Bank Dunia Minta RI Naikkan Harga BBM

'+'

http://www.hariansumutpos.com/2011/06/9735/bank-dunia-minta-ri-naikkan-harga-bbm.htm

Besarnya subsidi BBM yang dikeluarkan oleh pemerintah dinilai tidak rasional
dan salah sasaran. Bank Dunia kembali meminta pemerintah Indonesia untuk
segera menaikkan harga BBM subsidi ke harga pasar.

“Secara konkret langkah yang harus diambil adalah menaikkan harga BBM sesuai
dengan harga pasar,” kata Ekonom Senior Bank Dunia untuk Indonesia Shubham
Chaudhuri dalam diskusi perkembangan triwulan perekonomian Indonesia, di
Jakarta, Selasa (28/6).

Tingginya harga minyak dunia yang menembus lebih dari US$100 per barel sudah
seharusnya menjadi sinyal bagi pemerintah Indonesia untuk menaikkan harga
BBM bersubsidinya.

“Karena dengan meningkatkan (harga BBM) itu, maka subsidi BBM bisa beralih
ke infrastruktur dan subsidi langsung masyarakat miskin. Infrastruktur pun
khususnya public transportation bisa ditingkatkan untuk mengatasi macet,”
katanya.

Kalaupun tidak menaikkan harga BBM subsidi, pemerintah bisa mereformasi
kebijakan subsidi BBM yang sekarang dinilai salah sasaran. “Tapi sampai saat
ini belum ada langkah konkret dari pemerintah soal subsidi. Karena subsidi
BBM tidak menjamin pengendara mobil tidak menggunakan BBM subsidi. Tidak ada
kepastian,” jelasnya.

Sebelumnya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan tidak mempunyai
rencana sama sekali untuk menaikkan harga BBM subsidi. Di APBN 2011, jumlah
subsidi BBM mencapai Rp95,9 triliun. Subsidi ini merupakan bagian dari
subsidi energi yang jumlahnya mencapai Rp136,6 triliun.

Jika tidak ada kebijakan apapun soal subsidi dari pemerintah, maka subsidi
BBM bisa melonjak menjadi Rp125,5 triliun di 2011 karena tingginya harga
minyak dunia.

Secara terpisah, Pengamat Perminyakan, Pri Agung Rakhmanto, mengatakan jika
pemerintah tidak mau menaikkan harga maka pemerintah harus bersiap menambah
anggaran untuk BBM Bersubsidi yang kuotanya terancam jebol di akhir tahun.
“Kita akan lihat ke situ, jika tidak dinaikkan (harga BBM Bersubsidi), maka
pilihannya adalah menambah anggaran. Jika menambah anggaran, berarti scara
keseluruhan defisit APBN akan bertambah,” katanya.
Namun, menurutnya hal ini bukanlah hal yang perlu dijadikan solusi. Apalagi,
jika penambahan anggaran untuk BBM Bersubsidi nantinya diperoleh dari utang.
“Tidak boleh senang, jika nutupnya pakai utang. Kalau memang pemerintah
tidak mau menaikkan, tapi tetap dilakukan penghematan anggaran itu lebih
baik,” pungkas Pri Agung.

Kirim email ke