Ada bagusnya kita membaca buku "Bank Kaum Miskin" karangan dosen ekonomi sebuah 
universitas di Bangladesh, pemenang Nobel perdamaian, Prof. Muhammad Yusuf.

Di buku itu Yusuf mengatakan salahsatu sebab utama kenapa org miskin tetap 
miskin adl mereka tidak "bank able", dlm artian bank tdk mau meminjamkan uang 
kpd mereka krn salahsatunya mereka tdk mempunyai agunan.

Yusuf mendatangi pejabat salah satu bank di negaranya dan mengatakan mereka tdk 
akan default (kredit macet) krn mereka mempunyai agunan yg paling berharga, 
hidup mereka.

Yusuf berargumen org2 miskin itu tau bahwa bila mereka tdk membayar cicilan, 
maka mereka tdk akan mendapat pinjaman lagi, yg berarti mereka menghentikan 
pasokan uang yg dapat menyediakan makanan mereka.

Yusuf kemudian membentuk model peminjaman kpd org miskin yang kemudian dikenal 
sebagai Grameen Bank, sebuah nama yg sekarang sangat disegani oleh dunia dlm 
hal pengentasan kemiskinan.

Saat ini Yusuf mengembangkan ide Social Entrepreneur. Suatu ide dimana 
perusahaan mencetak laba utk kemudian digunakan utk kepentingan pengentasan 
kemiskinan. Idenya ini disambut baik oleh salahsatu nama besar dlm dunia usaha, 
Danone.

Pemilik Danone mengundang Yusuf ke kantor pusatnya dan langsung menjabat tangan 
Yusuf tanpa bertanya apa2, ketika Yusuf bertanya kenapa dia langsung menjabat 
tangannya pemilik Danone tsb mengatakan "aku pikir ini cara kalian melakukan 
bisnis, dgn kepercayaan.". Dan terbentuklah Grameen Danone.

Ini lah yg saya maksudkan dlm post sy bahwa sebaiknya kita menyalakan lilin 
daripada mengutuk kegelapan.

Yusuf tdk mengutuk kegelapan, dia tau kegelapan itu ada, kemudian dia mencari 
cara bagaimana dia dapat menyalakan lilin.

Hal ini dilakukan oleh banyak sekali org2 di sekeliling kita.

Ada saja sekelompok org yg menyalakan lilin utk mengusir kegelapan di negeri 
ini.

Ada yg mengelola sekolah gratis bagi anak2 jalanan. Ada yg membentuk komunitas 
musisi jalanan. Ada yg menjadi orang tua asuh bagi anak2 yg tdk mampu sekolah. 
Ada yg mendirikan yayasan utk pemberdayaan masy miskin. Ada yg menjadi badut 
dan keliling dr kampung ke kampung menghibur anak2 tdk mampu. Dan sangat amat 
banyak lagi org2 seperti ini di sekeliling kita. Kita tdk menyadarinya saja. 
Meskipun mereka bekerja dibawah radar, mereka ada, bekerja keras setiap harinya 
berusaha menyalakan lilin dan mencoba mejaga lilin itu tetap menyala (semoga 
mereka tetap diberi kekuatan krn Tuhan beserta para malaikatNya menyaksikan apa 
yg mereka perbuat).

Indonesia adl negara korup (tdk utuh sebagaimana harusnya). Saya sangat 
menyadari itu.

Tp saya juga percaya bahwa segelap2nya suatu tempat, bila kita menyalakan cukup 
banyak lilin bersama-sama dgn org2 yg saya sebutkan di atas, maka tempat tsb 
akan menjadi terang benderang.

Daripada kita mengajak org lain mengutuk kegelapan, lebih baik kita mengajak 
org lain menyalakan lilin.


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Sun, 28 Aug 2011 02:26:03 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] HS Dillon: Jangan Percaya Bank Dunia dan IMF Lagi


Jadi inget komentar salah satu pakar ekonomi kerakyatan dari UGM yaitu: Prof. 
Mubyarto bahwa kemisikinan di Indonesia itu kemiskinan struktural. Artinya kalo 
Bapak nya miskin, anak nya udah bisa dipastikan miskin juga. Paling banter 
setingkat lebih baik aja dibanding Bapak nya. Contoh:

1. Kalo Bapak tukang becak, bisa jadi anaknya jadi tukang becak.
2. Atau kalo Bapak tukang becak, anaknya bisa jadi tukang ojeg. Atau naik satu 
step dari Bapak nya.

Semua ini karena:
1. Pemerintah tidak menyediakan sarana paling basic dari kebutuhan masyarakat 
spt: pangan yg bergizi, sarana kesehatan yang baik dan terjangkau, sarana 
pendidikan yang bermutu dan merata.

Kalo seandainya semua anak Indonesia mendapat jaminan terpenuhi nya gizi, 
mendapatkan pendidikan yang berkualitas, bisa menjangkau sarana kesehatan yang 
baik... Maka seorang anak tukang becak bisa dipastikan punya bekal dan 
kemampuan yang cukup untuk meningkatkan taraf & derajat hidup nya dan tidak 
seperti Bapak nya jadi tukang becak lagi.


Sent from my BlackBerry Wireless Handheld 
Powered by Gee! from StarHub

-----Original Message-----
From: "DeaRe" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 28 Aug 2011 06:40:05 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: RE: [saham] HS Dillon: Jangan Percaya Bank Dunia dan IMF Lagi

Pernah dengar bahwa 5-10% penduduk menguasai 90% uang dunia?

Konon, sekalipun uang di dunia ini di bagi rata ke seluruh penduduk dunia
ini, maka paling lambat 10 thn yad akan kembali ke formasi sebelumnya.

Yg miskin kembali miskin yg kaya kembali kaya.

 

Pandangan bu Katrin dg pak Oguds saya pikir sama2 benar. Pak Oguds melihat
base on data yg 90% org tsb.

Bu Katrin melihat berdasarkan ibarat jumlah seluruh uang di bagi rata dg
jumlah penduduk, makanya ketemu GDP USD 3,000.

 

Jika sama2 melihat gelas yg isi airnya ada ½, maka pak Oguds bilang gelas
itu ½ kosong, sedang bu Katrin bilang ½ penuh.

 

 

Salam,

Dennij R.

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
Oguds
Sent: 27 Agustus 2011 12:22
To: caknoval
Subject: Re: [saham] HS Dillon: Jangan Percaya Bank Dunia dan IMF Lagi

 

  


Benar, kita inginnya pemerataan kesejahteraan secara menyeluruh.
Makanya tak heran, meski katanya GDP per capita sekitar $3000 USD,
atau Rp 25jt / th, atau 2jt / bl, tapi siapa yg menikmati itu? UMP
Jakarta saja Rp 1,29jt / bl. Ini belum dibagi anak istri, anggaplah 4
orang/keluarga, jadinya hanya Rp 300rb-an. Hah, $3000 dari Hongkong.

Ini adalah oleh2 dari Safari Ramadhan, "SBY Miris Lingkungan Kumuh
Jadi Tontonan Tamu Negara".
http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/08/26/brk,20110826-353786,id.
html

Lha, emang kemane aje coy? Coba doi nongkrong sebentar saja pas jam
pulang kantor di St. Gambir, kagak lihat itu penumpang naik KRL AC
alias angin cepoi-cepoi di atas atap? Setiap hari begitu. Mungkin
lebay juga itu salah presiden, tapi kalau Menteri, Dirjen, Dirut, dst,
diam2 saja, ya tetap presidennya yg mengangkat mereka semua yg salah.

Kita juga jangan memusuhi media, yg sepertinya terdepan melebaykan.
Tidak ada asap kalau tidak ada api. Gampangnya UMP di atas, fakta yg
jelas, lha bagaimana membuatnya menjadi bagus? Padahal, yg terlihat
media itu seringkali hanya puncak gunung es, artinya sangat banyak yg
tidak tersentuh. Seperti kata HS Dillon, ada masalah struktural.

Friday, August 26, 2011, 11:05:12 AM, you wrote:

c> Atasi Kemiskinan
c> Jangan Percaya Bank Dunia dan IMF Lagi
c> Khaerudin | Agus Mulyadi | Rabu, 24 Agustus 2011 | 02:11 WIB
c> Dibaca: 14024Komentar: 53

c> JAKARTA, KOMPAS.com — Jika Indonesia ingin mengatasi secara
c> drastis angka kemiskinan, maka jangan lagi percaya pendekatan yang
c> ditawarkan Bank Dunia atau Word Bank dan Dana Moneter Internasional
c> atau International Monetary Fund (IMF).

c> Pendekatan kedua badan dunia tersebut tak efektif dan tetap
c> membuat orang miskin berada pada kasta terbawah, sementara mereka
c> yang berkuasa, meskipun dengan cara mencuri dari orang miskin, akan tetap
berada di atas.

c> Kritik keras tersebut disampaikan oleh Utusan Khusus Presiden
c> Republik Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan, HS Dillon,
c> dalam kampanye gerakan "Cukup Sudah Pembiaran Kemiskinan" yang
c> dimulai di Jakarta, Selasa (23/8/2011).

c> Dillon mengatakan, efektivitas dari pendekatan yang selama ini
c> dipakai sudah berkurang. "Jadi, yang jelas, cara yang lama tidak bisa
terus dipakai," katanya.

c> Menurut Dillon, yang saat ini dihadapi adalah kondisi kemiskinan
c> ekstrem sehingga pendekatannya harus berbeda. Kemiskinan menurut
c> dia adalah masalah struktural sehingga pendekatannya pun harus struktural
juga.

c> "Kemiskinannya struktural, tetapi dipakai penghamparan orang-orang
c> yang sudah mapan di Bank Dunia dan IMF. Mereka mau orang miskin
c> boleh naik, tetapi mereka yang sudah berkuasa jangan terganggu.
c> Harus dilakukan paradigma people driven development, artinya
c> pembangunan itu harus mulai dari mereka yang paling lemah, bukan
c> mereka yang sudah kuat," kata Dillon.

c> Kondisi kemiskinan ekstrem ini bisa terlihat antara lain dari
c> ketimpangan antara mereka yang kaya dan yang miskin pada hari ini di
Indonesia.

c> "Coba bayangkan ada satu kelompok yang bisa menguasai satu juta
c> hektar lahan, sementara petani kita di Jawa ini satu bahu saja
c> enggak punya. Itu masalahnya. Kalau selama ini yang dipakai
c> penghamparan IMF terus, yang dikerjakan hanyalah mencoba mengangkat
c> yang di bawah tanpa mengubah struktur. Tetap saja dia di bawah,
c> tetap jadi babu dia," kata Dillon.

c> ------------------------------------

c> Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.

c> SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN
c> ADMIN MILIS. SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK
c> MEMBELI ATAU MENJUAL EFEK. SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI
c> TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK INVESTASI ATAU PEMILIK MODAL.

c> [email protected]
<mailto:saham-unsubscribe%40yahoogroups.com>  untuk berhenti dari milis
saham
c> [email protected]
<mailto:saham-subscribe%40yahoogroups.com>  untuk bergabung ke milis saham
c> Yahoo! Groups Links

-- 
Tertanda,
Oguds [960000031]




Kirim email ke