*Sengaja saya bold dan perbesar :D

JAKARTA, KOMPAS.com *— Pengamat ekonomi, Faisal Basri, meyakini bahwa
pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tidak dalam kondisi *bubble*. Namun
sayang, kondisi ini lebih banyak dinikmati investor asing.

"Perekonomian Indonesia saat ini tumbuh secara alami dan tidak ada indikasi
*bubble*. Kalau *bubble* itu perkembangan ekonominya jauh melampaui
penguatan fondasi. Kalau di Indonesia tidak seperti itu," ujar dia di
sela-sela diskusi "Market Outlook Kuartal Tiga 2011" di Jakarta, Senin
(18/7/2011) malam.

Ia mengatakan, investor yang ingin menempatkan dananya pada suatu negara
juga akan berhati-hati. Mereka akan melihat sejauh mana pertumbuhan negara
yang dituju. "Investor juga tidak bodoh untuk menempatkan dananya. Kondisi
yang terjadi saat ini, Indonesia mempunyai pertumbuhan yang positif,"
katanya.

Ditambahkan, masuknya dana asing saat ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi
dalam negeri yang baik. Salah satunya dapat dilihat dari pertumbuhan pasar
modal. "Jadi, kalau saya punya uang, lebih baik saya menempatkan dana
semuanya pada saham. Pada negara yang positif pertumbuhannya, ditinggal
tidur saja saham akan naik," kata dia.

Namun, kata dia, sangat disayangkan bahwa positifnya pasar modal Indonesia
saat ini, sebanyak 70 persen dinikmati pelaku asing. "Masalahnya adalah
penikmat-penikmat membaiknya saham di Indonesia, 70 persen adalah orang
asing karena *investor domestiknya ditakut-takuti isu bubble*," ujar dia.

Ia menambahkan, besaran pendapatan per kapita masyarakat Indonesia yang di
atas 3.000 dollar AS juga merefleksikan kemajuan pembangunan suatu negara.
Dalam empat tahun ke depan, lanjut dia, ekonomi Indonesia masih akan terus
tumbuh. Diprediksi pula bahwa total dana asing yang masuk (*capital inflow*)
hingga akhir tahun 2011 dapat mencapai 25 miliar dollar AS sehingga dapat
menambah devisa negara.

"Empat tahun ke depan ekonomi Indonesia akan terus ekspansi. Total *capital
inflow *bisa mencapai 25 miliar dollar AS sehingga dapat membuat devisa kita
bertambah," kata pengamat dari Universitas Indonesia itu.

Ia menambahkan, kuatnya cadangan devisa dalam negeri akan menopang
stabilitas kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar. "Derasnya *capital
inflow *akan membuat cadangan devisa kita kuat. Dengan demikian, hal itu
akan membuat penguatan rupiah terhadap dollar AS," ucapnya.
Sumber:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/07/19/06111940/Faisal.Basri.Ekonomi.Indonesia.Tidak.Bubble

Kirim email ke