Ga sepakat deh itu judi. Kalo judi harusnya porto saya kadang positif kadang 
negatif kan? Tp selama ini porto saya positif2 aja tuh (ga bermaksud 
membusungkan dada ya). Kalopun negatif gara2 terpaksa CL, ketutup kok sama 
untungnya

Sy belum 3 bulan lo main saham

Kalo judi kan harusnya - ya minimal 50:50 lah ya untung sama ruginya


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Sat, 9 Apr 2011 16:02:04 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Re: Saham (was Re: Congrats! Yang Sudah Take Profit ELSA)

Kalau masih  ragu2 judi atau nggak , sy sarankan stop trading/main saham. Jual 
semua porto yg tersisa..... Jd gak pusing. 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Sat, 9 Apr 2011 12:05:08 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Re: Saham (was Re: Congrats! Yang Sudah Take Profit ELSA)

Sekedar ikut nimbrung, menurut saya halal tdknya sesuatu kdg selalu ada 
perdebatannya..jgn saham yg dikatakan ada unsur judinya, dl facebook aja diblg 
haram oleh sebagian org..nah disaham jg begitu, sehrsnya kita sebagai yg 
berpandangan luas, anggapan bbrp pihak antara pro dan kontra hrs kita hargai, 
karna msg2 ada argumen menurutnya sendiri..klo ada yg menggaanggap saham itu ga 
halal, ​чªªªªªªªª uda jgn invest dishm aja, gampang kan..polemik dgn mengatas 
namakan halal/tdk halal ga akan ada hbs nya..karna yg namanya manusia rata2 
punya pemikirannya sendiri..so halal/tdk tergtg pemikiran msg2 aja 
deh..ĸέĸέĸέĸέĸέĸέĸέ :x :x :x  
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 9 Apr 2011 18:48:33 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Re: Saham (was Re: Congrats! Yang Sudah Take Profit ELSA)

Jangan lupa Pak Oguds, itu menurut pemahaman anda yg belum tentu sama dengan
pemahama orang lain. Ketika kita memaksakan pemahaman kita untuk dijadikan
standar bagi orang lain apalagi sampai menilai negatif orang lain, itulah yg
menurut saya jadi tindakan kurang bijaksana.

Saya mengkritisi komentar Pak Oguds yg mengatakan saya menjawab asal2an
hanya karena tidak memenuhi pikirian/harapan anda yang tidak disampaikan di
milis ini. Padahal sudah saya tunjukan saya telah menjawab pertanyaan yg
khusus diajukan ke saya untuk dimintai pendapatnya. Pak Angelo yg saya ingat
waktu itu meminta pandangan dari saya soal pertanyaan judi atau tidak
judinya saham, bukan soal halal atau tidak halalnya saham secara ajaran
agama Islam.

Orang sering lupa, apa yang mereka anggap pikir benar, lalu harus berlaku
juga bagi orang lain. Apa yang dia pikirkan seharusnya begini, maka harus
begitu jugalah bagi orang lain. Padahal, setiap orang itu bisa punya
pandangan yg berbeda, bisa punya standar yang berbeda, bisa punya sikap
berbeda, bisa punya aturan yang berbeda bagi dirinya masing2. Memaksakan
pikiran, standar, pandangan kita untuk dijadikan ke standar orang lain,
inilah yg menurut saya jadi tidak bijaksana, inilah yg menurut saya akar
dari pada konflik yang suka terjadi.

Sekedar catatan, kata konflik disini bukan monopolik konflik agama, tapi
bersifat umum. Misalkan konflik suami istri sering terjadi pada umumnya
karena masing2 pihak mencoba menaruh standar dirinya sendiri akan sesuatu
(bisa berupa pandangan, sikap, perkataan, dll) agar dilakukan oleh istri,
sementara istri bisa punya standar yang berbeda.

Di kehidupan perkantoran, bisnis, dan lainnya, juga demikian. Konflik
terjadi ketika salah satu pihak mencoba menerapkan standar pihaknya untuk
dilakukan/dijalankan pihak lain yg bisa saja tidak bisa menerima karena
mereka memiliki standar yang berbeda/tidak sama atau bahkan bertentangan.

Juga di saham, yang kita tahu bersama barusan jadi perbincangan. Soal
standar penentuan memakai FA atau TA atau Hoki atau apalah untuk jadi alasan
seseorang memutuskan membeli atau menjual saham. Konflik terjadi ketika
salah satu pihak memaksakan bahwa standar dirinyalah yg benar dan harus
dijalankan oleh pihak lain. Sementara pihak lain bisa punya standar yang
berbeda dalam memutuskan membeli atau menjual.

Pemaksaan2 kehendak akan standar pribadi untuk dijalankan oleh pihak lain,
mungkin perlu jadi bahan perenungan bersama bila kita ingin melihat dari
mana sumber konflik itu berasal. Sekedar pemikiran saja dari saya :)

catatan:
pendapat saya ini pun, bisa2 juga dikonflikan lagi kalau mau hehehee :)


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

2011/4/9 Oguds <[email protected]>

> Saturday, April 9, 2011, 5:49:08 PM, you wrote:
>
> IAN> Semoga sekarang lebih jelas suduh melihat permasalahannya, dan
> IAN> tidak gampangan lagi melabelkan jawaban orang itu asal2an,
> IAN> padahal hanya karena kita kurang paham sudut pandang pemberi
> IAN> jawaban. Walaupun sebenarnya pemberi jawaban sudah menjawab
> IAN> sesuai dengan bunyi pertanyaan awal yang diajukan
>
> Saya hanya khawatir jawaban 'terserah masing2 orang' itu jawaban yg
> menyesatkan. Tidak bisa definisi judi, halal atau haramnya sesuatu
> diserahkan pada masing2 individu. Itu intinya. Saya menyarankan pada
> masing2 kita, mencari pengertian dan definisi yg lebih sahih via
> Google, karena tidak ada pakar yg berkompeten untuk menjawab di sini.
> Lebih baik lagi bertanya secara interaktif pada pihak2 terkait, agar
> didapat kesalingpahaman yg memadai dan menguntungkan semua pihak.
>
> --
> Tertanda,
> Oguds [960000031]
>
>
>
> ------------------------------------
>
> Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.
>
> SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN
> MILIS. SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU MENJUAL
> EFEK. SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK
> INVESTASI ATAU PEMILIK MODAL.
>
> [email protected] untuk berhenti dari milis saham
> [email protected] untuk bergabung ke milis saham
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>

Kirim email ke