Rekan-rekan, ada metode valuasi berdasarkan Price/Earnings to Growth Ratio 
(PEG).

Metode ini dipopulerkan oleh Peter Lynch.
Metode ini bagus untuk saham-saham yang pertumbuhannya tinggi, tapi jadi aneh 
jika diterapkan ke saham-saham yang pertumbuhannya kecil atau sudah mature.
Umumnya perusahaan yang sudah mature, pertumbuhannya relatif stagnan tapi 
dividen pay out rationya besar. Contoh yang terlihat nyata adalah perusahaan 
bir seperti MLBI dan DLTA. UNVR dan TLKM juga boleh dibilang termasuk dalam 
kategori ini.

Berdasarkan metode ini, suatu saham dianggap undervalued jika PEG < 1.0.
Rumus PEG adalah PER/rata-rata pertumbuhan laba bersih tahunan (dalam persen).

Contoh:
1. LPKR
PER = 24.53
Rata-rata pertumbuhan laba bersih tahunan = 15%

PEG = 24.53/15 = 1.63
LPKR menurut metode ini dianggap overvalued alias mahal.

2. BBRI
PER = 11.30
Rata-rata pertumbuhan laba bersih tahunan = 34%
PEG = 11.30/34 = 0.33
BBRI menurut metode ini dianggap undervalued

Lalu saya menemukan hal menarik dari rumus ini yaitu secara PER, saham dianggap 
murah jika nilai PER < rata-rata pertumbuhan labanya.
Jika rata-rata pertumbuhan laba 20% setahun, maka saham dianggap murah jika PER 
di bawah 20.
Jika rata-rata pertumbuhan laba 30% setahun, maka saham dianggap murah jika PER 
di bawah 30.
Nah, makin besar pertumbuhan laba maka PER saham yang dianggap undervalued naik 
secara fantastis.
Oleh karena itu, bagi saya sih saya batasi amannya maksimal PER ada di 20, 
kalau lebih konservatif lagi maksimal di 15.
Mengutip Parahita di blognya: akan sulit bagi perusahaan mempertahankan 
pertumbuhan laba di atas 15% secara konsisten.


---
Fabianto

Kirim email ke