Mengenang Pembaruan-Islam Cak Nur

Oleh Ismatillah A. Nu'ad *
Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Nurcholish Madjid (Cak Nur) kemarin 
berpulang ke rahmatullah. Bapak pembaruan pemikiran Islam itu meninggal 
dunia pada usia 66 tahun. 

Mengenang sosok almarhum tidak bisa dipisahkan dari munculnya gerakan 
pembaruan pemikiran Islam pada 35 tahun silam. Mengenang gerakan itu kurang 
pas jika tak menyebut nama besar Cak Nur. Mengabaikan Cak Nur sama seperti 
garam tanpa asin. 

Dia dinisbatkan sebagai gerbong pembaruan karena pada awal dekade 70-an 
menggelontorkan gagasan rasionalisasi-agama sebagai jargon dari gerakan 
pembaruan-Islam. Pada acara halalbihalal organisasi muda Islam, Cak Nur 
memberikan ceramah berjudul Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah 
Integrasi Umat di Jalan menteng Raya No 58, Jakarta Pusat. Gagasan yang 
ditebarkan cukup menggetarkan karena tak lazim. Dia bicara soal 
rasionalisasi, sekulerisasi, desakralisasi, modernisasi-Islam, dll. 

Menurut Cak Nur, sekulerisasi berarti rasionalisasi-agama, dalam arti 
mengartikulasi pesan-pesan moral agama pada tataran realitas kehidupan. 
Sementara itu, modernisasi tidaklah identik dengan westernisasi, tetapi 
merupakan spirit yang hendaknya memacu umat Islam untuk berbuat seperti 
dalam kemajuan-pencerahan yang terjadi di Barat (Tarekat Nurcholisy: 2001). 

Gagasan-gagasan itu kemudian mendapatkan kritik dan serangan bertubi-tubi 
dari kelompok skripturalis-tekstualis muslim, di antaranya dari kelompok 
Dewan Dakwah. H M. Rasjidi merupakan salah satu pentolannya. Rasjidi adalah 
seorang sarjana muslim dari Universitas di Prancis dan penerjemah buku-buku 
bahasa Prancis ke dalam bahasa Indonesia.

Sebaliknya, kritik bertubi-tubi tak membuat surut Cak Nur. Gagasannya di 
awal 1970-an, misalnya, dipertegas lagi setelah Cak Nur merampungkan studi 
di Universitas Chicago awal dekade 80-an. 

Pada saat itu, Cak Nur banyak menawarkan pendekatan baru yang dianggap "tak 
lazim" dalam ajaran Islam, yaitu kesemuanya lahir dari tafsir dan 
konsekuensi terhadap gagasan rasionalisasi-agama. Sebuah gagasan R. William 
Liddle (1995) yang mereduksi dari Robert N. Bellah, seorang sosiolog-agama 
kenamaan dari Amerika. Gagasan itu, menurut Liddle, dielaborasi Cak Nur 
dalam makalah kerjanya ketika berada di perjalanan dari Chicago.
***
Setelah pulang dari Chicago, lantas banyak kalangan skripturalis-tekstualis 
muslim yang merasa tak salah menduga bahwa Cak Nur memang agen orientalis. 
Sebab, kampus Chicago di dunia Islam terkenal sebagai sarang para orientalis 
kenamaan, seperti Wilfred Cantwell-Smith, Marshal G. S. Hodgson. Selain itu, 
di sana juga ada pemikir muslim yang menjadi gerbong modernisasi dan 
pembaruan-Islam karena mendekati agama dengan jalan rasional, seperti Fazlur 
Rahman. 

Cak Nur, sebagai salah satu mantan murid Rahman, seperti juga Amien Rais dan 
Syafii Maarif, secara otomatis mengikuti gaya pemikiran Rahman yang 
rasional. Tampaknya dari Rahman itulah, bukan dari Bellah seperti pendapat 
Liddle, Cak Nur mendapat inspirasi awal mengenai gagasan rasionalisasi 
agama. 

Gayung pun bersambut. Cak Nur rupanya tak hanya dikritik. Namun, banyak pula 
sambutan hangat yang datang dari kalangan-kalangan yang sepaham dengannya. 
Kalangan yang sepaham itu, pada substansinya, adalah orang-orang yang tidak 
mau lagi memahami Islam secara mainstream dan selama itu dianggap 
otoritatif. 

Pendekatan terhadap Islam nonmainstream yang dianggap tak otoritatif itu, 
ternyata, lebih menyegarkan dan relevan dengan gejolak pemikiran-pemikiran 
liar di kalangan aktivis muda Islam khususnya. Keliaran pemikiran terjadi 
akibat persinggungan tradisi dan khasanah pemikiran modern dari Barat.

Pengikut Cak Nur yang setia dan paling awal datang dari kalangan 
aktivis-muslim, katakanlah seperti Djohan Effendi, M. Dawam Rahardjo, Utomo 
Dananjaya, Adi Sasono, Eki Syachrudin dan orang-orang yang pernah bergabung 
di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) atas latar pemikiran yang sejalan dengan 
Cak Nur. 

Mereka dikatakan seperti itu karena tak sedikit juga di HMI yang tak sejalan 
dengan gagasan-gagasan pembaruan Cak Nur. Oleh Greg Barton (1999) kemudian 
dipilah orang-orang yang masuk kelompok neomodernis dan orang-orang yang 
dikategorikan substansialis. Namun, keduanya sama-sama memperjuangkan 
gerakan pembaruan-Islam di Indonesia.

Kelompok neomodernis dinisbatkan karena telah memperbarui kalangan 
modernis-muslim yang menggelontorkan gagasan modernisasi-Islam. Tokohnya 
adalah Fazlur Rahman. Kelompok neomodernis, menurut Barton, terbentuk karena 
mereka tak hanya punya akses dalam khasanah tradisi intelektual 
Barat-modern. Namun, juga punya akses yang cukup luas dari khasanah tradisi 
klasik-pesantren. 

Kelompok substansialis, menurut Barton, punya akses besar terhadap khasanah 
intelektual Barat-modern, tapi kurang mendapatkan akses khasanah intelektual 
klasik-Islam. Kelompok neomodernis diwakili oleh orang seperti Cak Nur 
sendiri, kemudian Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Yang mewakili kelompok 
substansialis adalah M. Dawam Rahardjo, Adi Sasono, dll.
***
Dalam perjalanannya, gerakan pembaruan-Islam Cak Nur dianggap bukan suatu 
barang baru. Sebab, lama sebelum Cak Nur memelopori gerakan pembaruan, 
Muhammadiyah sebagai salah satu ormas Islam terbesar juga mengklaim sebagai 
gerakan pembaru. 

Kategori umum mengenai gerakan pembaruan lantas juga merujuk pada gerakan 
salafi-Wahabi di Arab yang kemudian membentuk Kerajaan Saudi pengklaim 
penjaga dua kota suci Makkah-Madinah. Jika dirujuk masa awalnya, gerakan 
pembaruan dipelopori Rifaat Tahtawi, Jamaluddin Afghani, Muhammad Abduh, dan 
Rasdyid Ridha di Mesir. 

Menurut Thoha Hamim, ciri umum gerakan pembaruan, antara lain, kembali 
kepada ajaran Quran, sunnah, dan tradisi salaf, menolak praktik-praktik 
taklid (ittiba'), berpikir rasional yang menafsir sumber-sumber ajaran Islam 
secara aktual, dan yang paling menonjol tentu saja memerangi bidah dan 
khurafat. (Thoha Hamim, Moenawar Chalil's Reformist Thought, 2000) 

Memang, geneologi gerakan pembaruan beserta ciri umumnya itu turut serta 
menginspirasi gerakan pembaruan Cak Nur. Namun, untuk menggeneralisasi 
kesamaan secara menyeluruh juga tak dapat dibenarkan. Jadi di sini, model 
pembaruan di Mesir berbeda dengan pembaruan ala Wahabi di Arab Saudi, begitu 
pula pembaruan ala Wahabi berbeda dengan Muhammadiyah di Indonesia. 
Akhirnya, gerakan pembaruan Muhammadiyah berbeda pula dengan pembaruan Cak 
Nur. 

Meski semua gerakan pembaruan itu mengklaim pewaris generasi salafi, salafi 
di Arab Saudi berbeda dengan salafi Muhammadiyah. Jika salafi di Arab Saudi 
berarti Wahabisme fanatik, radikal, dan tak toleran serta tak akomodatif 
dengan mazhab di luar mazhab Wahabi itu sendiri, salafi Muhammadiyah justru 
sebaliknya. Yakni, bersifat moderat, tradisional, dan akomodatif-demokratis. 


Bahkan, organisasi terbesar lainnya, seperti Nahdlatul Ulama (NU) "saudara 
kandung Muhammadiyah" tak hanya akomodatif, tapi juga oportunis dalam soal 
komparasi mazhab fikih. 

Berbeda jauh dengan itu, salafi pembaruan Cak Nur bahkan melampaui salafisme 
Muhammadiyah maupun NU sekalipun. Salafi pembaruan Cak Nur lazimnya 
bersinggungan dengan modernitas Barat yang didapat dari hasil persinggungan 
dengan dunia akademis-nontradisional. 

Karena pembaruan Cak Nur lahir dari kampus, maka konsekuensinya, dalam 
jumlah masif, banyak "Cak Nur muda" di masa sekarang yang mengikuti jejak 
langkahnya. Dalam pelbagai warna, pembaruan Cak Nur ditafsirkan oleh mereka 
sehingga lahir pula tafsir yang lebih mengerucut terhadap pembaruan Cak Nur, 
entah mereka yang kemudian menamakan kelompok postradisionalisme-Islam 
(Postra), Islam-liberal (Islib) maupun Islam-progresif. 

Yang jelas, pembaruan Cak Nur dikatakan cukup berhasil karena tak hanya 
memperkenalkan model rasionalitas berpikir dalam mendekati agama, tapi juga 
berhasil mengelaborasi, mendemonstrasi, dan mengaktualisasikannya dalam 
realitas kekinian. Karena itu, tak hanya pengkritiknya, pengikutnya pun 
terus ada dan tetap eksis sampai kapan pun.*** 

* Ismatillah A. Nu'ad, bekerja di Center for Moderate Moslem (CMM) di 
Jakarta


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/wnIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ditunggu selalu kontribusinya baik lewat website maupun mailing list.

Cara kirim cerita di website Sarikata.com :
http://www.sarikata.com/index.php?fuseaction=home.kirim_cerita
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke