Yang perlu diperhatikan dalam penentuan P/E fair ratio adalah tidak ada satu
teknik penghitungan yang paling akurat. Oleh karena itu, aproksimasi melalui
perbandingan dengan teknik penghitungan P/E yang lain menjadi sangat
penting.

Kalau ditilik dari statistik akurasi, penentuan P/E melalui teknik dasar
'discounted cash flow' dipandang lebih mendekati realitas.

Perhitungan P/E yang berbasis pada pertumbuhan 'earnings' juga memiliki
kelemahan karena adanya 'non-recurring items' yang juga turut dihitung
sebagai bagian 'earnings'. Kecenderungan yang dapat me-mislead perhitungan
adalah ekspektasi yang berlebihan terhadap pertumbuhan karena data yang
diambil hanya mewakili spektrum waktu yang pendek, misalnya 2 tahun, seperti
pada earnings growth rate BBRI yang disebutkan 34%. Selain itu, growth rate
yang dimaksud adalah angka aktual yang dihitung mundur terikat dengan asumsi
basis pertumbuhan yang solid. Kalau ke depannya pertumbuhan terancam, tentu
P/E yang terhitung murah secara historikal saat ini, 2-3 kuartal ke depan
justru bisa jadi sudah sangat mahal karena labanya akan turun, sementara
harga....tidak turun?

Teknik manapun yang akan digunakan, jika mencoba meneladani Peter Lynch
dengan PE/G-nya maka yang dia lakukan adalah:
1) temukan emiten yang prospeknya aktratif;
2) gunakan teknik penghitungan fair P/E untuk memastikan bahwa entry price
yang ada sudah cukup atraktif juga.

So, Peter sang manajer investasi ini pendekatannya 'bottom-up' menemukan
prospek dahulu, bukan men-screening saham mana yang P/E-nya rendah.

'+'
Follow positif01indo on Twitter: https://twitter.com/#!/positif01indo

2011/10/14 Fabianto Wangsamulya <[email protected]>

> **
>
>
> Rekan-rekan, ada metode valuasi berdasarkan Price/Earnings to Growth Ratio
> (PEG).
> Metode ini dipopulerkan oleh Peter Lynch.
> Metode ini bagus untuk saham-saham yang pertumbuhannya tinggi, tapi jadi
> aneh jika diterapkan ke saham-saham yang pertumbuhannya kecil atau sudah
> mature.
> Umumnya perusahaan yang sudah mature, pertumbuhannya relatif stagnan tapi
> dividen pay out rationya besar. Contoh yang terlihat nyata adalah perusahaan
> bir seperti MLBI dan DLTA. UNVR dan TLKM juga boleh dibilang termasuk dalam
> kategori ini.
>
> Berdasarkan metode ini, suatu saham dianggap undervalued jika PEG < 1.0.
> Rumus PEG adalah PER/rata-rata pertumbuhan laba bersih tahunan (dalam
> persen).
>
> Contoh:
> 1. LPKR
> PER = 24.53
> Rata-rata pertumbuhan laba bersih tahunan = 15%
> PEG = 24.53/15 = 1.63
> LPKR menurut metode ini dianggap overvalued alias mahal.
>
> 2. BBRI
> PER = 11.30
> Rata-rata pertumbuhan laba bersih tahunan = 34%
> PEG = 11.30/34 = 0.33
> BBRI menurut metode ini dianggap undervalued
>
> Lalu saya menemukan hal menarik dari rumus ini yaitu secara PER, saham
> dianggap murah jika nilai PER < rata-rata pertumbuhan labanya.
> Jika rata-rata pertumbuhan laba 20% setahun, maka saham dianggap murah jika
> PER di bawah 20.
> Jika rata-rata pertumbuhan laba 30% setahun, maka saham dianggap murah jika
> PER di bawah 30.
> Nah, makin besar pertumbuhan laba maka PER saham yang dianggap undervalued
> naik secara fantastis.
> Oleh karena itu, bagi saya sih saya batasi amannya maksimal PER ada di 20,
> kalau lebih konservatif lagi maksimal di 15.
> Mengutip Parahita di blognya: akan sulit bagi perusahaan mempertahankan
> pertumbuhan laba di atas 15% secara konsisten.
>
> ---
> Fabianto
>
>  
>

Kirim email ke