HARUSKAH KITA TELAN MENTAH2 SUATU ANALISA DARI SUATU LEMBAGA PEMERINGKAT? 
APAKAH TIDAK ADA UNSUR POLITIS DI DALAMNYA? AKANKAH KITA HARUS PANIC SELLING 
MANAKALA SUATU LEMBAGA PEMERINGKAT MENURUNKAN RATING NILAI INVESTASI DI 
INDONESIA DARI 12% MENJADI 1%?  COBA INI BISA MENJADI BAHAN RENUNGAN:
Lembaga pemeringkat utang internasional dituding sarat konflik kepentingan, 
sebab menerima bayaran dari bank atau perusahaan yang seharusnya mereka nilai 
secara objektif.

Serangan tajam tersebut dilancarkan bahkan oleh mantan Presiden Moody`s, salah 
satu dari tiga lembaga pemeringkat berpengaruh, William Harrington. "Konflik 
kepentingan menonjol pada semua level jabatan, dari analis dan eksekutif dari 
korporasi Moody`s," tegas Harrington dalam berkas keteranganya kepada Komisi 
Sekuritas dan Saham Amerika Serikat (SEC), yang kini tengah menyelidiki 
kemungkinan penyelewengan lembaga pemeringkat dalam menilai hipotek properti 
sehingga menyebabkan krisis finansial di AS pada 2008.

Menurut Harrington, seperti dikutip guardian.co.uk, Selasa (23/8), pejabat 
senior Moody`s mengintervensi penilaian yang dilakukan para analis demi 
kepentingan bisnis perusahaan. Sehingga objektivitas pemeringkatan sebenarnya 
bisa diragukan.

Seperti diberitakan, terkait krisis di Eropa dan Amerika Serikat, lembaga 
pemeringkat dinilai para pejabat negara yang dilanda krisis telah memperkeruh 
keadaan, yakni lewat penilaian sewenang-wenang terhadap peringkat utang negara 
mereka. Terakhir pada awal bulan ini, Standard & Poor`s - bersama Fitch dan 
Moody`s menjadi lembaga pemeringkat berpengaruh - menurunkan peringkat utang AS 
untuk pertama kalinya dalam sejarah, dari AAA menjadi AA Plus.
Harrington, yang bekerja di Moody`s selama 11 tahun hingga mengundurkan diri 
tahun lalu, menyatakan bahwa lembaga pemeringkat sarat dengan konflik 
kepentingan karena mereka dibayar oleh bank atau perusahaan yang mereka nilai.
Ditambahkannya, manajemen Moody`s melakukan intimidasi kepada para analis untuk 
memastikan penilaian menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan keinginan 
perusahaan atau bank yang menjadi klien mereka. "Departemen Kepatuhan Moody`s 
aktif melecehkan dan menekan analis yang sering disebut "merepotkan"," tandas 
Harrington.
Sebelumnya, pemenang Nobel ekonomi, Joseph Stiglitz, mengidentifikasi lembaga 
pemeringkat sebagai salah satu "kunci penyebab" dari krisis keuangan global. 
"Mereka adalah pihak yang merekayasa sedemikian rupa sehingga sekuritas dengan 
nilai F bisa menjadi A. Bank-bank tidak bisa melakukan apa yang mereka inginkan 
tanpa campur tangan lembaga pemeringkat," ujar Stiglitz.

 


________________________________



________________________________

 
Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use
. 



 

Kirim email ke