http://www.ipotnews.com/index.php?jdl=Pabrikan_Jepang_Siap_siap_Tinggalkan_Thailand___Indonesia_Jadi_Alternatif_&id=820069

*Pabrikan Jepang Siap-siap Tinggalkan Thailand...Indonesia Jadi Alternatif?*
**
 *Ipotnews* – Beberapa perusahaan Jepang yang selama ini menjadi investor
terbesar di Thailand kemungkinan bakal memindahkan pabrik mereka ke
Indonesia dan Vietnam. Keputusan ini dilakukan setelah banjir besar
menghantam Thailand sehingga mengganggu proses produksi secara global.

“Para eksekutif perusahaan-perusahaan Jepang sangat menyadari betapa
berisikonya melakukan pemusatan (basis produksi) setelah bencana banjir
tersebut,” ujar Takahiro Sekido, Kepala Ekonom Credit Agricole CIB, Tokyo.
“Tren terbaru, investasi di Thailand akan berkurang, meskipun negara
tersebut merupakan tempat yang ideal (untuk berusaha),” papar Sekido
seperti dilansir laman *Bloomberg*, Selasa (15/11).

Sebelumnya, Perdana Menteri Yingluck Shinawatra mengusulkan pengucuran 130
miliar baht atau sekitar 4,2 miliar dollar AS sebagai dana rekonstruksi
serta sejumlah langkah untuk mencegah banjir besar tersebut terulang
kembali di masa mendatang.

Dia berupaya keras untuk meyakinkan para investor bahwa Thailand tetap
menjadi tempat yang aman untuk berbisnis, ketika beberapa perusahaan
multinasional, seperti Pioneer Corporation, Honda Motor Company dan Toyota
Motor Corporation, membatalkan pengumuman proyeksi laba untuk satu tahun
penuh, setelah pabrik mereka harus ditutup akibat banjir. Mereka berdalih
harus menghitung ulang setelah bencana itu.

Selama ini, beberapa pabrikan raksasa menjadikan Thailand sebagai basis
produksi untuk kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya, sehingga ketika negara
tersebut terkena bencana, dampaknya dirasakan secara global. Tak heran jika
bencana tersebut membuat rantai pasokan, terutama untuk pabrikan otomotif
dan elektronik, menjadi terganggu.

Kemarin, Honda mengatakan terus mengurangi produksi di pabrik mereka yang
berada di Amerika Serikat dan Kanada hingga 30 November, dan proses
produksi diharapkan kembali normal pada 1 atau 2 Desember, setelah pasokan
suku cadang dari Thailand pulih.

Gara-gara bencana itu Honda terpaksa mengurangi produksi Amerika Utara pada
bulan ini, serta menghentikan produksi di beberapa pabriknya di sejumlah
negara Asia Tenggara. “Saat ini kami tidak bisa mengumumkan apa pun sebelum
2 Desember,” tutur Ed Miller, juru bicara Honda yang berbasis di Detroit,
Amerika Serikat.

Chief Financial Officer Honda, Fumihiko Ike, berharap Pemerintah Thailand
meningkatkan infrastruktur, termasuk sistem drainase. Honda, tambah Ike,
berencana mengelola produksinya secara fleksibel di beberapa mereka yang
berdekatan dengan Thailand. Selain Honda, banjir juga membuat perusahaan
asal Jepang lainnya, Canon Inc, Nissan Motor Company, Hitachi Ltd dan
Toshiba Corporation menghentikan produksi.

“Kami mengakui perlunya untuk mempertimbangkan diversifikasi investasi di
Thailand dan negara-negara lain di masa mendatang,” tutur juru bicara
Pioneer, Hiromitsu Kimura, melalui telepon pada 10 November, sehari setelah
perusahaan itu memundurkan jadwal penyampaian proyeksi untuk pendapatan
setahun penuh karena bencana di Thailand.

*Kesiapan Indonesia*

Sementara itu, ASEAN yang beranggotakan sepuluh negara menargetkan tahun
2015 membentuk pasar tunggal seperti Uni Eropa, namun tanpa mata uang
bersama. Sepanjang periode 2008-2010, berdasarkan data milik ASEAN, Jepang
tercatat sebagai investor terbesar di kawasan tersebut, melampaui Amerika
Serikat dan China.

Indonesia dan Vietnam—yang tahun lalu lebih banyak menarik investasi asing
daripada Thailand—menurut Tohru Nishihama, ekonom di Dai-ichi Life Research
Institute, Tokyo, terus “mempercantik diri” untuk menggaet investasi lebih
banyak lagi dari Jepang.

“Indonesia memiliki populasi yang begitu besar dan permintaan domestiknya
juga cukup kuat, sementara populasi Vietnam terus berkembang,” papar
Nishihama. Populasi Indonesia dan Vietnam tercatat lebih dari setengah
jumlah rakyat di beberapa negara ASEAN lainnya yang mencapai 591 juta orang.

Indonesia mengimpor 200 ribu kendaraan dari Thailand setiap tahun, dan
beberapa pabrik telah ditutup sementara waktu karena kekurangan suku cadang
yang disebabkan banjir di negara tersebut

Namun, Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, menurut Ketua Umum
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Sudirman Maman
Rusdi, harus berbuat lebih banyak untuk memperbaiki infrastruktur, seperti
jalan, listrik, pelabuhan dan bandara untuk menarik investor. “Sepintas,
ini merupakan kesempatan emas,” ucap Rusdi. “Tetapi masalahnya apakah kita
siap?”

Infrastruktur Thailand dan pembagian kawasan industri, menurut Yoichi
Yajima, dari Japan External Trade Organization (Jetro), menjadikan negara
itu sebagai tempat yang nyaman bagi banyak perusahaan Jepang untuk
menjalankan operasinya.

“Saya tidak melihat adanya penarikan investasi secara besar-besaran dari
Thailand. Selama perusahaan besar seperti Toyota, Nissan, Honda, Toshiba
atau Hitachi tinggal di sini, pemasok mereka tidak akan pergi,” kata Yajima.

Investasi langsung Jepang di Thailand tercatat mengalami lonjakan 35 persen
menjadi sekitar seratus miliar baht pada 2010, dipimpin oleh perusahaan
otomotif, logam dan industri mesin.

Kirim email ke