SALAM SAHAM Bila Emiten Bangkrut, Pertama, kreditor separatis. Artinya, kreditor yang memegang hak untuk melakukan eksekusi terhadap jaminan. Misalnya, baik yang menerima jaminan dari debitor berupa tanah yang dipasangkan hak tanggungan. Kreditor ini bias melakukan eksekusi secara terpisah, namun mereka terlebih dahulu mendaftarkan tagihan-nya kepada curator. "Tagihan kreditor separatis ini harus didahulukan." Kedua, kreditor yang memiliki hak preference (hak istimewa). Tagihan tersebut harus dapat dibuktikan. Di sini termasuk tagihan pajak, tagihan cessie, pinjam meminjam, gadai dan tagihan lain yang dapat dibuktikan. Ketiga, kreditor konkuren. Artinya kreditor yang memiliki tagihan biasa yang tidak disertai jaminan seperti jual-beli biasa, angsuran utang bunga dan lain-lain. Dalam pembagian bundle pailit, katanya, kreditor separatis didahulukan, kemudian pembagian bundle pailit baru masuk ke kreditor yang memiliki hak preference. Pembagian bundle pailit untuk kreditor hak preference dilakukan secara pro rata. Bila masih ada bundle pailit yang tersisa, maka pembagian itu baru masuk ke kreditor konkuren. Lalu bagaimana nasib pemegang saham perusahaan public? "Mereka (Investor) tidak akan mendapatkan apa-apa. Inilah risiko yang harus dihadapi oleh investor di pasar modal," SALAM YAN WONG
Hey --- Pada Ming, 29/5/11, ladyfabia <[email protected]> menulis: Dari: ladyfabia <[email protected]> Judul: [saham] Re: Pertanyaan tentang saham.. Kepada: [email protected] Tanggal: Minggu, 29 Mei, 2011, 10:41 PM @Pak Haki: Gak juga lah Pak. Saya ambil contoh dari tahun 1996 bursa sudah beberapa kali crash. 3 kali crash besarnya di tahun 1997-1998, 2001-2002 dan 2007-2008. Tetap saja return ASII lebih besar dibanding properti. Tapi kalau salah pegang saham ya bisa lain ceritanya, mis TLKM atau malah saham perusahaan yang sekarang sudah bangkrut. @Pak Panda: Sejak awal kan niatnya invest jangka panjang. Saya asumsikan jangka panjang itu > 5 tahun sehingga saya ambil contoh rumah ayah saya yang dibeli tahun 1996 (sudah 15 tahun). Seperti yang Bang IAN pernah tulis, mungkin kita sering berpikir bahwa properti lebih aman karena ada wujudnya yang bisa kita lihat dan kuasai yaitu tanah dan bangunan, sedangkan saham kita anggap hanyalah sebuah kode atau sertifikat. Padahal saham itu mewakili perusahaan sehingga dengan mis punya saham ASII 1 lot maka kita bisa lihat bahwa sekian persen aset ASII pun punya kita (tanahnya, gedungnya, perusahaannya, mesin-mesinnya, perkebunannya, mobil-mobilnya, dll). Saya pernah komentar ke istri saya bahwa saya punya hak jalan tol sekian meter ketika saya sedang pegang saham pengelola jalan tol :D --- In [email protected], "panda" <panda.kuswadi@...> wrote: > > Betul pak, yang harus digaris bawahi memang range waktunya, di saham memang > return bisa sangat tinggi tapi resiko nya juga sangat tinggi, hukum alam, > jangan dilihat manis terus, banyak investor terjebak. > Akhirnya banyak yang nyesel juga ya, mungkin data statistik mengenai trader > yang sukses saya rasa jauh lebih kecil dibanding yg tidak sukses > Sedang property lebih aman, mungkin pertimbangan tujuan awal paling > menentukan invest apa yang paling cocok > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung > Teruuusss...! > > -----Original Message----- > From: "hakitrader" <hakitrader@...> > Sender: [email protected] > Date: Sun, 29 May 2011 20:43:32 > To: <[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: Re: [saham] Re: Pertanyaan tentang saham.. > > Masalahnya Return saham belum tentu bisa >100% kalau masuk bursanya sebelum > crash th 2008, Kalau masuknya setelah crash 2008 maka tentunya lebih mudah > untuk mendapat return > 100%, betul tidak? > http://www.facebook.com/hakie1 > http://www.tviexpress.com/andyelia1
