Jadi ingat cerita seorang sahabat saya di tangerang. di bercerita bahwa keluarga dia sangat suka sekali dengan daging burung belibis. untuk mendapatkannyapun juga tidak terlalu sulit di tangerang. banyak pedagang kaki lima yang menyediakan menu masakan belibis goreng, dengan harga yang cukup terjangkau. satu porsi belibis goreng utuh hanya Rp. 21.000. harga yang relatif murah seukuran dan sekelas belibis (disinyalir, kemungkinan besar belibis kembang). orang yang makan masakan ini selalu berkomentar: mantap, sangat nikmat, kagak nahan...bla...bla... juga termauk keluarga sahabat saya itu berkomentar demikian. Rasa penasaran mulai muncul ketika sahabat saya itu bertemu beberapa pemburu, dimana dia biasa menjual seekor belibis hasil buruan ke pengepul sehrga Rp. 20.00 - Rp. 25.000 per ekor. pengepul akan menjual 35.000 bahkan beberapa menawarkan sampai 50.000 per ekor. ini hasil buruan hidup, belum menu goreng. berangkat dari sini, sahabat saya tadi ketika pulang ke tangerang dia mencoba bertanya-tanya pada penjual menu masakan belibis langganannya. beberapa pedagang mengatakan bahwa belibis hasil buruan di alam. tetapi beberapa pedagang yang lain mengatakan bahwa ini hasil penangkaran. menarik bukan? memang pernah ada berita soal penangkaran belibis kembang. di kalimantan juga pernah ada berita penangkaran. di tangerang pun juga pernah ada hal serupa. hanya saja, bahwa produksi penangkaran mampu memenuhi permintaan pasar, itu yang belum terjawab, termasuk kami pun meragukannya. wal hasil, rekan saya tadi melaporkan bahwa memang ada beberpa ekor belibis yang ditangkarkan di dalam kandang. hanya saja hal ini lebih banyak berfungsi sebagai etalase penangkaran untuk meyakinkan pembeli bahwa belibis yang di goreng adalah belibis asli dan merupkan hasil penangkaran. bagaimana soal daging belibis yang orang bilang euenaknya minta ampun itu??? daging yang digoreng pedagang adalah daging bebek muda, bukan daging belibis. wah...wah... sebenarnya yang enak itu dagingnya, atau merk nya? ketika banyak orang beranggapan bahwa daging belibis itu enak, sudah... pokoknya enak. termasuk saat daging itu diganti daging bebek muda, dia tetap merasa enak, karena dia tahu bahwa itu daging belibis yang enak. bagaimana seandainya kita katakan kepada orang-orang kalau: daging belibis itu tidak enak, daging bebek jauh lebih enak. daging punai itu pahit, daging burung dara itu gurih renyah daging rusa itu amis, daging kambing jauh lebih mantap dan sedap daging penyu itu alot, daging ikan nila jauh lebih sedap, apalagi dibakar daging elang jawa itu dapat menyebabkan impotensi, tetapi daging ayam jago buras justru dapat mengembalikan vitalitas. daging satwa liar itu tidak enak, bahkan akan menyebabkan keracunan jika kita memakannya terlalu banyak, atau terlalu sering. ... mungkin, tidk ada orang yang mau memakan daging satwa liar apapun. kini manusi memilih mengkonsumsi hewan ternak. lantas, kalau satwa liar nanti justru over populasi, bagaimana? tentunya alam punya keseimbangannya sendiri. belibis punya kebijaksanaannya sendiri. punai punya kebijaksanaannya sendiri. rusa punya kebijaksanaannya sendiri. penyu punya kebijaksanaannya sendiri. elang jawa punya kebijaksanaannya sendiri. bahkan manusiapun seharusnya punya kebijaksanaannya sendiri, untuk memanfaatkan dan menjaga kelestarian alam ini. salam an.
Asman Adi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ikut nimbrung untuk menanggapi tentang Punai goreng,... Kalau bilang boleh atau enggak dan enak atau enggak dimakan, bagi para penggemar burung goreng, si penikmat itu pastri akan langsung menjawab dengan lantang" Enak mbak! mak nyos! bumbunya terasa banget"( kayak di wisata kuliner gitu deh).... Tapi bagi para pecinta satwa khususnya burung, itu jelas2 tidak boleh. dan menurut saya pribadi itu juga tidak boleh. Emang se, jaman sekarang apa saja bisa dijadikan uang. salah satunya ya itu. PUNAI GORENG. tanpa kita sadari nantinya punai itu juga bisa hilang kalau terus2an ditangkap untuk dijadikan menu santapan sehari-hari. BUkan cuma punai goreng yang di tawarkan di jakarta. Dulu, mungkin sekitar dua tahun yang lalu, di daerah JL. Benda Raya, Jakarta barat yang menuju bandara hampir tiap malam ada yang jualan Kowak malam abu goreng. kadang juga ada jenis burung air lainya. Kalau saya ngelihatnya lebih ke hak hidup si burung itu sendiri. Mereka yang diciptakan tuhan itu gak semuanya harus di konsumsi oleh masyarakat. kesejahteraan hidup bukan cuma milik manusia, tapi seperti punai dan burung2 lain juga mempunyai hak hidup. Jadi kalau pertanyaannya boleh atau enggak dan enak atau enggak, itu seperti orang yang penasaran dan pengen mencoba( Maaf ya mbak...)... Salam, A. Adi ----- Original Message ---- From: euis damarwati <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Thursday, May 15, 2008 11:53:55 AM Subject: [SBI-InFo] Punai Teman-teman, Di kawasan Jl.Pemuda, Rawamangun, Jaktim ada sebuah Restoran Padang menyediakan punai goreng panas...apakah burung tsb boleh dan enak dimakan? Rasanya kayak apa seh? Kayaknya kasihan bener... Bagaimana komentar teman-teman? Salam, ed
