Mantapzz..
Like it.

Sent from my BlackBerry® hasil cuan

-----Original Message-----
From: positif01 <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 9 Dec 2011 10:18:22 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Lupakan harapan untung bagi trader di IHSG... :)

Pernyataan-pernyataan ini menarik karena bisa dijadikan ajang refleksi
untuk mengukur kelayakan menjadi investor/trader profesional atau hanya
kelas amatir. Kalau penulisnya 'newbie' tentu akan dimaklumi.

Poin pernyataan: Bangkitlah bangsaku jangan biarkan pelaku pasar asing
menjatuhkan pasar kita. Bodoh kalau pelaku pasar domestik ikut menjatuhkan
harga saham-saham. Jangan mau dibodohi asing.

Respon pertama: tersenyum geli dahulu.
Respon berikut: mencerna
Respon selanjutnya: menanggapi rasional

1) Biasanya pernyataan klise seperti itu keluar ketika saham/indeks
bergerak turun. Lucu dan ironisnya, sejak IHSG berada di level 200
pasca-krisis Asia kemudian tertekan kembali krisis finansial global, hingga
saat ini IHSG di level 4.000 yang berarti naik lebih dari 1.000%, kondisi
itu bisa terjadi berkat siapa? KSEI selaku otoritas kustodian saham
Indonesia menyatakan bahwa kepemilikan asing terhadap ekuitas Indonesia
65%. So, tidak mungkin sisa 35% yang mendorong kenaikan fantastis tersebut
ya.

2). Lebih bodoh mana, investor domestik yang ikut melepas porto aset
domestiknya, atau investor asing yang memilih menanamkan dana di pasar di
luar negaranya? Logika pernyataan klise semestinya investor asing itu yang
lebih bodoh, dan lebih kejamnya lagi tidak nasionalis. Kenyataannya, apakah
benar mereka bodoh, atau siapa yang sebenarnya lebih bodoh?

3) Kalau investor asing itu "pintar" menurut logika klise itu, justru Anda
yang menyesal karena tidak ada yang membantu kenaikan pasar domestik Anda,
bukan?

Jadi, permasalahannya bukan nasionalisme atau tidaknya investor, tetapi
apakah posisi porto Anda naik atau turun. Ketika turun maka frustrasi yang
ditumpahkan kepada pasar yang tidak bisa dilawan itu, paling mudah dengan
membawa-bawa bendera nasionalisme.

Sampai di sini, mudah mengukur level dan kualitas pola pikir dan mental
traders/investors, sejauhmana Anda sering mengacu kepada nasionalisme,
ketimbang mengacu kepada pasar dan berteman dengan pasar.

Trader/investor profesional mengacu kepada yang terakhir, pasar. Karena
nilai uang tidak memiliki kewarganegaraan, mata uang yang memiliki
kebangsaan, dan pelaku pasar hanya perduli kepada nilai atau 'value'.

'+'

2011/12/9 HY <[email protected]>

> **
>
>
> Kan sudah dibilang....
> Ada moment naik ragu2... giliran mau turun baru semangat buat naik... :)
> Nanti perbandingannya bursa amerika dan eropa stabil... balik ke 100%
> Nah Indonesia tinggal 50%... Jadi skenario dibuat untuk menjatuhkan nilai
> bursa Asia... terutama Indonesia.
>
> Karena mereka menilai perkembangan ekonomi Indonesia cukup baik dan
> pesat... mereka mau memiliki.
> Tapi apa mereka mau beli di harga yang sudah tinggi ? NO WAY... mereka
> akan bikin anjlok serendah-rendahnya untuk mereka borong.
>
> Bagaimana ? Apakah kita masih mau dibodohi dengan ikut menjatuhkan harga2
> saham perusahaan nasional kita ?
> Be Smart... Indonesia bukan bangsa yang bodohkan ?
> Jadi stop cutloss jangan jual rendah pertahankan portfolio anda. jual
> semahal-mahalnya... agar mereka tidak bisa beli...
> Jika mereka nekad beli... otomatis harga saham kita akan semakin melaju
> tinggi.
>
> Itu baru namanya mencari laba sekaligus memajukan nilai perusahaan2 dalam
> negeri dimata dunia.
>
>
> " Hidupmu adalah Imajinasimu "
>
>  
>



-- 
Follow positif01indo on Twitter: https://twitter.com/#!/positif01indo

Kirim email ke