Precedence: bulk
GUS DUR MAIN SENDIRI, DEKLARATOR CIGANJUR TERANCAM PECAH
JAKARTA, (SiaR, 16/12/98) Kepergian Ketua PBNU Abdurrahman Wahid
menemui Habibie, Jenderal Wiranto dan Soeharto menjadi persoalan baru dalam
rangka menuju rekonsiliasi nasional. Kelompok tokoh deklarator Ciganjur
terancam bercerai lagi lantaran kunjungan itu.
Kejengkelan terhadap manuver Gus Dur tersebut sudah keluar langsung dari
Amien Rais, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN). Penundaan Pemilu dan SU
MPR yang dilontarkan Gus Dur seusai bertemu Habibie dinilainya telah
mengingkari kesepekatan yang pernah ditandatanganinya di Ciganjur ketika SI
berlangsung.
"Terpaksa saya katakan, mudah-mudahan Gus Dur membuat usul itu tidak
atas nama deklarator Ciganjur. Soalnya dia begitu saja menyampaikan usulan
mengenai agenda politik paling penting bagi negeri ini. Prinsip usulan
tentang pelaksanaan Pemilu itu yang saya nilai agak aneh. Saya bisa curiga
ada apa-apanya," kata Amien Rais.
Dalam Deklarasi Ciganjur disebutkan bahwa pemerintahan yang sah harus sudah
terbentuk setidaknya tiga bulan setelah Pemilu 3 Mei. Namun ketika Gus Gur
bertemu Habibie, ia mengusulkan agar SU MPR I bisa dilaksanakan 28 Agustus
1999 dan SU MPR II 28 Oktober yang disusul pelantikan presiden 10 Nopember
1999.
"Saya mencoba untuk memegang kesepakatan. Kita berempat (Mega, Gus Dur, Sri
Sultan HB IX dan Amien) pernah membuat kesepakatan soal pelaksanaan pemilu.
Sekalipun ada bagian yang saya tidak setuju, tapi sebagai gentlemen
agreement saya tidak lantas meruntuhkan apa yang kita sepakati," kata Amien.
Sementara itu Megawati sendiri walaupun tidak setegas Amien Rais sebenarnya
cukup kecewa dengan Gus Dur. Dengan nada guyon, Mega menyindir akan melihat
bekas cap tangan Habibie yang ada di telapak tangan Gus Dur. "Ia cuma mau
lihat tangan saya yang sudah salaman dengan Habibie dan Jenderal Wiranto,"
ucap Gus Dur lugu.
Kejengkelan juga tampak di sejumlah basis massa yang menolak Habibie
seperti di mahasiswa, kelompok PDI Perjuangan maupun massa NU. Mereka kecewa
Gus Dur telah membuat manuver yang hanya menguntungkan kelompoknya saja.
"Gus Dur tidak memperhatikan lagi kepentingan bangsa yang lebih besar. Ia
ingin masuk dalam pintu kekuasaan," kata salah seorang diantaranya.
Menurut mereka, dengan langkah tersebut, upaya rekonsiliasi yang pernah
dicoba dilakukan oleh sejumlah mahasiswa dengan ditandatanganinya deklarasi
Ciganjur oleh empat tokoh nasional, terancam gagal. "Ini keberhasilan
Habibie menceraiberaikan musuh-musuh politiknya," kata sumber SiaR.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Dawam Rahardjo. Tokoh ICMI ini mengecam
tindakan Gus Dur sebagai tindakan yang tidak konsisten dengan sikap yang
selama ini ditunjukkan tokoh NU itu. "Dulu, Gus Dur lah yang paling vokal
mengkritik ICMI. Karena dianggapnya ICMI ingin dekat dengan kekuasaan.
Sekarang Gus Dur sendiri yang mendekati kekuasaan. Tentu zigzag ini
bermuatan politik tertentu. Paling tidak Gus Dur ingin menjadikan
orang-orang NU bisa berkuasa kembali," kata Dawam.
Menurut sejumlah sumber, Gus Dur ingin mendudukkan orang NU sebagai
orang kedua di negeri ini. Kompromi yang akan dilakukan, menurut sumber ini
adalah Hamzah Haz, ketua PPP yang baru.
Sedangkan Hermawan Sulistyo menilai, pertemuan Gus Dur dengan
Habibie maupun Wiranto merupakan pertemuan yang tidak berfaedah apa-apa bagi
perkembangan bangsa ini. Ia menilai pertemuan itu justru akan menguntungkan
Soeharto. Sebab selama ini Gus Dur dianggap wali oleh pengikutnya. Sementara
dalam pertemuan dengan Wiranto, Habibie maupun Soeharto, tidak menelorkan
sesuatu yang berharga bagi rakyat. Justru sebaliknya, menguntungkan pihak
Soeharto.
"Makanya, kalau Gus Dur saat ini ada di pihak nya kan bisa gawat dan
sudah pasti menguntungkan Soeharto," jelas peneliti LIPI ini. ***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html