannya agar mudah hitungnya saja). Semoga menambah wawasan kita bersama. --- Fabianto
