Rekans,
Setuju dengan apa yg disampaikan oleh Pak. Andy. 
Klo sedemikian simple dan liniernya pergerakan variabel2 yang dikemukakan maka 
sangat mudah sekali kerjaannya para pengambil keputusan publik (bisa di bidang 
moneter cq BI atau fiskal cq Kemenkeu).
Kalau ngga salah, masih banyak konsiderans yang harus dimasukkan kedalam 
konsepsi linier tadi. Misalnya, berapa sih MPC konsumen Indonesia? Berapa sih 
sebenarnya orang yang punya akses ke bank untuk ambil kredit? seberapa besar 
sih tolerasi penabung terhadap penurunan suku bunga deposito/tabungan shg mrk 
mengalihkan tabungannya? seberapa besar sih elastisitas menurunnya suku bunga 
pinjaman shg mendorong pelaku usaha berhutang ke bank? Bagaimana msl 
infrastruktur?, apakah benar pelaku usaha tidak mau berinvestasi karena suku 
bunga tinggi? jangan2 mrk ngga mau investasi karena memang listriknya tidak 
tersedia, masalah air bersih, masalah pajak yang ngga jelas, msl lain2 yang 
sifatnya struktural?
jadi, kesimpulan saya yang awam ini sederhana saja, tunggu deh "tanggal 
mainnya" sektor riil merespon kebijakan moneter nasional ini...kan kita semua 
tahu, kebijakan moneter itu bukan obat gosok yang "panasnya" bisa dirasakan 
dengan seketika..
Market (pasar uang, pasar barang dan pasar TK) akan memberikan reaksinya sesuai 
dengan existing condition-nya dan ini sangat menarik untuk dicermati. Pada saat 
itu, kita akan dapat melihat output akhir yang menarik juga yaitu, apakah 
benar "harga" di negara kita tercinta ini merupakan cerminan utuh dari supply 
dan demand di market? 
 
salam.
 
 

--- On Fri, 11/11/11, Andy <[email protected]> wrote:


From: Andy <[email protected]>
Subject: RE: [saham] Dampak Penurunan BI rate
To: [email protected]
Date: Friday, November 11, 2011, 1:57 PM



  





Teorinya sih bener seperti itu!
Prakteknya beda pak.
 
Kredit konsumen, ngak langsung turun, perlu waktu sampe 6 bln.
Sampe kesana belum tentu ngak dinaikin lagi.
Penurunan 0.25 yg kemarin aja masih belum direspon di pasar!
 
Terus kredit murah selalu dibarengi oleh kredit macet.
 
Obligasi kita juga jadi ngak begitu laku, apalagi kalau tingkat inflasi masih 
seperti ini.
Logikanya uang masuk ke bursa saham yang yieldnya lebih besar, tapi belum tentu 
juga melihat keadaan global skrg.
 
Menurut saya langkah BI terlalu berani, mudah2an saja tidak terperosok.
 
 


From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Hendrik 
Limbono
Sent: Friday, November 11, 2011 12:44 AM
To: Dolgado-mIlis; [email protected]
Subject: [saham] Dampak Penurunan BI rate
 
  






Hari ini ada berita yang menurut saya SANGAT menggemparkan, dimana BI mengambil 
suatu pilihan menurunkan BI Rate 50 basis Point atau 0,5% dari 6,5% menjadi 6%.

Penurunan BI rate berarti BI ke depannya berencana Melakukan PELONGGARAN 
LIKUIDITAS, dimana BI akan mengucurkan likuditas terus menerus, hingga suku 
bunga menjadi 6%.

Dampaknya :

1. Yang paling kerasa dampak penurunan BI rate adalah industri perbankan, 
dimana dalam keadaan normal bank – bank akan mengalami peningkatan profit yang 
signifikan. Perlu diketahui bahwa bisnis bank adalah menerima dana dari 
masyarakat dan memberi bunga kepada masyarakat serta menyalurkan kredit kepad 
pihak2 yang membutuhkan serta membebankan suku bunga tertentu kepada si 
peminjam.

Biasanya kalau BI Rate turun, yang pertama kali turun adalah suku bunga 
tabungan, sementara suku bunga pinjaman turunnya agak susah. Maklum, kesempatan 
bisa dapat cuan lebih banyak.

Saat ini kredit yang disalurkan Bank mencapau 2000 Trilliun rupiah, dengan 
perbedan 0,5% saja (dengan asumsi bunga tabungan dan deposito turun 0,5% 
sementara bunga kredit tetap), maka ada potensi profit tambahan yang bisa 
didapatkan oleh bank adalah 0,5%x2000 T = 10 Trilliun rupiah.

Dampak berantainya adalah, kredit macet perbankan juga turun, karena ditopang 
oleh laba yang meningkat dari selisi bunga tabungan dan bunga kredit.

2. Pertumbuhan ekonomi juga akan meningkat, sebab beban pinjaman makin ringan 
(kalau pada akhirnya bank – bank menurunkan suku bunga sesuai suku bunga acuan 
BI). Sehingga perusahaan akan makin berani untuk meminjam uang kepada bank 
sebab biaya pinjaman akan makin murah (bunga makin rendah), yang pada akhirnya 
Earning atau laba perusahaan di BEI juga meningkat. Yang awalnya laba 1T dan 
beban pinjaman 100 Miliar, bisa jadi laba menjadi 1,05 T dan beban pinjaman 
turun jadi 50 miliar (contoh saja).

3. Konsumsi masyarakat juga akan meningkat, sebab suku bunga makin murah, 
masyarakat akan makin berani berhutang untuk beli kendaraan, sekali lagi karena 
bungnya jadi ringan, dan juga makin berani ambil KPR di bank, yang ujungnya, 
harga tanah bisa naik. sehingga potensi gagal bayar di bank makin rendah.

4. Masyarakat akan keluarin duit dari bank karena merasa bunganya sangat kecil, 
dan beralih ke hal lain, misal konsumsi lebih banyak, karena merasa uangnya 
percuma ditabung, atau beli tanah/properti buat invest atau juga bisa jadi beli 
obligasi pemerintah yang bunganya lbih tinggi atau beli saham, sehingga harga 
saham di BEI naik.

5. Perusahaan pun akan bisa menerbitkan obligasi dengan bunga lebih rendah. 
yang awalnya dulu bunga obligasinya 7% bisa turun jadi 0,5% yang ujungnya2 
seperti di atas, meningkatkan earning atau laba perusahaan. apalagi perusahaan 
yang erat hubungannya dengan keuangan.

 

=======================================
bei5000.com


No virus found in this message.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 2012.0.1869 / Virus Database: 2092/4607 - Release Date: 11/09/11




Kirim email ke