He...he...he.., mister bahasanye tinggi amat. Ane sampe bolak-balik bacenye 
untuk ngertiin. Maklum, ane gak ikut program MBA (Manual Buta Aksara). Untung, 
judulnye udeh nerangin. Moga2an ini bukan sekedar copas dari tetangge, tapi 
udeh dianalise dulu. Anyway, keep writing and sending your post. It's up to the 
readers to make their own judgements...he...he...he...

http://equityindonesia.blogspot.com



________________________________
 From: positif01 <[email protected]>
To: 
Sent: Wednesday, 7 March 2012, 8:10
Subject: [saham] Praktis No Debate: It's NO good sign
 

  
Dapat dipastikan komunitas/milis penggemar saham mendadak sontak sepi bak 
kuburan pagi ini. Tidak ada distorsi pemberitaan dan percakapan semu yang marak 
hari ini. Tidak ada lalu lintas pesan tentang satu saham yang diulang-ulang 
di antara pelaku pasar/kelompoknya sendiri melalui berbagai akun dengan 
didahului pertanyaan newbie tentang saham dimaksud. Tidak ada usaha mengangkat 
pembicaraan ilmiah tentang suatu saham yang berujung dengan promosi training, 
seminar atau buku yang disampaikan melalui akun lain (padahal tidak ada yang 
berkepentingan dengan komersialisasi tersebut selain pelakunya sendiri). Tidak 
ada analis institusi yang begitu bersemangat memprovokasi saham tertentu, 
padahal jika rekomendasinya selalu akurat kenapa masih bekerja terima gaji 
hanya sebagai pegawai di sekuritas (risk < reward?). Tidak ada pemanfaatan pers 
untuk mempermak laporan keuangan yang negatif secara kuartalan terakhir tetapi 
ditampilkan positif secara tahunan meski data kuartalan sebelumnya sudah 
direspon pasar. Tidak ada non-sense pemberitaan yang ujung-ujungnya berupaya 
untuk mengangkat minat beli pembaca karena yang bersangkutan belum dapat harga 
terbaik untuk cut loss (misalnya inflasi dan
 dampaknya sudah jelas tapi beritanya inflasi sekian tidak berpengaruh IHSG 
akan sekian).:d

Itulah dunia perdagangan dengan segala rupanya!

Mengapa sepi bak kuburan?

Mudah jawabnya. Karena takdirnya sudah jelas. Ibarat dead man walking atau 
terpidana mati yang tengah berjalan gontai menuju lapangan tembak eksekusi, 
tidak ada yang perlu dipercakapkan, tidak ada yang dapat di-distorsi, karena 
simply tidak ada harapan! Tidak ada harapan untuk suatu distorsi apapun.

Kenapa tidak ada harapan?

Sekali lagi mudah jawabnya. Pasar global sudah terintegrasi. Indikator prospek 
suatu bursa tidak hanya tergantung pada pergerakan instrumen pada bursa 
tersebut, tetapi juga instrumen yang diperdagangkan pada bursa lain. Dan untuk 
ini, 2 ETF berbasis big-caps Indo yang diperdagangkan di NYSE, Selasa, 
mengindikasikan apa yang akan terjadi. No hope!

IDX yang merupakan ETF Indo terbesar yang diperdagangkan di luar Indonesia, 
dibuka langsung gap down -1,78% dan kemudian ditutup pagi ini -2,34%. Terkejut? 
Jangan dulu! Bukan besarnya penurunan yang penting untuk digarisbawahi. Tetapi 
lihatlah VOLUME perdaganganya. Tidak hanya volume yang naik drastis luar biasa 
mencapai 2,5 JUTA atau 6x rata-rata volume perdagangan 3 bulan, dan untuk kali 
pertama terjadi dalam 6 bulan terakhir menembus level 1 juta, tetapi juga 
volume raksasa yang mengindikasikan institutional selling tersebut terakhir 
kali terjadi pada 15 September 2011 ketika IDX, EIDO dan IHSG tumbang bersama 
semua indeks dunia di tengah krisis utang Eropa. Bagi IHSG massive selling pada 
IDX/EIDO bukan hanya institutional selling biasa, tetapi juga selling oleh 
foreign institutions overseas yang dipastikan akan menular kepada local outflow 
di Jakarta (lihat Grafik IDX)

Grafik: IDX - Wow Volume traded in Millions!




Buying on the dip? Instead, your buying will be dipped.

Satu yang diingat pasar saat ini adalah kita bergerak menuju ides March atau 15 
Maret menuju akhir Maret. Dan itu, NO good sign untuk V recovery. Masih banyak 
black swan atau peristiwa yang least expected yang akan muncul serta efek 
seasonality dari indeks global yang memang sudah mencapai peak intermediate-nya 
menjadi katalis volatilitas terhadap pasar global. Dan, IHSG tidak imun 
terhadap ancaman itu. Lebih parahnya lagi, Indonesia justru memiliki katalis 
volatilitas ekstra dibandingkan bursa regional lain: pemangkasan subsidi BBM 
dan inflasi! Tidak hanya itu, dengan turunnya bursa regional maka penyesuaian 
valuasi ekuitas Indonesia yang sudah premium ini menjadi semakin sulit karena 
ekuitas regional yang juga turun dalam tetap menjadi lebih atraktif. 
-- 

'+'
Follow positif01indo on Twitter: https://twitter.com/#!/positif01indo


Persetujuan request followers baru diberikan hanya satu kali tiap akhir kuartal 
maks 500 request / diskresi kami.

 

Kirim email ke