nambahin... http://genugrahanto.com/idinvesting/index.php/httpmajalahpialangcom/mp-agustus-2011/14-success-story-lo-keng-hong-warren-buffet-dari-indonesia?showall=&limitstart=
2011/11/3 Fabianto Wangsamulya <[email protected]> > ** > > > Ada artikel bagus yang saya dapat dari teman mengenai salah satu investor > di bursa saham yang kabarnya dijuluki juga Warren Buffett Indonesia. > Selamat membaca. > > > <http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1> > > > <http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1> > > http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1 > Sembari ongkang-ongkang kaki, lenggang kangkung, dan tidur pulas, *Lo > Kheng Hong* bisa menjadi miliarder di pasar saham dan mengeduk gain > hingga 150.000%. Itukah buah filosofi ‘menjadi kaya sambil tidur’? > > Asetnya di pasar saham disebut-sebut bernilai triliunan rupiah. Ia > mengoleksi sejumlah saham yang mampu mencetak keuntungan investasi (capital > gain) hingga ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu persen. Tapi, jangan > bayangkan pria berusia 52 tahun ini punya karakter dan penampilan glamour, > agresif, dinamis, meledak- ledak, atau beradrenalin tinggi. > > Lo Kheng Hong adalah pribadi yang bersahaja, sabar, rendah hati, kalem, > bahkan terkesan dingin. Boleh jadi, pembawaannya inilah yang menjadikan > Kheng Hong sukses sebagai investor di pasar saham. > > Yang pasti, Kheng Hong tak hanya lihai memilih saham-saham yang mampu > menghasilkan gain besar. Ia juga mahir memosisikan diri di lantai bursa, > baik saat pasar bearish maupun bullish. Tapi Kheng Hong bukan tipe investor > yang sepanjang hari memelototi pergerakan harga saham atau setiap saat > mencermati perkembangan isu, rumor, dan berita di lantai bursa, dengan > kewaspadaan ekstra tinggi. Ia juga tidak melengkapi diri dengan handphone > canggih, laptop terkini, notebook, iPad, atau perangkat paling mutakhir > sejenisnya. > > Kheng Hong memang lebih memosisikan diri sebagai investor jangka panjang > ketimbang investor jangka pendek atau trader. Mungkin, itulah sebabnya, > kalangan praktisi pasar saham menjulukinya sebagai ‘Warren Buffett > Indonesia’. > > “Investor di pasar saham kebanyakan ikut-ikutan dan tidak mengerti saham > apa yang dibeli. Kebanyakan orang panik karena mereka tidak tahu apa yang > mereka beli. Semakin cepat panik seorang investor, semakin menunjukkan > bahwa ia tidak tahu apa-apa,” kata Lo Kheng Hong kepada wartawan *Investor > Daily* *Nurfiyasari *dan *Abdul Aziz *serta pewarta foto *Eko S Hilman*di > Jakarta, baru-baru ini. > > Bagi ayah dua anak ini, lebih menguntungkan menjadi investor jangka > panjang dibanding menjadi trader. “Kalau trading, dapatnya receh dan bisa > bikin stres. Kalau pegang saham dalam jangka panjang, dapat uangnya besar,” > ujar Kheng Hong. > > Kematangan, kecerdasan, ketenangan, dan kesabaran telah menjadikan Lo > Kheng Hong sebagai pemain saham sejati. Berkat itu pula ia berhasil lolos > dari krisis moneter 1997- 1998, bahkan kemudian menangguk keuntungan hingga > 150.000%. ”Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh. Malah sewaktu krisis > 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu > saya tukar ke saham. Akhirnya uang saya meningkat 150.000% sampai saat > ini,” tuturnya. > > Yang unik, aset kekayaan Lo Kheng Hong hampir seluruhnya dalam bentuk > saham sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ia sama sekali tidak > tergoda untuk mendiversifikasi investasinya ke instrumen lain, seperti > emas, properti, atau kendaraan Bahkan, mantan kepala cabang Bank Ekonomi > ini sama sekali tak tertarik untuk mendirikan perusahaan, termasuk > perusahaan sekuritas. > > “Saya hanya punya 15% dana cash untuk jaga-jaga supaya kalau terjadi > krisis saya masih punya uang untukmembeli saham. Saya tidak bekerja, tidak > punya perusahaan, tidak punya pelanggan seorang pun, tidak punya karyawan > seorang pun, dan tak punya bos. Hanya punya seorang sopir dan dua > pembantu,” papar Lo Kheng Hong yang sudah 22 tahun bermain saham. > > Apa saja tips Lo Kheng Hong hingga ia mampu mengeduk keuntungan besar dari > pasar saham? Bagaimana harus bersikap saat pasar mengalami *bullish*, * > bearish*, atau *crash*? Berikut petikan lengkap wawancara dengan pria > yang mengaku berasal dari keluarga tak mampu dan kelak berniat > menyumbangkan kekayaannya kepada fakir miskin tersebut. > > K*enapa Anda tertarik bermain saham?* > Saya tertarik bermain saham karena saham dapat memberikan keuntungan yang > besar dan tidak capek seperti di sektor riil. > > *Apa enaknya menjadi investor saham?* > Pertama, seorang pemain saham dapat menjadi orang yang terkaya di dunia, > seperti Warren Buffett. Banyak orang yang tidak tahu dan tidak percaya. > Mereka hanya tahu banyak orang yang rugi, orang kaya jadi miskin karena > bermain saham, bahkan ada yang bunuh diri karena saham. > > Kedua, seorang pemain saham punya banyak waktu, bebas, dan tidak > dipusingkan oleh urus-mengurus karyawan, pelanggan, dan lain-lain. Di > perusahaan, status investor saham adalah sleeping partner, sehingga waktu > luangnya bisa diisi dengan hal-hal yang disukai. > > Ketiga, semua keuntungan perusahaan menjadi milik pemegang saham, padahal > yang bekerja keras adalah direksi, komisaris, manajer, dan seluruh > karyawan, tetapi mereka hanya menerima gaji dan bonus. Mereka tidak punya > hak untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan. Memiliki > perusahaan yang untung besar seperti memiliki mesin pencetak uang. > > *Sejak kapan Anda bermain saham?* > Saya bermain saham sejak 1989, 22 tahun yang lalu. Saya dilahirkan dari > keluarga yang berpenghasilan rendah. Orangtua hanya pegawai kecil. Saat > tamat SMA, saya belum punya biaya untuk kuliah. Kemudian saya jadi pegawai > tata usaha di bank, waktu itu saya disuruh-suruh untuk fotokopi dan > lainnya. Kemudian saya bisa bekerja sambil kuliah. Saya pilih kampus yang > murah sesuai kemampuan keuangan. Saat bekerja di bank itulah, saya mulai > main saham. Saya sempat menjadi kepala cabang. Saya kemudian keluar dari > bank dan fokus main saham. > > *Anda saat ini punya saham apa saja?* > Saya punya saham sekitar 30 emiten, antara lain di Multibreeder Adirama > Indonesia Tbk (MBAI), dengan kepemilikan 8,29% lebih. Saham saya banyaknya > bukan di LQ45. Kepemilikan saya di saham lain di bawah 5%. Saya tipe > investor jangka panjang. > > Kalau trading, dapatnya receh, kalau jangka panjang dapat uangnya besar. > Saya pegang saham ini sudah enam tahun. Saya beli tahun 2005 seharga Rp 250 > dan harganya sempat menyentuh Rp 31.500. Belum saya jual, padahal gain-nya > sudah 12.600%. > > *Cara Anda memilih saham?* > Saya lihat manajemen. Apakah menerapkan good corporate governance (GCG) > atau tidak. Saya cari dari kompetitornya, biasanya mereka tahu. Saya cari > tahu agar tidak beli kucing dalam karung, karena ini menyangkut harta saya. > Jangan membeli sesuatu yang tidak kita tahu. Lihat manajemen, apakah > pengelolanya jujur atau tidak. Jangan sampai pengelolanya suka ambil uang > perusahaan, sehingga saya sebagai sleeping partner dirugikan. > > Istilahnya, yang menjadi pertimbangan pertama adalah manajemen, kedua > manajemen, ketiga manajemen, baru yang lain. Kemudian lihat sektor > usahanya, bagus atau tidak. Ada sektor yang kurang menarik, misalnya > sepatu, tekstil, dan garmen. Tetapi ada juga yang menarik, seperti kelapa > sawit dan pakan ayam. > > Orang banyak makan ayam karena ayam merupakan sumber protein termurah dan > dampak negatifnya terhadap kesehatan lebih rendah dibanding yang lain. > Perhatikan juga apakah emiten bersangkutan mengalami pertumbuhan atau > tidak. > > *Kriteria pertumbuhan, konkretnya seperti apa?* > Ada empat tipe perusahaan. Pertama, perusahaan yang rugi terus, ada yang > kadang untung, dan kadang merugi. Kemudian, perusahaan yang untung besar > terus, tapi stagnan. Ada juga perusahaan yang *growing *secara berkala, > misalnya dari Rp 2 triliun, Rp 5 triliun, dan seterusnya. Ini perusahaan > yang baik dan yang saya cari. Lihat kinerjanya lima tahun ke belakang. > Lihat masa lalunya. > > *Bagaimana jika lima tahun pertama tumbuh, tetapi lima tahun berikutnya > ternyata turun?* > Biasanya kalau lima tahun ke belakang tumbuh, ke depannya akan mengalami > hal yang sama. Kalau sudah lima tahun berturut-turut *growing*, tandanya > itu *super company. * > * > Setelah melihat fundamental emiten, apa lagi yang Anda perhatikan?* > Harga. Saya lihat dari* price to earning ratio* (PER)-nya. Jangan bilang > saham A karena harganya Rp 250 dibilang murah, dan saham B yang harganya Rp > 70.000 dibilang mahal. Maksudnya, saham yang harganya Rp 70.000 bisa lebih > murah dibanding saham yang harganya Rp 250. Kita lihat kemampuan emitennya > dalam membukukan keuntungan. > > *Berapa PER yang ideal saat membeli suatu saham?* > Saya pikir, yang *reasonable *untuk dibeli yaitu yang PER-nya di bawah > lima kali, itu sangat menarik dan potensial. Tapi biasanya perusahaan yang > sudah baik dan manajemennya bagus, PER-nya sudah di atas 10 kali. > * > Soal timing, kapan saat yang paling tepat untuk masuk pasar?* > Yang paling bagus membeli saham adalah saat sedang krisis seperti di > Yunani, Eropa, dan AS. Ada pepatah lama yang tidak perlu dilupakan,* buy > on weakness.* Dan, harus* be greedy when others are fearful* dan > sebaliknya, *be fearful when others greedy.* > > *Bukankah itu sulit diterapkan?* > Saya banyak baca buku tentang Warren Buffett. Saya belajar dari orang yang > sudah terbukti berhasil investasi di pasar saham. Dia sudah membuktikannya, > bahkan menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Nggak mungkin kan kalau > saya belajar dari Bernard Madoff? Ha, ha, ha, ha... > > Ternyata orang seperti Madoff, mantan bos bursa Nasdaq tapi tidak bisa > mengelola uang nasabah. Ini menunjukkan bahwa dia hanya tahu semua > peraturan di bursa saham, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara menjadi > kaya di pasar saham. > * > Berarti, kuncinya ada di mental?* > Mental bisa bagus saat kita tahu apa yang kita beli. Kebanyakan orang > panic karena mereka tidak tahu apa yang mereka beli. Ini pelajaran penting. > Saya berikan ilustrasi. Waktu itu saya ke Harvard University, saya tanya > biaya kuliah di sana berapa? Ternyata bisa sampai US$ 40.000, keluar dari > sana semua jadi orang pintar. Dengan belajar seharga US$ 40.000, kita bisa > menjadi orang pintar. > > Tapi di pasar saham, kita sudah habiskan puluhan miliar rupiah belum tentu > jadi pintar, malah bisa tambah bingung, seperti Madoff yang sudah > menghabiskan uang masyarakat sebesar US$ 60 miliar, apakah dia menjadi > pintar? Bisa saja di penjara dia berpikir, kenapa saham yang dibeli turun > dan yang dijual justru naik. > > Jadi, intinya pintar saja tidak cukup. Untuk menjadi investor yang kuat, > kita harus mengetahui perusahaan satu per satu. Semua orang bisa seperti > itu, asalkan mau baca. Bacalah laporan keuangan emiten satu per satu. > > *Jadi, Anda tipe investor fundamental?* > Saya 100% fundamental karena lihat manajemennya atau pertumbuhan > perusahaan. Kalau teknikal, hanya grafik, semuanya diabaikan. Saya yakin > itu tidak benar. Tapi memang harus selektif. Dari 400-an saham yang ada di > bursa domestik, cukup banyak yang fundamentalnya bagus. Terkadang, ada yang > terjebak. > > *Anda tidak memantau pergerakan harga saham setiap saat?* > Kenapa kita pusing? Karena kita beli saham yang tidak kita ketahui. Ada > yang tidak bisa tidur karena PER sahamnya 100 kali atau 200 kali. Lalu, > kenapa kita tidak bisa tidur kalau PER-nya hanya lima kali? > * > Bukankah investor sering terbawa arus karena faktor nonfundamental?* > Saya lihat investor di pasar modal kebanyakan ikut-ikutan. Saat *market > *mengalami > *booming*, semua masuk. Saat *market* buang-buang saham, mereka > ikut-ikutan. Mayoritas hanya ikut-ikutan dan tidak mengerti apa yang > dibeli. Jadi, belajarlah dari orang yang memang sudah berhasil dan ikuti > langkahnya. Jangan percaya saat ada iklan yang bilang dapat untung besar > saat indeks turun. Kalau bisa seperti itu, hebat sekali. Bahkan, orang > sekelas Warren Buffett saja, saat pasar saham AS turun, dia juga mengalami > kerugian. > > *Anda berinvestasi pada instrument selain saham?* > Tidak, hanya saham. Hampir semua uang saya ada di pasar modal. Dana tunai > saya hanya 15%, sisanya portofolio saham. Kenapa saya sisakan segitu? Itu > untuk antisipasi kalau pasar modal kita jatuh, sehingga saya masih bisa > beli saham lagi. > * > Dari mana Anda membiayai kebutuhan hidup sehari-hari?* > Saya bisa hidup dari dividen yang saya terima. Misalnya harga saham suatu > emiten yang saya beli bulan lalu Rp 610, sekarang harganya Rp 2.375, > kemudian saya jual. Awalnya saya berniat menahannya untuk jangka panjang. > Tapi kalau untungnya sudah sampai 300% dalam sebulan, saya lepas. Untuk > emiten yang bagus sekali, tetap saya keep untuk jangka panjang. Kalau > emitennya kurang meyakinkan dan naiknya signifikan, lebih baik saya lepas. > > *Saat krisis moneter 1997-1998 dan krisis finansial 2008, Anda mengalami > kerugian juga?* > Saya sempat mengalaminya juga. Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh, tapi > tetap *be greedy when others are fearful*. Malah sewaktu krisis > 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu > saya tukar ke saham, karena saya tahu pasar modal akan naik lagi. Dan, itu > terbukti. Akhirnya uang saya meningkat 150.000%. > > *Bagaimana Anda menyikapi perkembangan harga saham saat ini, terutama > yang terkait dengan krisis utang di Eropa dan krisis finansial di AS?* > Saat IHSG terkoreksi, wajar saja kalau nilai portofolio saya ikut turun. > Tetapi ketika turun, saya sama sekali tidak ikut-ikutan menjual, bahkan > saya membeli dan menambah saham saya, karena saya yakin satu hari > saham-saham saya akan naik kembali, bahkan dapat lebih tinggi dari > sebelumnya. > * > Apa filosofi hidup Anda?* > Filosofi hidup saya adalah bagaimana saya bisa menjadi kaya sambil tidur. > Karena di perusahaan status saya adalah sleeping partner, saya tidur tetapi > saham-saham perusahaan saya bekerja buat saya secara dahsyat. *Getting > rich while sleeping.* Saya pakai waktu saya delapan jam untuk tidur, > selebihnya saya pakai untuk bersenang-senang dan mengerjakan apa yang saya > sukai. > > --- > Fabianto > > >
