Precedence: bulk


Jakarta, Indonesia
3 Desember 1998

BANYAK OBAT, BANYAK KOLUSI

Oleh Iman Firdaus
Reporter Crash Program

JAKARTA --- Kebanyakan obat tidak cuma berbahaya buat kesehatan, tapi juga
buat keuangan. Kalau satu penyakit bisa diobati dengan satu merek obat,
kenapa harus dua, tiga, bahkan enam? "Semakin banyak perusahaan obat
menawarkan komisi kepada dokter, semakin tidak rasionallah dokter dalam
memberikan obatnya," kata dokter Marius Widjajarto serius.

Menurut Medias Almatsier, saat ini merek obat yang beredar di Indonesia
mencapai 16 ribu lebih. "Itu sudah terlalu banyak," katanya. Dampaknya
langsung ke harga obat. Sebab, dari obat yang sama tentu masuk pula di
dalamnya biaya promosi. Almatsier mencontohkan ampicilin yang memiliki
berbagai merek. Ada ampicilin 250 gram, 500 gram, kapsul, dan tablet.
Padahal jenis obatnya sama dan untuk penyembuhan penyakit yang sama.

Bagaimana idealnya? "Yang perlu dipikirkan adalah tergantung prioritas
penyakitnya. Mana penyakit yang banyak menyerang, itu yang dibuatkan
obatnya," jelas Ida Marlinda dari Bidang Penelitian YLKI. Artinya, pemberian
obat oleh dokter harus rasional, jelas, dan sesuai dengan penyakit yang
dideritanya. Jangan memberikan obat yang tidak jelas untuk penyembuhan jenis
penyakit apa.

Sayangnya Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan (Dirjen POM),
Sampurno, seolah kurang tanggap dengan keadaan ini. Obat-obat yang beredar
tak jelas jluntrungan-nya. Ini yang membuat Widjajarto menyebut Dirjen POM
tak lebih dari tukang stempel obat. "Cuma tukang register saja," katanya.

Protes Widjajarto cukup masuk akal, sebab setiap obat -- apa pun merek dan
jenisnya -- boleh beredar. Yang penting diketahui oleh Dirjen POM. Banyaknya
obat tersebut membuat rantai distribusi makin panjang. Dari perusahaan obat
ke distributor ada komisi sekitar 30 persen, lalu dari distributor ke apotek
ada komisi pula sekitar 40 persen. Inilah yang menyebabkan harga obat jadi
mahal. Yang juga tak kalah serunya adalah satu jenis obat yang diproduksi
oleh banyak perusahaan obat dan dipasarkan secara bersamaan. Persaingan obat
jadi makin sesak, promosi pun makin gencar. Simak saja, ampicilin saja
jumlahnya sampai 26 merek, yakni Amcillin kapsul, Gunabiotik kapsul, Dexpen
kapsul, Kemoxil kapsul, Dancillin kapsul, Biospensyn kapsul, Ampicillin
tablet, Rampiciilin kapsul, Ampicillin kaplet, Ampicillin tabet, Dusecillin
kapsul, Corsacillin kapsul, Ampicillin tablet, Opcillin kaplet, Lauracil
kapsul, Ampicillin kapsul, Polypen kapsul, Megapen kapsul, Biopenam kapsul,
Arcocillin kapsul, Ampicillin kaplet, Satndacillin kapsul, Ampicillin
tablet, Amcillin kapsul, Sanpicillin kapsul, dan Ampicillin tablet.

Semua obat itu dibuat oleh Kimia Farma, Indofarma, PT Dumex, PT Sanbe Farma,
PT Phytho Kemo Agung Farma, PT Gartia Husada, PT Mutifa, PT Lucas Djaya, PT
Sunthi Sepuri, PT Dexa Medica, PT Medifarma, PT Rhama Pharmaceutical, PT
Duseco, PT Corsa, PT Laurel, PT Otto, PT Combiphar, PT Mega Esa Farma, PT
Mecosin Indonesia, PT Ponco Indonesia, PT Sandoz-Biochemie.

Sekian banyak merek obat itu sering kali merupakan racikan dari bahan-bahan
yang sudah diimpor. Hal ini membuat harga obat melambung tinggi. Almatsier
mengakui bahwa banyak perusahaan obat yang tidak melakukan research and
development. Mereka malah mengandalkan obat luar. Padahal, lanjutnya, jika
itu dibiasakan untuk dilakukan, tidak mustahil bisa menekan biaya obat di
Indonesia.

(Iman Firdaus adalah wartawan tabloid Kronika dan peserta Program Beasiswa
untuk Wartawan LP3Y-LPDS-ISAI)

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke