Dear teman-teman,
 
 
topik ini menarik sekali,aku boleh ikut nimbrung yah.kalau vic bilang siapa 
yang mau join atau to do something?aku mau banget.apa aja bisa kita lakukan 
untuk membatu anak-anak jalanan itu kan?dana,tenaga,pendidikan atau dg 
memberikan perhatian seperti pendidikan gratis.tapi vic,semua itu gak mudah 
bukan?butuh org2 yang kuat dan iklas dalam masalah ini.
aku mau bagi-bagi cerita:
 
aku pernah bergabung dalam satu komunitas cyber.kita pernah mengadakan bakti 
sosial untuk anak-anak jalanan di daerah pasar minggu.karna disana ada beberapa 
rumah singgah yang kerap mereka singgahi.banyak yang aku dan teman2 dapatkan 
dari acara tersebut.meskipun aku sendiri hanya memantau dari jauh,karna pada 
saat itu aku tidak menetap di Indonesia.tapi aku masih bisa menyempatkan diri 
datang ke jakarta,melihat bantuan yang sudah terkumpul dan searching ke toko2 
musik membeli alat2 musik buat adik2 jalanan yang mengamen.itu saja yg bisa 
kami lakukan untuk mereka,karna kami belum mampu untuk memberikan yang lebih 
dari itu.
 
bagaimana?apa ada teman-teman disini yang punya niat baik atau membantu 
anak-anak jalanan?dengan semangat yang tinggi aku akan bergabung,dan memerikan 
apa saja dengan kadar kemampuanku.mungkin saja cuma keringat atau lebih dari 
keringat.
 
 
Salam

Victor Jaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
kalo menurut saya tentang anak jalanan gimana sebaiknya kalo dibikin sekolah 
gratis untuk mereka kan kita juga jangan hanya berpangku tangan melainkan 
bertindak dan mereka itu kan tulang punggung bangsa....masa bangsa kita akan 
kehilangan satu generasi karena ketimpangan sosial ini????

dewi Setyarini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Kalau saya bilang sih, anjal adalah 
wajah dari pemerintahan yang buruk di negeri ini. 

Menjadi anak jalanan hanya dialami oleh anak-anak yang lahir dari keluarga 
dengan tingkat kesejahteraan rendah. Masakan ada anaknya orang kaya yang mau 
hidup meminta-minta di jalanan? Sudah sejak jaman dulu, dan paling parah pada 
jamannya pemerintahan orba, orang2 yang tingkat kesejahteraannya rendah tlah 
terbiasa dilesakki dengan hal2 yang berbau charity...berbau kedermawanan. 

Its OK kalo sekadar memberi pada yang kekurangan tapi diimbangi dengan pikiran 
untuk mencerahkan kaum papa. Nyatanya, pemerintah hanya berhenti pada memberi 
dan titik. Dan itu berakibat buruk pada si papa yang melahirkan anak-anak 
jalanan. Mereka jadi tergantung pada orang lain, bahkan sekadar untuk makan dan 
berpakaian. See... pemerintah telah mematikan spirit of struggle dengan 
ke'baik'an hatinya memberi dan memberi, sedikit demi sedikit, agar kemiskinan 
si papa tetap langgeng, dan pemerintah tetap akan jadi 'hero' yang melindungi 
si miskin, dengan kedermawanannya, dan bukan dengan cara memerangi kepapaan. 

So that, anjal adalah imbas dari kemiskinan, dan kemiskinan ini. buruknya, 
diciptakan secara struktural dan dilestarikan.

Maka itu, anak jalanan akan 'hilang' dengan sendirinya jika tingkat 
kesejahteraan warga Indonesia sudah membaik. But how? Dengan mendidik mereka, 
agar mereka mengetahui wat happen sebenarnya... dengan mennyuntikkan spirit of 
struggle. Ini bukan pekerjaan mudah dan instan, coz jika pun kita kerja 
sekarang, hasilnya akan dinikmati bertahun2 kemudian. Tapi kalo kita tidak 
segera melakukannya, masa depan Indonesia bakalan suram. Tiap traffic light 
bakal ada an-jal, tiap sudut-sudut luar mall yang megah bakal makin marak 
dengan an-jal yang lusuh, bahkan mungkin di tiap-tiap muka masjid dan gereja 
bakal berhiaskan an-jal.

Idealnya pemerintah bikin program pendidikan murah, bikin program pembangunan 
yang adil, yang menjadikan akses informasi mudah didapat siapa saja, kesehatan 
murah, dan bla2. Dan karena kita bukan pemerintah, kali yang bisa kita lakukan 
adalah menjadi ortu asuh mereka, ato langsung menjadi guru  mereka 
(ketrampilan, watever), buka taman bacaan, perpus keliling (apapun yang 
bersifat tidak membunuh kemanusiaan mereka). Memberi pada saat mereka minta2 di 
jalanan tentu sah2 saja, tapi ini hanya solusi yang tentatif dan bukan solusi 
yang yang sebenar-benarnya. 

OK. Sejauh ini gue sndiri blum mampu melakukan hal2 spt tsb di atas, tpi kalo 
ada yang sepakat dg pendapatku, en mo join bareng to do something, lets do it 
together. Peace...








Nur Hasyim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sebenarnya banyak yang bisa kita lakukan untuk masalah
ini misalkan dengan membiayai mereka2 itu untuk masuk
sekolah dan membebaskanya dari jeratan mafia, mungkin
anda juga bertanya biayanya gimana?

Sebenarnya dalam ajaran agama(islam) ada istilah zakat
yang menurut saya tidak pernah di jalankan dengan
benar, coba bayangkan misalkan setiap orang yang
meimiliki penghasilan diatas 1 jt di wajibkan bayar
zakat 2,5% = Rp25.000 dan misalkan dalam satu kota
seperti di tempat saya tinggal surabaya misalkan ada
sekitar Rp100.000 orang dengan penghasilan tersebut
maka uang yang terkumpul kurang lebih Rp2.500.000.000
(dua setengah milyar)

Itu kalo penghasilanya rata2 1 juta padahal yang
penghasilanya di atas itu 2jt atau sampai 5 jt ada
berapa banyak, yang jadi masalah kadang kita terlalu
takut menjadi miskin dengan mambayar zakat.

Untuk yang merasa muslim ingat di dalam harta kalian
ada sebagian yang merupakan hak-hak anak-anak tersebut
yang belum anda berikan.


salam
hasyim

--- Toni Tegar Sahidi <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> 
> 
> Wah ya jangan dibiarkan mati tho, yang namanya anak
> jalanan itu kan bagaimanapun juga adalah manusia.
> Coba kalo ANda digitukan? mau? Itu namanya bukan
> mati sevara terhormat, namun mati sebagai seorang
> manusia yang sia-sia.
> Apakah itu sebuah Eksploitasi..?? saya rasa bukan.
> Yang meksploitasi mereka pada dasarnya adalah para
> preman2 ataupun mafia2 yang mengkoordinir Anak2
> jalanan itu sehingga mereka tetap menjadi Anjal
> hingga sekarang. Tapi bukanlah caranya jika kita ber
> suudzon sehingga kita tidak mau meberikan rupiah
> bagi mereka..!!
> Dengan memberikan mereka beberapa rupiah, itu
> bukanlah eksploitasi bagi mereka. Jika kita
> berpositive thinking, setidaknya uang itu dapa
> menyambung hidup mereka. MESKI HANYA SATU JAM...!!
> Atau pun jika Anda berpikir bahwa mereka dikoordinir
> oleh semacam mafia, Setidaknya kita bisa mengurangi
> sebuah pukulan yang diberikan oleh bos mereka hanya
> karena setoran mereka kurang.
> Namun dibalik itu, sebenarnya memberi mereka uang
> masih adalah jauh lebih mulia daripada tidak. Meski
> itu hanya berefek pendek. Mau hal yang berefek
> panjang..?? jadikan mereka jadi anak asuh.
> Sekolahkan, dan penuhi kebutuhannya. Ini akan
> menjadi sebuah efek berantai bagi pahala dan amal
> anda untuk seterusnya. MAu tahu cara yang lain? ini
> saya lampirkan (di bagian paling bawah email ini)
> sebuah cerita dari eramuslim.com n moga berguna. Tak
> hanya mengentas anak jalanan, namun juga mengangkat
> mereka dan orang2 disekitar mereka, menjadi jauh
> lebih ......
> Ingin sebenarnya saya juga melakukan apa yang saya
> katakan diatas. Namun apalah daya, diri ini masih
> SMA kelas 3, NAmun sungguh benar, bahwa jika kelak
> saya diberi Rizki yang berlebih dari Allah, Insya
> Allah akan saya usahakan untuk melakukan hal diatas.
> so doain saya ya..!!
> sesama orang baru...   Salam kenal, aku jugabaru
> koq..   ^_^;
> 
> (Baca lampiran di bagian paling bawah email ini..)
>   ----- Original Message ----- 
>   From: [EMAIL PROTECTED] 
>   To: [email protected] 
>   Sent: Monday, April 18, 2005 11:10 AM
>   Subject: Re: [Sarikata.com] anak jalanan
>   Kalau menurut saya, berilah dan tidak usah
> berpikir macam-macam tentang
>   mereka karena
>   tak ada yang buruk dengan memberi, apalagi memberi
> dengan ikhlas dan dari
>   kekurangan anda.
>   Lebih baik memberi daripada menerima bukan?
>   Salam.
> 
> 
>   sari mawar <[EMAIL PROTECTED]> on 18/04/2005
> 10:43:51
>   Please respond to [email protected]
> 
>   To:   [email protected]
>   cc:    (bcc: Antonius S Santosa/1000/SJB)
>   Subject:  Re: [Sarikata.com] anak jalanan
> 
> 
>   kalau menurut saya, kalau anda mau memberi
> berilah, kalau tidak jangan.
>   Jangan sampai apa yang anda berikan tidak menjadi
> berkat buat dia. Untuk
>   urusan perkataan apakah itu mengeploitasi mereka,
> itu masalah yang bicara
>   saja. Mungkin anda coba mencari cara lain dalam
> memberi. Kan memberi tidak
>   harus berupa uang, mungkin dengan mengajarkan
> keterampilan yang anda
>   miliki. Kalau soal peraturan pemerintah?????????
> jangan harap pemerintah
>   memikirkannya, karena mereka sudah sibuk dengan
> pikiran mereka masing2
>   bagaimana untuk mempertahankan kedududkan mereka
> di sana.
>   Anak jalanan? ga tahu tuch?????Penting apa anak
> jalanan itu?(mungkin itu
>   kali yach pikiran mereka)Semoga bisa berguna
> thanks.
> 
>   akubiru_85 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
>   halo, aku orang baru. namun aku tertarik
> mengemukakan satu pertanyaan
>   yang selama ini mengganggu. apa memberi sedekah
> pada org2 di jalanan
>   itu benar suatu eksploitasi terhadap mereka
> sendiri? burukkah itu? apa
>   lebih baik membiarkan mereka mati begitu saja 'dgn
> terhormat'? (krn
>   pemerintah kita belum scr jelas memberi perhatian
> terhadap hal ini.
> 
> 
> 
>   ::Berhenti Menjadi Pengemis
> 
>    
> 
>   Publikasi: 05/10/2004 11:18 WIB
> 
>   eramuslim - Selama ini, saya selalu menyediakan
> beberapa uang receh untuk berjaga-jaga kalau
> melewati pengemis atau ada pengemis yang
> menghampiri. Satu lewat, ku beri, kemudian lewat
> satu pengemis lagi, kuberi. Hingga persediaan receh
> di kantong habis baru lah aku berhenti dan
> menggantinya dengan kata "maaf" kepada pengemis yang
> ke sekian. 
> 
>    
> 
>   Tidak setiap hari saya melakukan itu, karena
> memang pertemuan dengan pengemis juga tidak setiap
> hari. Jumlahnya pun tidak besar, hanya seribu rupiah
> atau bahkan lima ratus rupiah, tergantung
> persediaan. 
> 
>    
> 
>   Sahabat saya, Diding, punya cara lain. Awalnya
> saya merasa bahwa dia pelit karena saya tidak pernah
> melihatnya memberikan receh kepada pengemis. Padahal
> kalau kutaksir, gajinya lebih besar dari gajiku.
> Bahkan mungkin gajiku itu besarnya hanya setengah
> dari gajinya. Tapi setelah apa yang saya lihat
> sewaktu kami sama-sama berteduh kehujanan di Pasar
> Minggu, anggapan saya itu ternyata salah. 
> 
>    
> 
>   Seorang ibu setengah baya sambil menggendong
> anaknya menghampiri kami seraya menengadahkan
> tangan. Tangan saya yang sudah berancang-ancang
> mengeluarkan receh ditahannya. Kemudian Diding
> mengeluarkan dua lembar uang dari sakunya, satu
> lembar seribu rupiah, satu lembar lagi seratus ribu
> rupiah. Sementara si ibu tadi ternganga entah apa
> yang ada di pikirannya sambil memperhatikan dua
> lembar uang itu. 
> 
>    
> 
>   "Ibu kalau saya kasih pilihan mau pilih yang mana,
> yang seribu rupiah atau yang seratus ribu?" tanya
> Diding 
> 
>    
> 
>   Sudah barang tentu, siapa pun orangnya pasti akan
> memilih yang lebih besar. Termasuk ibu tadi yang
> serta merta menunjuk uang seratus ribu. 
> 
>    
> 
>   "Kalau ibu pilih yang seribu rupiah, tidak harus
> dikembalikan. Tapi kalau ibu pilih yang seratus
> ribu, saya tidak memberikannya secara cuma-cuma. Ibu
> harus mengembalikannya dalam waktu yang kita
> tentukan, bagaimana?" terang Diding. 
> 
>    
> 
>   Agak lama waktu yang dibutuhkan ibu itu untuk
> menjawabnya. Terlihat ia masih nampak bingung dengan
> maksud sahabat saya itu. Dan, "Maksudnya... yang
> seratus ribu itu hanya pinjaman?" 
> 
>    
> 
>   "Betul bu, itu hanya pinjaman. Maksud saya begini,
> kalau saya berikan seribu rupiah ini untuk ibu,
> paling lama satu jam mungkin sudah habis. Tapi saya
> akan meminjamkan uang seratus ribu ini untuk ibu
> agar esok hari dan seterusnya ibu tak perlu
> meminta-minta lagi," katanya. 
> 
>    
> 
>   Selanjutnya Diding menjelaskan bahwa ia lebih baik
> memberikan pinjaman uang untuk modal bagi seseorang
> agar terlepas dari kebiasaannya meminta-minta.
> Seperti ibu itu, yang ternyata memiliki kemampuan
> membuat gado-gado. Di rumahnya ia masih memiliki
> beberapa perangkat untuk berjualan gado-gado,
> seperti cobek, piring, gelas, meja dan lain-lain. 
> 
>    
> 
>   Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya kami
> bersama-sama ke rumah ibu tadi yang tidak terlalu
> jauh dari tempat kami berteduh. Hujan sudah reda,
> dan 
=== message truncated ===



            
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Plan great trips with Yahoo! Travel: Now over 17,000 guides!
http://travel.yahoo.com/p-travelguide


Kirim kontribusi cerita Anda ke http://www.sarikata.com/ sekarang juga !!
Untuk Unsubscribe, kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED] 



---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



Kirim kontribusi cerita Anda ke http://www.sarikata.com/ sekarang juga !!
Untuk Unsubscribe, kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED] 



---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 



            
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new resources site! 

[Non-text portions of this message have been removed]



Kirim kontribusi cerita Anda ke http://www.sarikata.com/ sekarang juga !!
Untuk Unsubscribe, kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED] 



---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/wnIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Kirim kontribusi cerita Anda ke http://www.sarikata.com/ sekarang juga !!
Untuk Unsubscribe, kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke