Nambahin dikit.... Fotografi satwa liar emang perlu sabar banget dan sedikit keberuntungan seperti yang ditunjukkan oleh Iwan (http://burungsulawesi.web.id/). Btw, nyasar sedikit ke kupu-kupu nih. Kalau soal foto kupu-kupu, rasanya gak perlu offset deh. Kasihan tuh kupu-kupu musti dikorbankan dulu. Pendekatannya emang sedikit beda dengan foto burung karena kadang-kadang posisi kupu2 bisa cukup dekat dengan kita tetapi sangat sensitif terhadap gerakan. Tapi gak mustahil kok.Saya biasanya pakai super macro pada kamera digital saya untuk jenis kupu yang tidak terlalu sensitif, sementara yg sensitif bisa pakai zoom.
Best, Nurul Nurul Winarni Email1. [EMAIL PROTECTED] Email2. [EMAIL PROTECTED] http://noonathome.wordpress.com/ http://wildlifewisdom.wordpress.com ----- Original Message ---- From: Kutilang Indonesia <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Thursday, June 26, 2008 1:05:39 PM Subject: Re: [SBI-InFo] Berencet kerdil dan Kacamata gunung ikutan ah.... ada cara mudah buat motret burung kecil dengan kamera digital bahkan poket....ya burungnya ditangkep dulu trus ditaruh di kandang dengan desain habitat yang mirip dengan habitat di alam, (atau bisa juga dipotret di studio yang bisa menciptakan atraksi burung lebih bebas)....abis itu tinggal nunggu dengan sabar untuk cari momentum yang bagus....tekhnik ini saya baca di fotomedia tahun 97-an (sepertinya sekarang udah ngak terbit lagi)..... ada yang lebih ekstrim, tekhnik ini saya dapat dari salah seorang dosen tamu di mata kuliah fotografi di ISI Yogyakarta, beliau membuat offset kupu-kupu trus ditaruh di beberapa bunga taman dengan beragam variasi model....hasilnya juga ngak main-main, salah satu fotonya pernah jadi juara lomba foto tingkat nasional (sekitar tahun 99)...tentunya karena penilaian lebih di dasarkan pada aspek seni dan teknis....kalau pake' parameter biologi pasti ngak masuk, karena kupu-kupu yang dipotret itu salah satu jenis yang endemik papua dan hinggap di bunga anggrek yang kalau ngak salah jenisnya vanda.... ada juga salah satu artikel di majalah (saya lupa) tentang fotografi burung liar....si fotografer crita kalau standar untuk motret burung air di habitat bersarangnya butuh lensa dengan perbesaran 600 mm dan bisa ditambah conventer sampai 2 kali. dia merujuk pada salah satu buku yang ditulis Mackinnon, bahwa perilaku burung air di habitat bersarang di galapagos berubah akibat kedekatan para wisatawan yang sering memotret burung pada jarak yang terlalu dekat dengan tempat bersarang burung laut di galapagos. Kalau untuk burung air di tempat bersarang aja butuh tele dengan perbesaran 600 mm, gimana untuk burung-burung hutan yang kecil dan gerak ngak karuan itu ya.....tapi sepertinya ady sudah mementahkan teori ini.... ada yang pernah menggabungkan fotografi dengan "pancingan" suara burung ? atau dengan tenda camuflase ? trims ige 2008/6/26 Hasto P Irawan <hpirawan2005@ yahoo.com>: Thanks Bung Ady, Bung Bas dan Bung Imam dll.atas infonya. Yang jelas, brarti kamera gw sangat tidak memadai buat motret burung di alam.. Lha wong cuman kamera digital Canon 6 megapiksel dengan zoom cuma 4x optical dan 4x digital.. Apalagi buat motret burung2 kecil.. Yoweslah, kalo mau bikin foto yg memadai memang harus pake kamera pro ya, syukur2 dipasangi lensa tele yg panjang dan mahal itu.. Ntar deh .. nabung dulu --- On Wed, 6/25/08, Kang Bas <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: Kang Bas <[EMAIL PROTECTED] com> Subject: Re: [SBI-InFo] Berencet kerdil dan Kacamata gunung To: [EMAIL PROTECTED] s.com Date: Wednesday, June 25, 2008, 12:20 PM Sampurasun.. --- On Wed, 6/25/08, imam rahman <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: > Sebagai "capital knee photographer" alias > fotografer > modal dengkul, saya enggak pernah pakai merek khusus. Hahahaha istilahnya mantap.. Tapi perlu dilengkapi.. . Capital Knee and Face Off.. Alias modal dengkul dan gak tau malu.... Seperti saya saja, minjem terusssss... hehehee > --- Ady Kristanto <ady_kristanto@ yahoo.com> wrote: > > Hal bung hasto, kalo kamera yang saya pake Olympus > > SP 550 UZ dengan perbesaran 18x. bisa juga kalo pake > > monokuler/teleskop yang ditempeli dengan kamera itu > > dinamakan teknik digiscoping, Secara teori, untuk motret burung minimal pakai lensa 300mm, syukur lebih. Yang dipakai Mas Ady setara 500 mm pakai IS, jadi lebih mantap. Yang saya pakai generasi lebih lama, cuma 10x optic setara 300 mm tanpa IS, jadi sering blur. > > Biar enak emang harus kamera yang pro Memang tetap beda di kualitas. Non SLR kalau dipakai full zoom pasti noise. Kalau lensa SLR (harusnya) bening. Ada rupa, ada harga. Tapi tergantung kebutuhan, kalau cuma untuk dokumentasi ilmiah, pakai prosumer sudah cukup. Tapi kalau untuk art, ya jangan segan2 investasi ke SLR. > > Selain itu perlu pendekatan 1 lagi, yaitu tahu > > karakteristik dari tiap jenis burung, seperti yang > > foto kacamata gunung, saya harus ekstra sabar > > menanti burung ini datang ke pohon tersebut. Alain Compost yang kameranya super canggih saja tetep sabar kalau motret wildlife, apalagi kita yang senjatanya pas-pasan. Modal utamanya ya sabar ini. Sepakat untuk Mas Ady... Kang Bas
