Kenapa Harus Anakku, Vina?
AKU sering membaca tentang deviasi seksual di media massa. Biasanya aku baca
sambil tertawa-tawa, lucu, karena kukira hal semacam itu hanya canda atau
gurauan saja, dan tidak akan pernah aku pikirkan benar-benar terjadi. Tapi,
tertawaanku itu kini menjadi tangisan. Tak pernah aku sangka, dalam
keluargaku, diam-diam, bibit kelainan seksual itu telah tumbuh, dan siap
menularkannya pada buah hatiku. Bantu aku...
Aku Vera (39) bekerja pada perusahaan swasta. Suamiku yang pegawai negeri,
membuatku sejak awal merencanakan punya hanya dua anak. Dan begitulah,
menikah di usia yang cukup muda, anakku sekarang sudah besar, Ira kelas 6 SD
dan Roni kelas 4 SD. Rumah kami di kompleks perumahan sederhana. Hanya ada 3
kamar di rumah, dan karena penghematan, tak ada juga pembantu di rumah kami.
Kamar utama kutempati dengan Mas Dian, kamar kedua untuk Roni, dan kamar
ketiga untuk Vina (31) iparku, adik Mas Dian, dan Ira. Ira sengaja aku
pisahkan dari Roni karena dia sudah cukup besar, apalagi badannya pun cepat
sekali tinggi, seperti ayahnya. Dengan sekamar bersama Vina, kuharapkan
kalau ada apa-apa, Vina cepat menjelaskan kepada keponakannya itu. Mereka
sekamar sejak setahun lebih lalu, setelah Vina ke sini, karena pindah kerja
dari Yogyakarta.
Vina masih lajang. Kata Mas Dian, dia pemilih. Aku percaya, melihat dirinya
cantik dan seksi, wajar kalau dia cukup pemilih. Dan selama setahun tinggal
bersama kami, memang beberapa lelaki datang bertamu, dan wajah-wajah baru
selalu bergantian mengantarnya pulang. Tapi tiap kali aku goda, "Yang mana
nih, Vin?" dia hanya tertawa, dan mengedipkan mata.
Vina juga baik. Dia rajin. Jika libur, dia banyak membantu membersihkan
rumah. Dan setiap pagi, dialah yang menghardik anak-anak agar mandi,
membantu merapikan baju mereka, dan kadang membantuku membuat sarapan dan
bekal untuk anak-anak. Dia juga sangat manja dengan Mas Dian. Vina memang
adik terkecil keluarga Mas Dian. Kemanjaan itu malah terkesan kolokan di
mataku.
Meski hubungan kami cukup dekat, tapi Vina tak pernah membahas masalah
pribadinya. Kalau kutanyakan ke Mas Dian pun, suamiku hanya menggeleng saja.
"Dia agak tertutup. Mungkin karena dulu dia kecewa, pilihannya tidak
disetujui Ibu," jelas Mas Dian. Ceritanya, waktu SMA dulu, Vina suka dengan
lelaki yang "cuma" supir angkotan kota. Ibu mertua tidak mendukung, dan
ketika menemukan mereka masih pacaran sembunyi-sembunyi, Vina dipindahkan ke
Kudus, ikut kakak Mas Dian yang tertua. Mungkin luka itu masih membekasi
hatinya.
Sebenarnya, aku menyimpan sedikit rahasia tentang Vina. Empat bulan dia
tinggal bersama kami, suatu hari Ira berkata padaku, "Mama, Tante kok kalau
tidur suka telanjang ya?" Aku kaget. Ingin menanyakan hal itu, tapi aku
merasa tidak enak. Barangkali karena udara di kamar yang panas. Maklum, dia
berada di kamar belakang, dekat dapur, dan tidak ber-AC. Tapi waktu Ira
diam, kukira hal itu hanya terjadi sekali. Beberapa bulan kemudian, aku
tanya ke Ira, ternyata memang Vina selalu tidur telanjang. "Iya Ma, kata
Tante udaranya panas." Tebakanku betul. Mungkin memang panas, dan mungkin
itu sudah kebiasaannya. Lagian, di rumah kami hanya ada Mas Dian, kakaknya,
dan Roni yang telalu kecil. Bukan masalah besar kalau Vina telanjang di
dalam kamar, dan malam hari.
Tapi, pertanyaan Ira ternyata tidak hanya itu. Mungkin setelah delapan
bulan, Ira bertanya lagi padaku, "Mama, kenapa Tante suka memegang-megang
dadanya sendiri, Ma? Tante seperti kesakitan?" Aku mulai panik. Aku jelaskan
saja sama Ira sebisaku, kalau tantenya memang sakit, atau mengalami kram
haid. Aku jelaskan juga tentang haid pada anakku itu, yang cuma diam, karena
mungkin tidak terlalu mengerti. Tapi di kepalaku kecamuk ratusan pikiran.
Ada apa dengan Vina? Apa dia bermasturbasi dan ketahuan Ira? Kenapa tidak
dia lakukan di kamar mandi, atau ketika dia sudah memastikan Ira tertidur?
Kenapa sampai ketahuan? Aku tahu, untuk seumur Vina, tentu terkadang dia
mendapatkan terjangan libido, dan hal yang wajar jika dia menyalurkannya
dalam bentuk masturbasi. Itu cara yang aman daripada dia mencari lelaki
lain. Meski gelisah dan cukup cemas atas hal itu, tapi tak pernah kutanyakan
padanya. Hanya aku sering wanti-wanti agar Vina tidak meletakkan novel-novel
atau bacaan dewasa sembarangan. "Jangan sampai ponakanmu itu dewasa sebelum
waktunya lho, Vin?" kataku. Maksudku, dengan cara itu dia akan mengerti,
kalaupun ingin masturbasi, jangan sampai Ira sampai tahu.
Lama kemudian tidak ada masalah. Aku kira Vina telah bisa menjaga dirinya
dari mata keponakannya. Lagipula, dia makin sering diantar pulang oleh
lelaki yang sama. Mungkin itu pilihannya, dan tidak mengecewakan, cukup
ganteng dan muda. Cocok. Ira juga tidak pernah mempertanyakan apa pun lagi
tentang tantenya. Kalau aku pancing, apakah tante masih bertelanjang, dia
menggeleng. Kalau aku tanya, apakah tante masih sering merintih kesakitan
sambil memegangi dadanya, Ira juga menggeleng. "Tante baik kok, Ma. Tante
sayang sekali sama Ira." Aku lega. Aku tahu, Vina memang sayang kepada
ponakannya.
Dan kelegaan itu yang membuat aku alfa. Kukira semua beres. Nyatanya? Siang
itu aku migren, dan pulang cepat. Mungkin aku masuk angin. Mumpung Vina cuti
kerja, aku berharap dia dapat mengerikiku atau memijat kepalaku. Dengan naik
taxi aku sampai ke rumah. Tapi, rumahku sepi. Pintu juga tertutup. Kemana
Vina? Juga Ira, yang pasti telah pulang sekolah. Kucoba mengetuk pintu, tak
ada sahutan. Dengan berat langkah, aku mengitari rumah, menuju dapur. Ohh
untunglah, dapur tidak dikunci. Barangkali Vina dan Ira keluar, mencari
bakso atau apa. Segera bergegas aku ke kamar, pikiranku ingin segera
berbaring. Tapi, melewati kamar Vina, aku mendengar derit dan dengus. Siapa?
Dengan berjingkat, kulongokkan kepalaku di kaca atas pintu kamarnya. Ya
Gusti, jantungku mau copot rasanya. Di kamar itu, aku lihat Vina telanjang.
Ira juga telanjang. Dan Vina sedang menciumi tubuh Ira, mengangkanginya. Ya
Gusti.. kakiku gemetar. Ingin aku menjerit, tapi kutahan mulutku. Dengan
langkah gemetar, aku bergegas ke dapur, pikiranku gelap. Mataku berkunang
seperti dadaku yang sesak. Vina, Vina, Vina kenapa kau lakukan itu pada
Ira...
Dengan menangis aku ke luar rumah. Sungguh, ingin rasanya aku mendobrak
pintu itu. Tapi aku takut Ira akan mengalami goncangan hebat kalau dia tahu
Mamanya tahu apa yang dia lakukan. Aku tak ingin anakku merasa malu kepada
ibunya. Aku tak ingin dia mengalami goncangan. Vina, kenapa?! Kenapa harus
Ira?!
Aku kemudian tidak pernah membicarakan hal itu. Juga kepada Mas Dian. Aku
cuma memindahkan Ira ke kamar Roni, dan memisah kasur mereka. Kepada Vina
aku jelaskan, Roni sering gagal ujian karena tidak pernah dibantu Ira yang
berbeda kamar. Aku tak tahu apakah Vina curiga dengan pemindahan itu. Kepada
Ira aku katakan, "Mama tidak akan pernah bisa memaafkan Ira kalau sampai Ira
membohongi Mama untuk apa pun..." Dan dia tampaknya kaget. Aku percaya, Ira
pasti belum mengerti apa yang tengah dia dan Vina lakukan.
Tapi pembaca, sampai kini aku tetap cemas. Aku takut hal itu berulang lagi.
Aku kurus memikirkan hal itu. Entah bagaimana langkahku menghadapi hal ini.
Entah bagaimana....
(Sebagaimana kegundahan Ny Vera, di Semarang)
[Non-text portions of this message have been removed]
-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt
Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.
-----------------------------------------------***
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/