dua pak!! ainul yaqin ada dua... kalo gak percaya tanya aja di data 
kependudukan kelurahan kampungnya sampeyan berapa anak keluarga gemak dekat 
rumah sampeyan hehehee...pertanyaan selanjutnya berapa jumlah kaki2 anak 
keluarga gemak dekat rumahnya sampeyan hayo??
cerita yang menarik, bahkan ketika disusupi muatan ilmiah....

btw, mengenai ilustrasi buku SJBK yang salah ambil contoh. ternyata banyak juga 
sub spesies2 yang tidak terwakili di dalam buku tersebut. bahkan tidak sedikit 
pula yang ilustrasinya lumayan berbeda dengan kondisi di lapangan. kadang hal 
ini sering menyulitkan dalam identifikasi, salah satunya saya yang masih 
belajaran ini.
denger2 mau terbit lagi buku SJBK? tapi kayaknya tanpa revfisi. gimana itu?

salam
birdwatcher magang
Swiss
Baluran National Park
www.pratapapa81.wordpress.com
www.balurannationalpark.web.id


--- On Fri, 7/17/09, Kang Bas <[email protected]> wrote:

From: Kang Bas <[email protected]>
Subject: [SBI-InFo] Kisah Keluarga Gemak [5 Attachments]
To: "Milist SBI" <[email protected]>
Date: Friday, July 17, 2009, 11:19 PM






 




    
                  
        [Attachment(s) from Kang Bas included below]
      


      
            Salam

Berburu Gemak di tegalan sebelah rumah. Musim kemarau ini rerumputan tegalan 
berkurang, membuat Gemak relatif "mudah" terlihat.

Ada beberapa hal menarik tentang Gemak dan keluarganya ini.

Sub spesies di Nusantara kemungkinan semua memiliki warna paruh dan kaki kuning 
(cuma baru lihat T. s. suscicator dan T. s. kuiperi).
Ini yang kadang membingungkan saat membandingkan dengan buku panduan SKJB. Di 
buku panduan, yang digambar adalah sub spesies dari daratan Asia. jadi bukan 
salah gambar, cuma salah ambil contoh.

Bisa ditengok di database OBI, semua sub spesies Asia memiliki warna paruh dan 
kaki kelabu.
T. s. taigoor (India), T. s. leggei (Sri Lanka) T. s. rostratus (Taiwan), T. s. 
blakistoni (Hongkong), T. s. thai (Thailand), T. s. atrogularis (Malaysia).

Namun dari semua sub species, diagnostik jenis kelaminnya
 sama. Yang betina tenggorokannya berwarna hitam, dan wajah tanpa alis. 
Sementara yang jantan tenggorokannya berwarna putih, dengan alis putih pada 
wajah. (Foto 1-4)

Saat mencari makan, satu keluarga tidak selalu berkumpul berdekatan. Jantan, 
betina dan anak mencari lokasi makan sendiri-sendiri. Meskipun kadang juga 
saling menyambangi.

Pengasuhan anak tidak identik dengan induk betina. Teramati induk betina malah 
jalan-jalan sendiri, sementara induk jantan mengkais makanan dan melindungi 
anak-anaknya.

Gemak cukup "akrab" dengan manusia. Bisa diamati dari jarak cukup dekat 3-5 
meter tanpa merasa terusik, asal tanpa gerakan mengejutkan.

Kebetulan saat mengamati, muncul Elang-ular Bido dari arah lembah dengan 
pekikan keras. Ternyata Gemak lebih waspada terhadap raptor daripada manusia. 
Saat raptor arahnya makirn dekat, keluarga Gemak bergegas bubar. Induk betina 
dan jantan pisah arah, sementara anak-anak ikut dan dilindungi induk
 jantan.

Uniknya, saat upaya pelarian harus cepat maka induk harus berlari, sementara 
itu kecepatan anak tidak bisa mengimbangi. Jika induk menunggu anak maka resiko 
predator menjadi besar. Maka langkah yang diambil induk adalah menyembunyikan 
anak-anaknya di celah bebatuan / semak, dan induk berpisah lari kencang.

Demikian dulu kisah keluarga Gemak dari tegalan sebelah rumah....

Bonus, di Foto ke-5 ada berapa jumlah anak Gemak? hehehehee

KB



      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke