Melompat Lebih Tinggi

Ini sebuah kisah nyata yang diceritakan oleh seorang bijak. Suatu
malam, seorang laki-laki datang ke rumahnya dan berkata, "Ada sebuah
keluarga dengan delapan anak yang sudah berhari-hari tidak makan."
Mendengar hal itu bergegaslah orang bijak itu pergi membawa makanan
untuk mereka.

Ketika tiba di sana ia melihat wajah anak-anak itu begitu menderita
karena kelaparan. Tak ada kesedihan ataupun kepedihan di wajah
mereka, hanya derita yang dalam karena menahan lapar.

Orang bijak itu memberikan nasi yang dibawanya pada sang ibu. Ibu itu
lantas membagi nasi itu menjadi dua bagian, lalu ke luar membawa
setengahnya. Ketika ia kembali, orang bijak itu bertanya, "Kau pergi
kemana?" Ibu itu menjawab, "Ke tetangga-tetanggaku. Mereka juga
lapar."

Orang bijak itu tercengang. Ia tidak heran kalau si ibu membagi nasi
itu dengan tetangga-tetangganya, sebab ia tahu orang miskin biasanya
pemurah. Yang ia herankan adalah karena si ibu tahu bahwa mereka
lapar. Biasanya kalau kita sedang menderita, kita begitu terfokus
pada diri sendiri, sehingga tak punya waktu untuk memikirkan orang
lain.

Si ibu dalam cerita di atas adalah contoh orang yang telah dapat
melampaui dirinya sendiri. Ia dapat melepaskan keterikatannya pada
kebutuhan fisik dan secara bersamaan memenuhi kebutuhan spiritualnya
yaitu untuk berbagi dengan orang lain. Kualitas semacam ini tentu tak
dapat diraih dalam waktu singkat. Ini memerlukan proses pergulatan
batin yang cukup panjang.

Kehidupan manusia memang senantiasa menjadi tempat pergulatan dua
kepentingan utama: fisik dan spiritual. Kepentingan fisik adalah hal-
hal yang kita butuhkan untuk bisa hidup di masa sekarang, seperti
sandang, pangan dan papan. Ini kebutuhan jangka pendek kita.
Sementara, kepentingan spiritual adalah hal-hal yang kita butuhkan
untuk hidup di masa sekarang dan masa yang akan datang. Ini adalah
kebutuhan jangka pendek sekaligus jangka panjang.

Pemenuhan kedua macam kebutuhan ini akan menghasilkan kualitas hidup
yang tinggi. Sayang, banyak orang yang tak menyadari hal ini. Mereka
menghabiskan hidup mereka hanya untuk mengumpulkan harta benda. Untuk
itu mereka juga tak segan-segan menggunakan cara yang buruk:
menciptakan kebijakan yang menguntungkan diri sendiri, menguras uang
rakyat, mencuri uang perusahaan, maupun menciptakan konspirasi yang
merugikan orang banyak.

Kalau kita renungkan secara mendalam, semua kejahatan yang ada di
dunia ini berasal dari satu kata: keserakahan. Dan, akar keserakahan
adalah pada cara kita memandang hidup ini. Selama kita melihat diri
kita semata-mata makhluk fisik belaka, selama itu pula kita tak dapat
membendung keinginan kita untuk mengumpulkan harta sebanyak-
banyaknya. Betapa banyaknya dalam kehidupan sehari-hari kita melihat
orang yang berpenghasilan biasa-biasa saja, tetapi
memiliki harta yang luar biasa banyaknya.

Ada banyak alasan yang dapat dikemukakan untuk merasionalkan hal itu.
Pertama, semua orang yang mendapat kesempatan pasti akan melakukannya.
Kedua, penghasilan yang saya dapatkan terlalu kecil dan tidak seimbang
dengan pengorbanan yang saya berikan. Ketiga, toh kekayaan yang saya
dapatkan tidak saya nikmati sendiri tetapi saya gunakan untuk
membantu anak yatim, membiayai orang tua dan saudara yang sedang
sakit, membangun sekolah, dan sebagainya. Dengan berbagai alasan
tersebut kita mendapatkan ''ketenangan sementara'' karena seolah-olah
perbuatan yang kita lakukan telah berubah menjadi legal, rasional
atau paling tidak dapat dimaklumi.

Namun, ketenangan semacam ini tidaklah langgeng. Pasti ada sesuatu
dalam diri kita yang kembali mengusik kita, membuat kita resah dan
gelisah. Perhatikanlah orang-orang yang hidup dengan cara ini. Mereka
sangat rentan terhadap perubahan yang sekecil apapun. Mereka sangat
jauh dari ketentraman yang sejati. Betapapun banyaknya harta yang
mereka kumpulkan tak akan pernah melahirkan perasaan cukup dan puas.
Sebuah pepatah mengatakan, "The world is enough for everybody, but
not enough for one greedy." Apa yang disediakan oleh dunia ini
sebetulnya cukup untuk semua orang, tetapi tidak akan cukup untuk
seorang yang rakus.

Sebuah perubahan dramatis akan terjadi begitu kita sadar bahwa kita
bukanlah makhluk fisik tetapi makhluk spiritual. Kita menjadi makhluk
spiritual untuk selama-lamanya. Sebelum muncul ke dunia, kita adalah
makhluk spiritual, ketika hidup sekarang kita juga makhluk spiritual,
dan ketika kita meninggal kita tetap menjadi makhluk spiritual. Kita
hanya menjadi makhluk fisik di dunia ini saja.

Salah satu cara paling efektif untuk menyadari hal itu adalah dengan
berpuasa. Dengan puasa kita akan sadar bahwa kebutuhan (ini berbeda
dengan keinginan) kita sebetulnya sangatlah sedikit. Berpuasa juga
akan menyadarkan kita bahwa dengan mengurangi kenikmatan fisik kita
akan mendapatkan kenikmatan spiritual yang luar biasa. Dengan
berpuasa kita keluar melampaui 'diri rendah' kita menuju Diri kita
yang lebih tinggi. Dengan puasa kita lepaskan keterikatan kita pada
gravitasi bumi. Kita bergerak melesat mengikuti gravitasi langit.
Semoga puasa kali ini dapat membuat kita lebih baik.

Sumber: Melompat Lebih Tinggi - Republika


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke