Jadi IHSG nya gimana, Wani piro pak ?

2011/12/9 positif01 <[email protected]>

> **
>
>
> Pernyataan-pernyataan ini menarik karena bisa dijadikan ajang refleksi
> untuk mengukur kelayakan menjadi investor/trader profesional atau hanya
> kelas amatir. Kalau penulisnya 'newbie' tentu akan dimaklumi.
>
> Poin pernyataan: Bangkitlah bangsaku jangan biarkan pelaku pasar asing
> menjatuhkan pasar kita. Bodoh kalau pelaku pasar domestik ikut menjatuhkan
> harga saham-saham. Jangan mau dibodohi asing.
>
> Respon pertama: tersenyum geli dahulu.
> Respon berikut: mencerna
> Respon selanjutnya: menanggapi rasional
>
> 1) Biasanya pernyataan klise seperti itu keluar ketika saham/indeks
> bergerak turun. Lucu dan ironisnya, sejak IHSG berada di level 200
> pasca-krisis Asia kemudian tertekan kembali krisis finansial global, hingga
> saat ini IHSG di level 4.000 yang berarti naik lebih dari 1.000%, kondisi
> itu bisa terjadi berkat siapa? KSEI selaku otoritas kustodian saham
> Indonesia menyatakan bahwa kepemilikan asing terhadap ekuitas Indonesia
> 65%. So, tidak mungkin sisa 35% yang mendorong kenaikan fantastis tersebut
> ya.
>
> 2). Lebih bodoh mana, investor domestik yang ikut melepas porto aset
> domestiknya, atau investor asing yang memilih menanamkan dana di pasar di
> luar negaranya? Logika pernyataan klise semestinya investor asing itu yang
> lebih bodoh, dan lebih kejamnya lagi tidak nasionalis. Kenyataannya, apakah
> benar mereka bodoh, atau siapa yang sebenarnya lebih bodoh?
>
> 3) Kalau investor asing itu "pintar" menurut logika klise itu, justru Anda
> yang menyesal karena tidak ada yang membantu kenaikan pasar domestik Anda,
> bukan?
>
> Jadi, permasalahannya bukan nasionalisme atau tidaknya investor, tetapi
> apakah posisi porto Anda naik atau turun. Ketika turun maka frustrasi yang
> ditumpahkan kepada pasar yang tidak bisa dilawan itu, paling mudah dengan
> membawa-bawa bendera nasionalisme.
>
> Sampai di sini, mudah mengukur level dan kualitas pola pikir dan mental
> traders/investors, sejauhmana Anda sering mengacu kepada nasionalisme,
> ketimbang mengacu kepada pasar dan berteman dengan pasar.
>
> Trader/investor profesional mengacu kepada yang terakhir, pasar. Karena
> nilai uang tidak memiliki kewarganegaraan, mata uang yang memiliki
> kebangsaan, dan pelaku pasar hanya perduli kepada nilai atau 'value'.
>
> '+'
>
> 2011/12/9 HY <[email protected]>
>
>> **
>>
>>
>> Kan sudah dibilang....
>> Ada moment naik ragu2... giliran mau turun baru semangat buat naik... :)
>> Nanti perbandingannya bursa amerika dan eropa stabil... balik ke 100%
>> Nah Indonesia tinggal 50%... Jadi skenario dibuat untuk menjatuhkan nilai
>> bursa Asia... terutama Indonesia.
>>
>> Karena mereka menilai perkembangan ekonomi Indonesia cukup baik dan
>> pesat... mereka mau memiliki.
>> Tapi apa mereka mau beli di harga yang sudah tinggi ? NO WAY... mereka
>> akan bikin anjlok serendah-rendahnya untuk mereka borong.
>>
>> Bagaimana ? Apakah kita masih mau dibodohi dengan ikut menjatuhkan harga2
>> saham perusahaan nasional kita ?
>> Be Smart... Indonesia bukan bangsa yang bodohkan ?
>> Jadi stop cutloss jangan jual rendah pertahankan portfolio anda. jual
>> semahal-mahalnya... agar mereka tidak bisa beli...
>> Jika mereka nekad beli... otomatis harga saham kita akan semakin melaju
>> tinggi.
>>
>> Itu baru namanya mencari laba sekaligus memajukan nilai perusahaan2 dalam
>> negeri dimata dunia.
>>
>>
>> " Hidupmu adalah Imajinasimu "
>>
>>
>
>
> --
> Follow positif01indo on Twitter: https://twitter.com/#!/positif01indo
>
>  
>

Kirim email ke