Tantangan yang menarik dari Ibu Dewi.... kawan-kawan Jogja gimana ? topo pepe warga pesisir, dengan isu pendapatan masyarakat sudah dicuek'in sama sultan...siapa tahu kalau isu burung bisa bikin sultan berfikir ulang.....
apakah mungkin tambang pasir dan konservasi burung berjalan seiring ? semacam jalan tengah mungkin ? dari survey mas Dandung (Wedland-IP) beberapa tambang pasir besi di wilayah pesisir selatan Jawa yang lain (seperti banyumas, cilacap dll) banyak dibiarkan terbengkalai karena ternyata tidak menguntungkan.... benarkah hasil penelitian bahwa peisisr jogja ini kandungan pasir besinya lebih banyak ? jangan-jangan investornya ditipu sama peneliti-peneliti lokal nih (dari UGM ya ?)...hehehe.... ige alumniugmjuga..... On Fri, Jun 20, 2008 at 2:24 PM, Dewi Prawiradilaga < [EMAIL PROTECTED]> wrote: > Terimakasih banyak untuk infonya. Sangat prihatin kalau Trisik akan > dijadikan lokasi penambangan. Apakah sudah mencoba melakukan sesuatu 'upaya' > pencegahan? Setahu saya sudah banyak teman-teman yang melakukan kegiatan > disana. Bagaimana kalau mencontoh kasus di Elang Jawa??? Sudah ada bukti > keberhasilan dengan membuat petisi. Tentunya perlu dukungan kuat dari Burung > Indonesia dan WI-IP. > Sementara ini saran seperti itu yang bisa saya lakukan. > salam, > dewi > > > On Thu, Jun 19, 2008 at 1:16 PM, skandal emilia <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > >> *HASIL KUMPUL DISKUSI PECINTA BURUNG* >> >> 14 Juni 2008 >> >> >> >> >> >> Diskusi ini merupakan diskusi pertama pengamat burung di Yogyakarta yang >> melibatkan aspek lain (ekonomi). Dalam diskusi ini belum banyak yang di >> bahas mengenai peran bersama para pecinta burung, baik dari sisi pengamat >> burung, pebisnis burung dan akademisi. Sehingga, diskusi lanjutan perlu >> dilakukan. >> >> Diskusi yang telah dilakukan melibatkan 5 pembicara antara lain: Bp. >> Karyadi Baskoro (Undip), Bp. Andie (BKSDA), Bp. Mukriyanto (PBI), Bp. Ign >> Pramana Yuda (UAJY), Mas Imam (PPBJ). Materi yang disampaikan mengenai >> kondisi habitat burung di Indonesia, kondisi burung di Indonesia, penelitian >> burung dan konservasi, pebisnis burung dan konservasi, serta pengamat burung >> dan konservasi. >> >> >> >> Hasil diskusi panel: >> >> · Setiap pengamat burung memiliki alasan yang berbeda mengenai >> mengapa ia melakukan pengamatan burung, sehingga data yang diperolehpun >> memiliki nilai yang berbeda, ada yang menilainya sebagai *data base*, ada >> pula yang menilainya sebagai list kemampuan seseorang dalam menemukan dan >> mengidentifikasi spesies burung. Agar data yang diperoleh menjadi data base >> dan bisa dimanfaatkan oleh pihak lain – misalnya BKSDA– maka diperlukan >> pengetahuan dan penerapan metode baku selama pengumpulan. Untuk meningkatkan >> pengetahuan para pengamat burung mengenai metode baku tersebut, akan >> diadakan workshop yang waktu dan tempatnya akan dibicarakan lebih lanjut. >> >> · Para pengamat burung dalam mengamati burung memiliki kecenderungan >> menggunakan nama "pengamatan burung", sehingga kegiatan yang sebenarnya bisa >> merangkul banyak pihak justru menjadi sedikit peminat yang akhirnya hanya >> melibatkan orang-orang dengan latar belakang sama, misalnya: Biologi, >> Kedokteran Hewan, dan Kehutanan. Keterbatasan sumberdaya yang menguasai >> bidang ilmu selain ilmu hayati tersebut bisa dijadikan sebagai salah satu >> alasan mengapa hingga kini kegiatan pengamat burung di Yogyakarta >> (khususnya) tidak mengalami kemajuan yang signifikan. Karena itulah >> diusulkan untuk membuka ruang yang bebas bagi siapa saja yang ingin terlibat >> dalam pengamatan burung tanpa menjadikan mereka sebagai pengamat burung. >> >> · Trisik merupakan salah satu important bird area (IBA). Hal ini >> dibuktikan oleh beberapa dokumentasi pertemuan beberapa pengamat burung di >> Yogyakarta dengan spesies – spesies migrant dan vagrant dari family seperti: >> Scolopacidae, Charadridae, Phalaropodidae, dan Cuculidae; spesies-spesies >> yang sudah masuk dalam redlist seperti: Cerek Jawa, Trinil Normand; dan >> temuan burung berbendera kaki. Di lain sisi, beberapa lokasi di pesisir >> Trisik sudah pasti akan dikonversi menjadi lahan pertambangan pasir besi >> yang akan mengubah lokasi tersebut menjadi sedemikian rupa. Sebagai orang >> yang sering bermain di lokasi tersebut, sudah saatnya mengeksplorasi lebih >> jauh mengenai kondisi Trisik, baik secara ekologis, geologis, ekonomi, >> maupun social. Syukur-syukur melalui kerjasama lintas ilmu, Trisik bisa >> menjadi laboratorium alam burung pantai di Yogyakarta, atau bahkan Indonesia >> – Amin... >> >> · Akan ada blog atau web site pengamat burung di Yogyakarta. Untuk >> kapannya akan dibicarakan lebih lanjut. >> >> · Dalam diskusi yang telah dilakukan, disinggung pula mengenai upaya >> penangkaran burung di salah satu kawasan konservasi BKSDA Yogyakarta (SM >> Paliyan, SM sermo, CA imogiri, CA / TWA Gunung Gamping, dan TNG Merapi). >> Hanya saja, wacana tersebut tidak dilanjutkan karena *stakeholders*burung >> terkait (Bpk Mukriyanto dari PBI) sudah pamit sebelum diskusi panel >> dimulai. Kawan – kawan yang tertarik untuk membicarakan ini silakan buka >> forum dan BKSDA siap menampung. >> >> >> >> Semoga hasil diskusi yang diperoleh tidak berhenti sebatas hasil diskusi, >> tetapi bisa dilaksanakan dan menjadi langkah untuk meningkatkan kelestarian >> bumi. >> >> >> >> Salam Lestari !!! >> >> >> >> NB. >> >> * Kawan – kawan yang ingin mengkopi materi diskusi silakan hubungi alamat >> ini. >> >> * Kawan-kawan yang bersedia mendukung hasil diskusi, baik berupa pikiran, >> data ataupun tenaga silakan >> >> hubungi alamat ini. >> >> > >
