Betul. Bangsa Indonesia harus optimistis. Jangan percaya pada analis asing
begitu saja. Apalagi asumsi ekonomi makro. Terlalu sulit untuk
mengkuantifikasi secara tepat bagi besaran-besaran makro. Perlu diketahui
juga bahwa analisis-analisis tersebut juga syarat dengan kepentingan
institusional, dalam hal ini Goldman Sachs. So, be careful and make your own
analysis.

Cheers.

2011/5/31 sahamvalas . <[email protected]>

>
>
> Goldman Sachs Meleset Prediksi Ekonomi RI
>
>   Prediksi lembaga keuangan bergengsi Goldman Sachs soal ekonomi Indonesia
> dinilai meleset karena terlalu konservatif.
>
> Yang terjadi, perkembangan ekonomi Indonesia melebihi perkiraan awal
> Goldman Sachs.
>
> Goldmans Sachs dalam laporan "Next11: Not Just an Acronyim" yang dirilis
> pada 2007 menyebutkan Produk Domestik Bruto ekonomi Indonesia diperkirakan
> akan mencapai US$419 miliar pada 2010. "Faktanya, sekarang PDB Indonesia
> sudah di atas US$700 miliar," kata ekonom Cyrillus Harinowo kepada VIVAnews
> di Jakarta, 3 November 2010.
>
> Ini sama dengan prediksi Goldman Sachs soal ekonomi China. Dalam laporan
> "Dreaming with BRICs: The Path to 2050" yang dipublikasikan 2003, lembaga
> keuangan ternama ini semula memperkirakan ekonomi China akan mengalahkan
> Jerman dalam beberapa tahun ke depan, Jepang pada 2015 dan Amerika Serikat
> pada 2041.
>
> Faktanya, ekonomi China mengalahkan Jerman pada 2007 dan menyisihkan Jepang
> pada Juli 2010. Sekarang, Goldman Sachs memperkirakan ekonomi China akan
> menggeser Amerika Serikat pada 2027.
>
> Goldman Sachs adalah konsultan keuangan yang mempopulerkan BRIC, akronim
> yang merujuk pada empat negara calon kekuatan ekonomi baru dunia pada 2020.
> BRIC kepanjangan dari Brazil, Rusia, India dan China. Total produk domestik
> bruto (PDB) BRIC diperkirakan mencapai US$30,2 triliun atau melampaui PDB
> tujuh negara industri maju (G-7) pada 2027. Bahkan, BRIC akan menjadi
> kekuatan ekonomi paling dominan pada 2050.
>
> Kemudian, Goldman Sachs mempopulerkan potensi kekuatan ekonomi baru
> lainnya, yang disebutnya dengan istilah Next11. Ini mencakup Indonesia,
> Turki, Korea Selatan, Meksiko, Iran, Nigeria, Mesir, Filipina, Pakistan,
> Vietnam dan Bangladesh. Dalam prediksinya, Goldman Sachs memperkirakan
> Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor tujuh pada 2050.
>
> Namun, melihat perkembangan yang terjadi, Harinowo jauh lebih optimistis
> dari perkiraan Goldman Sachs. "Buktinya, prediksi Goldman Sachs dikalahkan
> oleh realitas yang lebih baik," kata dia. "Jadi, bisa saja nanti Goldman
> Sachs akan merevisi lagi proyeksi ekonomi tentang Indonesia."
>
> Saat ini, kata dia, dari sisi volume ekonomi dengan PDB US$700 miliar,
> Indonesia menempati urutan ke-18 di dunia. Tahun depan, diperkirakan
> Indonesia akan melewati Turki di posisi ke-17.
>
> Dengan PDB semakin besar, berarti pendapatan per kapita penduduk Indonesia
> juga semakin besar.
>
> Saat ini saja, pendapatan per kapita Indonesia sudah menembus US$3000.
> "Karena itu, bangsa Indonesia harus optimistis menatap kemakmuran yang akan
> lebih baik di masa mendatang," kata mantan Deputi Gubernur BI ini
>  
>

Kirim email ke