Mengatasi Kekhawatiran 

Krisis ekonomi berkepanjangan membuat Joni, sarjana sebuah perguruan 
tinggi swasta di Bandung semakin khawatir akan masa depannya, apalagi 
setelah lebih dari 25 lamaran yang dikirimkannya tidak satu pun 
mendapat respon positif. Ia menjadi stres. Beragam berita buruk yang 
setiap harinya di bacanya di koran turut memperberat beban 
pikirannya. Hampir setiap saat ia selalu bertanya dalam hatinya, "Apa 
yang akan terjadi padaku jika keadaan ini tidak juga membaik?" 
Kekhawatiran ini membuat Joni semakin pesimis dalam menghadapi hidup. 

Berbeda dengan Joni, Agus sangat optimis dalam memperjuangkan masa 
depannya. Ia ingat pesan seorang motivator bernama Krishnamurti yang 
mengatakan, "Berhentilah Menunggu Kondisi Membaik. Lakukan Sesuatu 
agar Kondisi Membaik!" Agus yang adalah teman sekelas Joni saat 
kuliah, tidak putus asa meski telah sekitar 40 perusahaan yang 
menolak lamarannya. Sejak beberapa bulan lalu ia telah berwirausaha 
kecil-kecilan dengan membuka usaha warung makan di garasi rumah orang 
tuanya. 

Suatu hari Agus bertemu dengan Joni dan mereka saling bercerita 
tentang kisah hidup masing-masing. Dalam hati, Joni merasa agak "iri" 
dengan Agus yang kini telah dapat membeli sebuah sepeda motor dari 
usaha warungnya meski secara kredit. "Enak ya kamu sekarang sudah 
sukses," kata Joni. Agus hanya tersenyum dan mengucapkan terima 
kasih. 

Dalam hati, timbul juga keinginan Agus untuk memberikan dorongan 
kepada sang sahabatnya. Agus kemudian menceritakan kisah seorang 
pemuda miskin yang saban hari hanya duduk di atas sebuah jembatan 
sambil memperhatikan seorang nelayan yang sedang memancing ikan. 

Ketika pemuda tersebut melihat ikan-ikan hasil tangkapan dalam 
keranjang ia berkata, "Ah, seandainya saya memiliki ikan sebanyak 
itu, tentu hidup saya tidak akan seperti ini lagi. Hidup saya akan 
berubah menjadi lebih baik karena saya bisa menjual ikan-ikan 
tersebut untuk membeli pakaian dan makanan." 

Suatu ketika, seorang nelayan meminta tolong pemuda ini untuk menjaga 
tali pancingannya. "Anak muda, saya harus pergi sebentar ke ujung 
jalan itu. Ada sesuatau yang harus saya lakukan. Maukah engkau 
menolong saya untuk menjaga tali pancing ini? Tentu saya akan 
memberikan sejumlah ikan hasil pancingannya kepadamu sebagai 
imbalannya," kata nelayan itu. 

Dengan senang hati, pemuda miskin ini menerima tawaran tersebut. 
Tidak lama kemudian ikan mulai mengggigit tali pancing yang 
dipegangnya. Ia sangat senang. Tanpa terasa selama hampir 2 jam itu, 
ia telah mendapatkan lebih dari sepuluh ekor ikan. Ia tersenyum lebar 
dan tampak begitu menikmati pekerjaannya. 

Setelah sang nelayan kembali, pemuda miskin ini menyerahkan tali 
pancingnya beserta ikan dalam keranjang. "Anak muda, ambillah semua 
ikan itu. Engkau berhak memperolehnya karena engkau telah bekerja," 
kata sang nelayan sembari menyerahkan keranjang berisi ikan-ikan 
tersebut. 

Ketika si pemuda miskin ini hendak beranjak pergi, sang nelayan 
berujar, "Anak muda, engkau masih sangat muda. Energimu masih sangat 
banyak dan engkau tampak sehat bugar. Aku ingin memberikan sedikit 
nasihat bagimu. Jangan pernah menghabiskan waktumu untuk berkhayal 
dan berharap akan mendapatkan sesuatu tanpa bekerja. Sibukkanlah 
dirimu, lemparkan tali pancing yang engkau miliki dan wujudkan 
impianmu." Pemuda miskin ini hanya bisa terdiam dan menyadari 
kekeliruan yang selama ini ia lakukan. 

Kisah yang dialami Joni dan pemuda miskin ini barangkali juga pernah 
atau sedang kita alami. Kita kerap kali hanya khawatir akan masa 
depan tanpa mengambil upaya sedikit pun untuk menciptakan masa depan. 
Dulu saya pernah berpikir kalau Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang 
tentu Ia akan memberikan semua yang kita butuhkan tanpa kita harus 
berusaha. Ternyata, anggapan seperti itu keliru. 

Lewat pengalaman hidup saya banyak belajar kalau Tuhan tidak akan 
pernah mau mengurusi hal-hal yang bisa kita kerjakan sendiri. Tuhan 
tidak akan mengubah nasib kita jika kita sendiri tidak mau 
mengubahnya. Bukankah kita telah diberikan beragam anugerah yang luar 
biasa, seperti akal-budi, tangan, kaki, dsb. Kita seharusnya 
memanfaatkan semuanya itu demi mewujudkan hari esok yang lebih baik. 

Firman Tuhan mengatakan burung-burung yang tidak menabur dan menuai 
pun diberi makan oleh-Nya tetapi bukankah Tuhan tidak melemparkan 
makanan ke dalam sarang burung-burung tersebut? Burung-burung itu 
tetap harus berusaha untuk mendapatkan makanan. Saya sangat percaya 
kalau segala upaya yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh jika 
disertai dengan doa tentu akan mendapatkan ganjarannya. 

Dengan demikian tidak ada gunanya kita khawatir akan masa depan. 
Dalam berbagai seminar saya sering mengatakan bahwa dengan 
kekhawatiran yang berlebihan kita secara tidak sadar sedang 
memaksakan hal-hal buruk terjadi dalam hidup kita. 

Menurut saya, ada beberapa langkah efektif untuk mengatasi 
kekhawatiran itu. Pertama, dengan berdoa dan mendekatkan diri kepada-
Nya. Kedua, analisa sumber kekhawatiran Anda dan cari solusinya. 
Misalnya jika saya memiliki kekhawatiran dalam soal keuangan maka 
saya harus lebih pandai dalam mengelolah keuangan saya, atau bila 
perlu harus mencari alternatif untuk memperoleh penghasilan tambahan. 
Ketiga, berkonsultasilah kepada orang yang tepat jika memang 
diperlukan. Seringkali masalah kita bertambah sulit karena kita 
mencari solusi dari orang yang salah. Keempat, bertindaklah atau 
lakukan sesuatu. Tindakan yang tepat secara perlahan-lahan akan dapat 
menghapus kekhawatiran kita. Sebagai contoh, hingga beberapa tahun 
lalu saya amat khawatir jika keesokan hari harus berbicara dalam 
sebuah seminar. Sering pada malam harinya saya tidak bisa tidur. 
Syukurlah hal ini bisa saya atasi dengan membaca sejumlah buku 
mengenai public speaking dan latihan terus-menerus. Saya membutuhkan 
waktu lebih dari dua tahun untuk dapat mengatasi kekhawatiran 
tersebut. 

Perkenankanlah saya menutup jumpa kita kali ini dengan nasihat bijak 
dari Jenderal George S. Patton, "Worry does not help anything but it 
hurts everything." Ya, kekhawatiran tidak akan membuat keadaan 
bertambah baik melainkan memperburuk keadaan. Jadi, buat apa 
khawatir? *** 

Sumber: Mengatasi Kekhawatiran  oleh Paulus Winarto. Paulus Winarto 
adalah pemegang dua Rekor Indonesia dari MURI (Museum Rekor 
Indonesia), yakni sebagai pembicara seminar pertama yang berbicara 
dalam seminar di angkasa dan penulis buku yang pertama kali bukunya 
diluncurkan di angkasa. 


----
Best regards,
Tombo Ati  
  



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/wnIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ditunggu selalu kontribusinya baik lewat website maupun mailing list.

Cara kirim cerita di website Sarikata.com :
http://www.sarikata.com/index.php?fuseaction=home.kirim_cerita
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke