*'SPECIAL REPORT: Akankah Kenaikan Harga BBM Merontokkan Perekonomian
Indonesia? (Part 1 of
2)<http://galerisaham.com/2012/02/29/special-report-akankah-kenaikan-harga-bbm-merontokkan-perekonomian-indonesia-part-1-of-2/>
'*

*Note: Karena bahannya kepanjangan, jadi artikelnya dicicil dulu yah teman
- teman. Part 2 nyusul hehe. Info selengkapnya silahkan cek
Disini<http://galerisaham.com/2012/02/29/special-report-akankah-kenaikan-harga-bbm-merontokkan-perekonomian-indonesia-part-1-of-2/>.
Oh iya ditunggu komentar - komentarnya yah, siapa tahu ada masukan yang
bermanfaat bagi kita semua;)*


Dear All,

Beberapa kebijakan pemerintah dan perkembangan bursa komoditi global akhir
– akhir ini menjadi faktor – faktor yang mempengaruhi bursa saham Indonesia
dengan signifikan. Kebijakan BI menurunkan tingkat suku bunga dari 6.00%
menjadi 5.75% menyebabkan penurunan saham perbankan cukup dalam. Sebagai
sektor industri berkapitalisasi terbesar, penurunan sektor perbankan turut
menyeret IHSG ke level yang lebih rendah. Belum reda tekanan jual pada
sektor perbankan, rencana kenaikan BBM bersubsidi hingga sebesar Rp.1500
per liter semakin menekan bursa saham yang pada kesempatan sebelumnya
berpeluang untuk Rally kembali ke level All Time High. Hal ini didorong
oleh kekhawatiran akan menurunnya daya beli masyarakat dan lonjakan
inflasi. Kenaikan BBM Bersubsidi dilakukan untuk menyesuaikan kenaikan
harga minyak mentah dunia yang saat ini mencapai level USD 110.

Akankah level All Time High sebelum krisis 2008 di kisaran USD 147 kembali
tercapai? Akankah kenaikan BBM menggerus potensi pertumbuhan perekonomian
yang lebih baik di Indonesia? Akankah kenaikan BBM melemahkan daya beli
masyarakat sehingga pertumbuhan ekonomi yang 80% didorong oleh konsumsi
dalam negeri ini melambat?

Kami mencoba *flashback *ke tahun 2005, dimana ketika itu harga BBM
bersubsidi naik hampir 2x lipat menjadi Rp. 4.500. Pasca kenaikan BBM
tersebut, perekonomian Indonesia ternyata tidak terlalu mendapat pengaruh
negatif bahkan terus tumbuh signifikan. Hal ini didukung oleh beberapa data
menarik di bawah ini:



*GDP & GDP Per Kapita*

[image: Indikator - GDP Per Kapita] <http://galerisaham.com/gdp-per-kapita>

GDP Indonesia tampak terus mengalami pertumbuhan, dengan GDP per Kapita di
tahun 2005 sebesar USD  1300 melonjak 2x lipat lebih menjadi USD 3000 di
tahun 2010. Tahun 2011 kemarin GDP Per Kapita mencapai level USD 3600! Hal
ini menunjukkan daya beli masyarakan terus tumbuh. GDP per kapita Indonesia
pada tahun 2005 berada pada kisaran USD 1300, pada tahun 2008 sebesar USD
2250. Hal ini menunjukkan dengan kenaikan daya beli yang signifikan,
kenaikan BBM sebesar 33% diperkirakan hanya akan memberikan guncangan
sesaat terhadap konsumsi.



*Pertumbuhan Lapangan Kerja & Tingkat Pengangguran*

[image: Indikator - Job Creation Indo]<http://galerisaham.com/job-creation-indo>

Kenaikan BBM pada tahun 2005 sempat mengakibatkan penurunan pertumbuhan
lapangan pekerjaan (Lapangan kerja baru tetap tumbuh walau ada sedikit
perlambatan) tetapi hal ini tetap kami lihat cukup positif dimana tingkat
pengangguran cenderung mengalami penurunan secara konsisten dari >11% di
tahun 2005 turun ke <7% pada tahun 2011. Kenaikan BBM di tahun 2005 tidak
mengakibatkan resesi, sebaliknya perekonomian terus mengalami pertumbuhan.



*Peringkat Utang*

[image: Indikator - Debt Rating Indo]<http://galerisaham.com/debt-rating-indo>

Menaikkan BBM Bersubsidi berarti mengurangi beban anggaran pemerintah. Hal
ini menjadikan anggaran pemerintah semakin sehat sehingga penyaluran dana
ke proyek – proyek yang bersifat ekonomis & produktif semakin besar
(Pendapatan naik, beban turun. Alhasil peringkat utang Indonesia  mendapat
respon positif dari 2 lembaga pemeringkat yakni Fitch Rating dan Moody’s
dengan kenaikan peringkat secara konsisten kembali ke *Investment Grade*.

* *

*Kinerja Perbankan*

[image: Indikator - Kinerja
Perbankan]<http://galerisaham.com/kinerja-perbankan-indonesia>

Kinerja Perbankan sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia sejak
tahun 2002 hingga 2010 menunjukkan pertumbuhan bisnis yang konsisten.
Kenaikan harga BBM yang hampir mencapai 100% di tahun 2005 tidak
mempengaruhi penyaluran kredit perbankan menjadi negatif. Dari tahun 2002
hingga 2010 total kredit perbankan terus tumbuh positif. Bahkan sepanjang
tahun 2005 – 2006 paska kenaikan BBM tidak terjadi penurunan sama sekali.
Pada tahun 2005 total kredit tumbuh sebesar +24% dan pada tahun 2006 tumbuh
sebesar +13%.



*Kesimpulan Fundamental:*

Dari beberapa indikator di atas yakni: 1. Pertumbuhan GDP & GDP Per Kapita,
2. Pertumbuhan lapangan pekerjaan & tingkat pengangguran, 3. Credit Rating,
serta 4. penyaluran kredit perbankan, tampak bahwa kenaikan BBM tidak
memberi pengaruh negatif terhadap perekonomian dalam jangka menengah dan
panjang walau dalam jangka pendek memungkinkan terjadinya pelemahan
pertumbuhan sesaat. Melihat kondisi demikian, manfaatkan peluang penurunan
pada IHSG sementara ini untuk menyeleksi saham – saham potensial yang
selanjutnya berpeluang mencetak kinerja yang cemerlang.


You may view the latest post at
http://galerisaham.com/2012/02/29/special-report-akankah-kenaikan-harga-bbm-merontokkan-perekonomian-indonesia-part-1-of-2/

-- 

Best Regards,





*Rio Rizaldi* <http://galerisaham.com/>

* *

Website: http://galerisaham.com

Follow Twitter: @Galerisaham <http://twitter.com/#!/GaleriSaham>

Facebook Page: http://www.facebook.com/galerisaham "Like Us"
FREE Mailing List: (kirim email kosong ke)
[email protected]


P Please consider the environment before printing this e-mail

Kirim email ke