Sampurasun..

--- On Wed, 6/25/08, imam rahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Sebagai "capital knee photographer" alias
> fotografer
> modal dengkul, saya enggak pernah pakai merek khusus.

Hahahaha istilahnya mantap.. Tapi perlu dilengkapi...
Capital Knee and Face Off.. Alias modal dengkul dan gak tau malu....
Seperti saya saja, minjem terusssss... hehehee

> --- Ady Kristanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> > Hal bung hasto, kalo kamera yang saya pake Olympus
> > SP 550 UZ dengan perbesaran 18x. bisa juga kalo pake
> > monokuler/teleskop yang ditempeli dengan kamera itu
> > dinamakan teknik digiscoping,

Secara teori, untuk motret burung minimal pakai lensa 300mm, syukur lebih. Yang 
dipakai Mas Ady setara 500 mm pakai IS, jadi lebih mantap. Yang saya pakai 
generasi lebih lama, cuma 10x optic setara 300 mm tanpa IS, jadi sering blur.

> > Biar enak emang harus kamera yang pro 

Memang tetap beda di kualitas. Non SLR kalau dipakai full zoom pasti noise. 
Kalau lensa SLR (harusnya) bening. Ada rupa, ada harga.
Tapi tergantung kebutuhan, kalau cuma untuk dokumentasi ilmiah, pakai prosumer 
sudah cukup. Tapi kalau untuk art, ya jangan segan2 investasi ke SLR.

> > Selain itu perlu pendekatan 1 lagi, yaitu tahu
> > karakteristik dari tiap jenis burung, seperti yang
> > foto kacamata gunung, saya harus ekstra sabar
> > menanti burung ini datang ke pohon tersebut.

Alain Compost yang kameranya super canggih saja tetep sabar kalau motret 
wildlife, apalagi kita yang senjatanya pas-pasan. Modal utamanya ya sabar ini. 
Sepakat untuk Mas Ady...

Kang Bas


      

Kirim email ke