Kalo gitu, kita mesti seperti Tuan Lho ini dong, biar cepet kaya.

Yuk, hari ini kita borong rame-rame saham di IHSG, biar cepet kaya..., he.
he...

Pada 3 November 2011 10:06, Fabianto Wangsamulya <[email protected]>menulis:

> **
>
>
> Ada artikel bagus yang saya dapat dari teman mengenai salah satu investor
> di bursa saham yang kabarnya dijuluki juga Warren Buffett Indonesia.
> Selamat membaca.
>
>
> <http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1>
>
>
> <http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1>
>
> http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1
>  Sembari ongkang-ongkang kaki, lenggang kangkung, dan tidur pulas, *Lo
> Kheng Hong* bisa menjadi miliarder di pasar saham dan mengeduk gain
> hingga 150.000%. Itukah buah filosofi ‘menjadi kaya sambil tidur’?
>
> Asetnya di pasar saham disebut-sebut bernilai triliunan rupiah. Ia
> mengoleksi sejumlah saham yang mampu mencetak keuntungan investasi (capital
> gain) hingga ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu persen. Tapi, jangan
> bayangkan pria berusia 52 tahun ini punya karakter dan penampilan glamour,
> agresif, dinamis, meledak- ledak, atau beradrenalin tinggi.
>
> Lo Kheng Hong adalah pribadi yang bersahaja, sabar, rendah hati, kalem,
> bahkan terkesan dingin. Boleh jadi, pembawaannya inilah yang menjadikan
> Kheng Hong sukses sebagai investor di pasar saham.
>
> Yang pasti, Kheng Hong tak hanya lihai memilih saham-saham yang mampu
> menghasilkan gain besar. Ia juga mahir memosisikan diri di lantai bursa,
> baik saat pasar bearish maupun bullish. Tapi Kheng Hong bukan tipe investor
> yang sepanjang hari memelototi pergerakan harga saham atau setiap saat
> mencermati perkembangan isu, rumor, dan berita di lantai bursa, dengan
> kewaspadaan ekstra tinggi. Ia juga tidak melengkapi diri dengan handphone
> canggih, laptop terkini, notebook, iPad, atau perangkat paling mutakhir
> sejenisnya.
>
> Kheng Hong memang lebih memosisikan diri sebagai investor jangka panjang
> ketimbang investor jangka pendek atau trader. Mungkin, itulah sebabnya,
> kalangan praktisi pasar saham menjulukinya sebagai ‘Warren Buffett
> Indonesia’.
>
> “Investor di pasar saham kebanyakan ikut-ikutan dan tidak mengerti saham
> apa yang dibeli. Kebanyakan orang panik karena mereka tidak tahu apa yang
> mereka beli. Semakin cepat panik seorang investor, semakin menunjukkan
> bahwa ia tidak tahu apa-apa,” kata Lo Kheng Hong kepada wartawan *Investor
> Daily* *Nurfiyasari *dan *Abdul Aziz *serta pewarta foto *Eko S Hilman*di 
> Jakarta, baru-baru ini.
>
> Bagi ayah dua anak ini, lebih menguntungkan menjadi investor jangka
> panjang dibanding menjadi trader. “Kalau trading, dapatnya receh dan bisa
> bikin stres. Kalau pegang saham dalam jangka panjang, dapat uangnya besar,”
> ujar Kheng Hong.
>
> Kematangan, kecerdasan, ketenangan, dan kesabaran telah menjadikan Lo
> Kheng Hong sebagai pemain saham sejati. Berkat itu pula ia berhasil lolos
> dari krisis moneter 1997- 1998, bahkan kemudian menangguk keuntungan hingga
> 150.000%. ”Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh. Malah sewaktu krisis
> 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu
> saya tukar ke saham. Akhirnya uang saya meningkat 150.000% sampai saat
> ini,” tuturnya.
>
> Yang unik, aset kekayaan Lo Kheng Hong hampir seluruhnya dalam bentuk
> saham sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ia sama sekali tidak
> tergoda untuk mendiversifikasi investasinya ke instrumen lain, seperti
> emas, properti, atau kendaraan Bahkan, mantan kepala cabang Bank Ekonomi
> ini sama sekali tak tertarik untuk mendirikan perusahaan, termasuk
> perusahaan sekuritas.
>
> “Saya hanya punya 15% dana cash untuk jaga-jaga supaya kalau terjadi
> krisis saya masih punya uang untukmembeli saham. Saya tidak bekerja, tidak
> punya perusahaan, tidak punya pelanggan seorang pun, tidak punya karyawan
> seorang pun, dan tak punya bos. Hanya punya seorang sopir dan dua
> pembantu,” papar Lo Kheng Hong yang sudah 22 tahun bermain saham.
>
> Apa saja tips Lo Kheng Hong hingga ia mampu mengeduk keuntungan besar dari
> pasar saham? Bagaimana harus bersikap saat pasar mengalami *bullish*, *
> bearish*, atau *crash*? Berikut petikan lengkap wawancara dengan pria
> yang mengaku berasal dari keluarga tak mampu dan kelak berniat
> menyumbangkan kekayaannya kepada fakir miskin tersebut.
>
> K*enapa Anda tertarik bermain saham?*
> Saya tertarik bermain saham karena saham dapat memberikan keuntungan yang
> besar dan tidak capek seperti di sektor riil.
>
> *Apa enaknya menjadi investor saham?*
> Pertama, seorang pemain saham dapat menjadi orang yang terkaya di dunia,
> seperti Warren Buffett. Banyak orang yang tidak tahu dan tidak percaya.
> Mereka hanya tahu banyak orang yang rugi, orang kaya jadi miskin karena
> bermain saham, bahkan ada yang bunuh diri karena saham.
>
> Kedua, seorang pemain saham punya banyak waktu, bebas, dan tidak
> dipusingkan oleh urus-mengurus karyawan, pelanggan, dan lain-lain. Di
> perusahaan, status investor saham adalah sleeping partner, sehingga waktu
> luangnya bisa diisi dengan hal-hal yang disukai.
>
> Ketiga, semua keuntungan perusahaan menjadi milik pemegang saham, padahal
> yang bekerja keras adalah direksi, komisaris, manajer, dan seluruh
> karyawan, tetapi mereka hanya menerima gaji dan bonus. Mereka tidak punya
> hak untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan. Memiliki
> perusahaan yang untung besar seperti memiliki mesin pencetak uang.
>
> *Sejak kapan Anda bermain saham?*
> Saya bermain saham sejak 1989, 22 tahun yang lalu. Saya dilahirkan dari
> keluarga yang berpenghasilan rendah. Orangtua hanya pegawai kecil. Saat
> tamat SMA, saya belum punya biaya untuk kuliah. Kemudian saya jadi pegawai
> tata usaha di bank, waktu itu saya disuruh-suruh untuk fotokopi dan
> lainnya. Kemudian saya bisa bekerja sambil kuliah. Saya pilih kampus yang
> murah sesuai kemampuan keuangan. Saat bekerja di bank itulah, saya mulai
> main saham. Saya sempat menjadi kepala cabang. Saya kemudian keluar dari
> bank dan fokus main saham.
>
> *Anda saat ini punya saham apa saja?*
> Saya punya saham sekitar 30 emiten, antara lain di Multibreeder Adirama
> Indonesia Tbk (MBAI), dengan kepemilikan 8,29% lebih. Saham saya banyaknya
> bukan di LQ45. Kepemilikan saya di saham lain di bawah 5%. Saya tipe
> investor jangka panjang.
>
> Kalau trading, dapatnya receh, kalau jangka panjang dapat uangnya besar.
> Saya pegang saham ini sudah enam tahun. Saya beli tahun 2005 seharga Rp 250
> dan harganya sempat menyentuh Rp 31.500. Belum saya jual, padahal gain-nya
> sudah 12.600%.
>
> *Cara Anda memilih saham?*
> Saya lihat manajemen. Apakah menerapkan good corporate governance (GCG)
> atau tidak. Saya cari dari kompetitornya, biasanya mereka tahu. Saya cari
> tahu agar tidak beli kucing dalam karung, karena ini menyangkut harta saya.
> Jangan membeli sesuatu yang tidak kita tahu. Lihat manajemen, apakah
> pengelolanya jujur atau tidak. Jangan sampai pengelolanya suka ambil uang
> perusahaan, sehingga saya sebagai sleeping partner dirugikan.
>
> Istilahnya, yang menjadi pertimbangan pertama adalah manajemen, kedua
> manajemen, ketiga manajemen, baru yang lain. Kemudian lihat sektor
> usahanya, bagus atau tidak. Ada sektor yang kurang menarik, misalnya
> sepatu, tekstil, dan garmen. Tetapi ada juga yang menarik, seperti kelapa
> sawit dan pakan ayam.
>
> Orang banyak makan ayam karena ayam merupakan sumber protein termurah dan
> dampak negatifnya terhadap kesehatan lebih rendah dibanding yang lain.
> Perhatikan juga apakah emiten bersangkutan mengalami pertumbuhan atau
> tidak.
>
> *Kriteria pertumbuhan, konkretnya seperti apa?*
> Ada empat tipe perusahaan. Pertama, perusahaan yang rugi terus, ada yang
> kadang untung, dan kadang merugi. Kemudian, perusahaan yang untung besar
> terus, tapi stagnan. Ada juga perusahaan yang *growing *secara berkala,
> misalnya dari Rp 2 triliun, Rp 5 triliun, dan seterusnya. Ini perusahaan
> yang baik dan yang saya cari. Lihat kinerjanya lima tahun ke belakang.
> Lihat masa lalunya.
>
> *Bagaimana jika lima tahun pertama tumbuh, tetapi lima tahun berikutnya
> ternyata turun?*
> Biasanya kalau lima tahun ke belakang tumbuh, ke depannya akan mengalami
> hal yang sama. Kalau sudah lima tahun berturut-turut *growing*, tandanya
> itu *super company. *
> *
> Setelah melihat fundamental emiten, apa lagi yang Anda perhatikan?*
> Harga. Saya lihat dari* price to earning ratio* (PER)-nya. Jangan bilang
> saham A karena harganya Rp 250 dibilang murah, dan saham B yang harganya Rp
> 70.000 dibilang mahal. Maksudnya, saham yang harganya Rp 70.000 bisa lebih
> murah dibanding saham yang harganya Rp 250. Kita lihat kemampuan emitennya
> dalam membukukan keuntungan.
>
> *Berapa PER yang ideal saat membeli suatu saham?*
> Saya pikir, yang *reasonable *untuk dibeli yaitu yang PER-nya di bawah
> lima kali, itu sangat menarik dan potensial. Tapi biasanya perusahaan yang
> sudah baik dan manajemennya bagus, PER-nya sudah di atas 10 kali.
> *
> Soal timing, kapan saat yang paling tepat untuk masuk pasar?*
> Yang paling bagus membeli saham adalah saat sedang krisis seperti di
> Yunani, Eropa, dan AS. Ada pepatah lama yang tidak perlu dilupakan,* buy
> on weakness.* Dan, harus* be greedy when others are fearful* dan
> sebaliknya, *be fearful when others greedy.*
>
> *Bukankah itu sulit diterapkan?*
> Saya banyak baca buku tentang Warren Buffett. Saya belajar dari orang yang
> sudah terbukti berhasil investasi di pasar saham. Dia sudah membuktikannya,
> bahkan menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Nggak mungkin kan kalau
> saya belajar dari Bernard Madoff? Ha, ha, ha, ha...
>
> Ternyata orang seperti Madoff, mantan bos bursa Nasdaq tapi tidak bisa
> mengelola uang nasabah. Ini menunjukkan bahwa dia hanya tahu semua
> peraturan di bursa saham, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara menjadi
> kaya di pasar saham.
> *
> Berarti, kuncinya ada di mental?*
> Mental bisa bagus saat kita tahu apa yang kita beli. Kebanyakan orang
> panic karena mereka tidak tahu apa yang mereka beli. Ini pelajaran penting.
> Saya berikan ilustrasi. Waktu itu saya ke Harvard University, saya tanya
> biaya kuliah di sana berapa? Ternyata bisa sampai US$ 40.000, keluar dari
> sana semua jadi orang pintar. Dengan belajar seharga US$ 40.000, kita bisa
> menjadi orang pintar.
>
> Tapi di pasar saham, kita sudah habiskan puluhan miliar rupiah belum tentu
> jadi pintar, malah bisa tambah bingung, seperti Madoff yang sudah
> menghabiskan uang masyarakat sebesar US$ 60 miliar, apakah dia menjadi
> pintar? Bisa saja di penjara dia berpikir, kenapa saham yang dibeli turun
> dan yang dijual justru naik.
>
> Jadi, intinya pintar saja tidak cukup. Untuk menjadi investor yang kuat,
> kita harus mengetahui perusahaan satu per satu. Semua orang bisa seperti
> itu, asalkan mau baca. Bacalah laporan keuangan emiten satu per satu.
>
> *Jadi, Anda tipe investor fundamental?*
> Saya 100% fundamental karena lihat manajemennya atau pertumbuhan
> perusahaan. Kalau teknikal, hanya grafik, semuanya diabaikan. Saya yakin
> itu tidak benar. Tapi memang harus selektif. Dari 400-an saham yang ada di
> bursa domestik, cukup banyak yang fundamentalnya bagus. Terkadang, ada yang
> terjebak.
>
> *Anda tidak memantau pergerakan harga saham setiap saat?*
> Kenapa kita pusing? Karena kita beli saham yang tidak kita ketahui. Ada
> yang tidak bisa tidur karena PER sahamnya 100 kali atau 200 kali. Lalu,
> kenapa kita tidak bisa tidur kalau PER-nya hanya lima kali?
> *
> Bukankah investor sering terbawa arus karena faktor nonfundamental?*
> Saya lihat investor di pasar modal kebanyakan ikut-ikutan. Saat *market 
> *mengalami
> *booming*, semua masuk. Saat *market* buang-buang saham, mereka
> ikut-ikutan. Mayoritas hanya ikut-ikutan dan tidak mengerti apa yang
> dibeli. Jadi, belajarlah dari orang yang memang sudah berhasil dan ikuti
> langkahnya. Jangan percaya saat ada iklan yang bilang dapat untung besar
> saat indeks turun. Kalau bisa seperti itu, hebat sekali. Bahkan, orang
> sekelas Warren Buffett saja, saat pasar saham AS turun, dia juga mengalami
> kerugian.
>
> *Anda berinvestasi pada instrument selain saham?*
> Tidak, hanya saham. Hampir semua uang saya ada di pasar modal. Dana tunai
> saya hanya 15%, sisanya portofolio saham. Kenapa saya sisakan segitu? Itu
> untuk antisipasi kalau pasar modal kita jatuh, sehingga saya masih bisa
> beli saham lagi.
> *
> Dari mana Anda membiayai kebutuhan hidup sehari-hari?*
> Saya bisa hidup dari dividen yang saya terima. Misalnya harga saham suatu
> emiten yang saya beli bulan lalu Rp 610, sekarang harganya Rp 2.375,
> kemudian saya jual. Awalnya saya berniat menahannya untuk jangka panjang.
> Tapi kalau untungnya sudah sampai 300% dalam sebulan, saya lepas. Untuk
> emiten yang bagus sekali, tetap saya keep untuk jangka panjang. Kalau
> emitennya kurang meyakinkan dan naiknya signifikan, lebih baik saya lepas.
>
> *Saat krisis moneter 1997-1998 dan krisis finansial 2008, Anda mengalami
> kerugian juga?*
> Saya sempat mengalaminya juga. Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh, tapi
> tetap *be greedy when others are fearful*. Malah sewaktu krisis
> 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu
> saya tukar ke saham, karena saya tahu pasar modal akan naik lagi. Dan, itu
> terbukti. Akhirnya uang saya meningkat 150.000%.
>
> *Bagaimana Anda menyikapi perkembangan harga saham saat ini, terutama
> yang terkait dengan krisis utang di Eropa dan krisis finansial di AS?*
> Saat IHSG terkoreksi, wajar saja kalau nilai portofolio saya ikut turun.
> Tetapi ketika turun, saya sama sekali tidak ikut-ikutan menjual, bahkan
> saya membeli dan menambah saham saya, karena saya yakin satu hari
> saham-saham saya akan naik kembali, bahkan dapat lebih tinggi dari
> sebelumnya.
> *
> Apa filosofi hidup Anda?*
> Filosofi hidup saya adalah bagaimana saya bisa menjadi kaya sambil tidur.
> Karena di perusahaan status saya adalah sleeping partner, saya tidur tetapi
> saham-saham perusahaan saya bekerja buat saya secara dahsyat. *Getting
> rich while sleeping.* Saya pakai waktu saya delapan jam untuk tidur,
> selebihnya saya pakai untuk bersenang-senang dan mengerjakan apa yang saya
> sukai.
>
> ---
> Fabianto
>
>  
>

Kirim email ke