Precedence: bulk


Yogyakarta, Indonesia
1 Desember 1998

ADA PARPOL DAN GOLKAR DI BALIK BISNIS PERJUDIAN

Oleh Tedy Novan
Reporter Crash Program

YOGYAKARTA -- Siapa tak tergiur mendapatkan gaji Rp1 juta per bulan tanpa
perlu kerja keras? Kerjanya hanya berdiri di depan pintu masuk, mengamati
pengunjung yang datang, selain mendapatkan minum, rokok, dan makan sesuka
hati. Susah untuk mengatakan menolak tawaran pekerjaan tersebut.

Namun, pekerjaan sebagai penjaga keamanan di tempat bisnis perjudian ini
hanya untuk kalangan yang punya pengaruh di dunia hitam. Tak hanya harus
memiliki otot kawat dan tulang besi saja, tapi juga dukungan luas, baik dari
aparat keamanan maupun organisasi massa, bahkan partai politik (parpol).

Di Yogya, perjalanan bisnis perjudian tak lepas dari pengaruh perkembangan
politik yang ada. "Kalau Golkar (Golongan Karya � ed.) berkuasa, maka
pemilik perjudian itu akan berlindung di balik penguasa Golkar, entah itu di
jajaran pengurus atau pentolan satuan tugasnya," kata Kendar, mantan preman
di zaman operasi penertiban keamanan tahun 1982 yang lolos dari "petrus"
atau penembakan misterius.

Lelaki yang mempunyai pengalaman menjadi penjaga keamanan tempat perjudian
pada 1980-an ini mengatakan, dengan berlindung di balik parpol, keamanan dan
kelangsungan bisnis bisa terjamin. Sebab parpol atau ormas yang berkuasa
mempunyai kedekatan hubungan dengan aparat keamanan dan mampu menyelesaikan
masalah di kalangan internal para preman. "Kalau ada persoalan, urusannya
cepat beres. Penggerebekan pun hanya sandiwara," ujarnya.

Perjudian cliwik (dadu), di shopping center Serba Guna yang berlangsung
pertengahan 1980-an, misalnya, dibeking oleh organisasi massa Pemuda
Pancasila (ormas PP) -- organisasi kepemudaan di bawah Golkar. Namun, pernah
suatu saat ada permasalahan seputar pembagian rezeki yang tidak merata,
sehingga tempat perjudian ini menjadi ramai. "Setelah seorang pentolan
preman Golkar turun tangan, maka masalah selesai," katanya memberi
ilustrasi.

Para preman di tahun 1970-an hingga 1980-an biasanya berlindung di balik
Golkar atau berada di organisasi Angkatan Muda Diponegoro � organisasi para
preman bentukan Golkar. Para preman ini direkrut dari para penguasa wilayah,
mulai dari kampung, kecamatan, hingga tempat-tempat strategis, seperti
terminal, pertokoan, atau tempat-tempat hiburan. Mereka yang mempunyai
pengaruh di kampungnya masing-masing bertugas menjinakkan masyarakat.
"Pokoknya, bagaimana caranya masyarakat itu tunduk pada kita -- para
preman -- dan masyarakat tidak berani menuntut," kata Agus Sutejo, mantan
tokoh preman 1980-an.

Keluar dari Golkar

Waktu demi waktu pun berlalu, setelah zaman petrus yang merupakan titik
kulminasi bagi dunia hitam itu berlalu, para preman banyak yang pindah ke
parpol lain di luar Golkar. Ada yang insaf dan pindah ke Partai Persatuan
Pembangunan (PPP), ada pula yang pindah ke Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Tak sedikit yang masih bertahan di Golkar. Itu pun para preman yang
mempunyai kedekatan dengan aparat atau dibeking seorang pejabat tinggi.
Perpindahan ini memang hanya sementara. Setelah keadaan aman, para preman
yang masih punya gigi tetap saja bergabung dengan Golkar. "Kebetulan Golkar
menyediakan sarana dan prasarana, termasuk kekuasaan wilayah bagi orang
seperti saya," kata Sutejo, pentolan penyandang dana Satuan Tugas (Satgas)
Cakra Golkar ini. "Nah, bisnis perjudian ini salah satu dari sarana
tersebut."

Seiring perjalanan waktu, para penguasa wilayah perjudian pun berganti. Pada
masa kejayaan Soeharto sebagai presiden, para preman yang berlindung di
balik Golkar menuai hasilnya. Sekitar tahun 1980-an terjadi pergolakan di
kalangan para preman. Setelah para preman dihabisi dalam masa petrus,
preman-preman baru bermunculan. Para preman baru ini mulai unjuk gigi,
apalagi mereka yang mempunyai kelebihan ilmu kanuragan, misalnya tidak
mempan dibacok. Tak sedikit para preman baru itu lulusan pondok pesantren
yang mencari kerja di Yogya, macam Agus Joko Lukito alias Jack alias Gun,
yang pernah mengenyam pondok pesantren di Madura dan Kediri. Mereka memilih
PPP sebagai tempat berlindung. "Trauma kejadian petrus," katanya.

Tumbuhnya preman baru ini menandai kebangkitan kembali dunia hitam. Sehingga
para Satgas PPP ini mulai dikenal di kalangan para investor atau pemilik
perjudian dan tempat-tempat hiburan. "Lebih aman kalau saya mengangkat
keamanan dari anggota Satgas PPP. Massa dan kekuatan mereka jelas
diperhitungkan orang," kata Roni, pemilik perjudian di Jalan Solo.

Tak jarang akhirnya penggerebekan yang kadang mengatasnamakan pemuda muslim
itu dianggap sebagai sandiwara belaka. "Karena kurang setoran atau mereka
ingin menguasai keamanan tempat perjudian itu," kata Budi (nama samaran),
pemilik tempat perjudian mesin yang pernah digerebek pemuda kampung.

Kata Budi, sekitar Agustus 1998 lalu bisnis mesin jackpot miliknya digerebek
sekelompok massa yang mengaku sebagai pemuda muslim. Sebenarnya, mereka
adalah sekumpulan preman dan anak-anak muda yang berlindung di bawah Satgas
PPP Yogya. Keterlibatan Satgas PPP ini dikatakan bukan hal yang baru. Satgas
ini dikenal sering menggerebek tempat-tempat perjudian, rumah bordil, dan
diskotek.

Toh, ada bantahan dari pihak satgas. "Tak benar kalau penggerebekan itu
karena masalah setoran atau ingin menjadi penjaga keamanan tempat perjudian
itu," kata Syarief Hidayat, Komandan Satgas DPC PPP Yogya. "Anggota kami
tidak diperbolehkan menjadi beking tempat-tempat haram," tambahnya. Namun,
salah seorang anggota Satgas PPP membenarkan sinyalemen bahwa penggerebekan
itu sebagai ajang perebutan lahan. Hanya saja yang melakukan bukan anggota
Satgas Kota Madya (Kodya), melainkan Satgas Dewan Pimpinan Wilayah (DPW).
Perlu diketahui, satgas yang sering melakukan operasi penggerebekan itu
terbagi menjadi dua, yaitu Satgas DPC atau dikenal dengan nama satgas kodya
dan Satgas DPW yang dikenal dengan satgas wilayah.

Menurut seorang anggota reserse Kepolisian Daerah (Polda) DIY, penggerebekan
yang dilakukan satgas kodya ini hanya berkisar pada tempat-tempat yang tidak
dikuasai satgas wilayah atau sebatas tempat perjudian yang tak dikuasai
preman PPP, yakni preman Golkar. Buktinya, kata anggota reserse itu, tempat
perjudian bernama Royal dan Gebyar Musik di Jalan Solo, Jalan Magelang, dan
Jalan Dr. Soetomo tidak disentuh oleh satgas kodya, mengingat tempat-tempat
itu dikuasai satgas wilayah. "Coba kalau berani membubarkan tempat-tempat
itu. Bisa perang saudara," tandas reserse ini.

Berbeda dengan satgas kodya, satgas wilayah memang banyak dikuasai para
preman. Bahkan, menurut sumber di Polda maupun di kalangan preman, komandan
satgas wilayah, Sulaiman alias Maman, memiliki tempat perjudian cliwik yang
bertempat di areal Stadion Kridosono, selain juga menguasai beberapa tempat
perjudian di Stasiun Tugu serta tempat perjudian mesin dan karaoke kelas
berat di Jalan Solo.

"Tidak ada tempat perjudian yang dibeking Satgas PPP," kata Sulaiman. "Kalau
sebagai penjaga keamanan, mungkin. Tapi kami kan tidak bisa memantau satu
per satu anak buah. Itu urusan pribadi masing-masing," tambahnya.

(Tedy Novan adalah koresponden Media Indonesia dan peserta Program Beasiswa
untuk Wartawan LP3Y-LPDS-ISAI)

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke