Precedence: bulk


GERAKAN MAHASISWA MERUPAKAN REAKSI DARI POLITIK PEMERINTAH?

Oleh: Sulangkang Suwalu
        
        Menjelang masuki 1999, tahun yang diramalkan banyak orang akan menjadi
tahun lebih buram dari 1998, Gus Dur, karena kesalnya dengan penolakan
Habibie untuk dilakukan dialog segi empat (Habibie, Wiranto, Soeharto dan
Gus Dur sendiri) juga telah mengecam mahasiswa dengan mengatakan "mahasiswa
ini bisanya cuma rame-rame saja".
        Menurut penilaian Gus Dur "mahasiswa belum sampai berpikir sejauh itu".
Yang dimaksudnya ialah berpikir menyambut baik dan mengerti niat dan
usulannya agar diadakan dialog nasional.
        Tepat kah penilaian Gus Dur terhadap gerakan mahasiswa yang menuntut
dilaksanakannya reformasi secara total di segala bidang kehidupan "bisanya
cuma rame-rame saja"?

AKSI MAHASISWA 98 PECAHKAN REKOR DUNIA

        Menurut Ketua Umum Lembaga Putra Fajar, Ir Sutrisno Wirosumarto aksi-aksi
kampus dan jalanan mahasiswa sepanjang 1998 luar biasa kompak, dahsyat dan
beraninya sampai menggoncangkan keperkasaan rezim Soeharto, yang akhirnya
tidak ada pilihan lain, kecuali lengser keprabon 21 Mei 1998, setelah
mahasiswa berhasil menduduki Gedung MPR/DPR 3 X 24 jam (Swadesi No 155).
        Perjuangan mahasiswa sekarang sangat murni, kompak, merata seluruh
Indonesia didukung rakyat, mandiri dengan biaya sendiri, tidak dibeking
ABRI, malah sebaliknya, tak dimanja, tidak dikendalikan siapapun juga, tidak
diguyur duit dan tidak terkonspirasi kekuatan asing.
        Uniknya mahasiswa sekarang tetap menjalankan ujian-ujian di kampusnya,
tanpa harus menodong dosen untuk memperoleh gelar kesarjanaan. Mereka juga
sanggup berjalan kaki sepanjang hari tanpa lelah, hampir selama 1 tahun
penuh 1998, mereka terus bergerak hanya bermodal ketulusan dan keberanian.
        Boleh jadi gelombang aksi mahasiswa Indonesia 98 memecahkan rekor dunia.
Baik dari segi kualitasnya yang berhasil menurunkan Soeharto dari tahtanya,
konsistensi aksi-aksi kelanjutannya dalam menuntut dilaksanakannya reformasi
secara total, termasuk menuntut supaya Soeharto diadili meskipun harus
perang batu dan berjatuhan korban, maupun kuantitas kekompakan aksinya yang
merata di seluruh Indonesia. Dapat saya katakan, tahun 1998 merupakan tahun
aksi mahasiswa murni yang mungkin saja memecahkan rekor dunia.
        Sementara itu Dr Sjahrir dalam Merdeka (20/12) menyatakan kagumnya pada
mahasiswa Angkatan 1998 yang berdemo hampir setahun tanpa dukungan kekuatan
apapun. Dengan semangat berapi-api mereka memaksa turun seorang tiran yang
sudah bercokol selama 32 tahun.
        Itu merupakan buah yang manis dengan pengorbanan tak sedikit, baik moral
maupun nyawa. Tapi, belakangan kegiatan mahasiswa yang memang tak kenal
lelah itu dinilai sementara pihak sebagai kegiatan yang merugikan
masyarakat, dituding membuat kemacetan lalu lintas.
        Sebaliknya menurut Sjahrir, berdasarkan temuan tim gabungan pencari fakta
dan analisis, tidak sedikitpun ia menemui mahasiswa sebagai subjek pelaku
kekerasan, pembakaran-pembakaran, pembunuhan dan penculikan, apalagi
pemerkosaan.
        Semua kegiatan yang dikutuk masyarakat tersebut, berada di luar perbuatan
mahasiswa dan sebenarnya adalah merupakan perbuatan-perbuatan yang justru
membungkam aktivis mahasiswa.
        Sjahrir mensinyalir masih ada orang yang memandang dengan amat sinis pada
gerakan mahasiswa 1998 dengan mempertanyakan, misalnya: rakyat mana yang
mereka perjuangkan? Menurutnya, ada dua kesimpulan. Pertama, sipenanya
memang naif atau mereka menggunakan senjata politik untuk menghilangkan
kredibilitas mahasiswa, memojokkan mahasiswa.
        Sedang kesimpulan lainnya dan ini amat logis, perjuangan mahasiswa sekarang
adalah sepenuhnya perjuangan mempertaruhkan bertahan atau hilangnya suatu
peradaban.

MAHASISWA ANGKATAN 66

        Bagaimana pula penilaian Sjahrir sendiri terhadap aksi mahasiswa 66, dimana
dirinya juga terlibat di dalamnya?
        Menurut Sjahrir Angkatan 66 berdemo cuma dalam waktu relatif singkat,
sekitar 60 hari. Apalagi Angkatan 66 itu dibantu oleh ABRI, khususnya
Angkatan Darat. Meskipun saya ikut terlibat di dalamnya, kata Sjahrir, namun
bukan lah menimbulkan kenangan yang membanggakan bagi saya.
        Karena itu wajar saja bila Ir Sutrisno Wirosumarto mengatakan aksi
mahasiswa 66 jauh lebih arogan karena dibeking ABRI. Mereka bukan cuma
melakukan demonstrasi, juara mengadakan operasi ke kantor-kantor
pemerintahan/swasta, rumah penduduk, sekolahan, kampus, seluruh Sekretariat
PKI, bahkan kantor-kantor PKI pun dijarahnya. Tak jarang mereka melakukan
penangkapan, pembantaian, teror dan pembunuhan, bukan saja terhadap
orang-orang yang dituduh berindikasi PKI dan pengikut Sukarno, kerap
tindakan mereka melampaui batas kemanusiaan terhadap sesama temannya
mahasiswa (pembunuhan mahasiswa kedokteran UI Muntako (GMNI), Nico (GMNI
Menado) dan Rober Silain (Pemred/wartawan Warta Pelajar, anggota GSNI -pen).
        Bedanya lagi dengan mahasiswa sekarang (1998 -pen) mereka mendapat
fasilitas sangat istimewa, seperti transportasi, dropping nasi bungkus enjoy
dengan ABRI, dimanja, diguyur duit (pimpinannya), dikendalikan dan
terkonspirasi dengan kekuatan asing. Bahkan pernah saya dengar, ada jaket
kuning yang dikirim dari Honolulu. Dan seperti kita ketahui mereka mengklaim
dirinya sebagai angkatan 66 Orde Baru, dimana pimpinan-pimpinan pergerakan
mahasiswa itu banyak yang menduduki jabatan penting dan konsesi (Gafur,
Cosmas Batu Bara, Akbar Tanjung, Harmoko dan lain-lain).
        Namun banyak juga Angkatan 66 yang tidak kebagian apa-apa, terutama mereka
yang idealis serta sadar sekarang bergabung dalam kekuatan reformasi. Mereka
sadar bahwa Orba telah memfasilitasi neokolonialisme/imperialisme, untuk
melakukan eksploitasi (menguras) sumber daya alam dengan menyediakan tenaga
kerja murah, terbukanya pasar bebas, tergantung mengikat pada modal asing,
yang pada muaranya kita menjadi budak jajahan dalam bentuk kolonial Belanda
selama 3,5 abad.
        Ampas Orba, bukan sekadar kemiskinan, pengangguran, terkurasnya sumber daya
alam, hutang luar negeri yang menggunung, tetapi juga runtuhnya moral,
kedaulatan nasional, meratanya krisis kepercayaan, maraknya kerusuhan,
merasuknya bahaya disintegrasi dan separatisme, krisis ekonomi yang melanda
tanah air telah membuka segala kejahatan Orba di bawah pimpinan Soeharto
beserta kroninya.

TAK ADA PILIHAN LAIN

        Apa kah mahasiswa 98 akan mundur dalam gerakannya, melihat penguasa
mempersiapkan alat kekerassn (seperti Ratih/Kamra) untuk menundukkan
gerakan-gerakan mereka untuk reformasi secara total di segala bidang
kehidupan? Mahasiswa nampaknya akan terus melanjutkan gerakan mereka sampai
benar-benar kedaulatan berada di tangan rakyat, bukan di tangan penguasa lagi.
        Sikap mahasiswa yang tak akan mundur dari perjuangan dan mereka akan
melanjutkan perjuangannya tercermin dari pernyataan Dandy dari FKSMJ dan
Mohammad Firman dari Forkot. Inilah yang dikatakan Dandy, "Yang kita
perlukan sekarang adalah tokoh yang berani berdiri di depan dan mengatakan
kepada pemerintah agar segera melaksanakan agenda reformasi. Misalnya, kalau
Gus Dur mau menjadi pemimpin, kami akan siap di belakang untuk mengadakan
demo bersama."
        Langkah ini pada intinya tetap ditujukan untuk melaksanakan agenda
reformasi: adili Soeharto, hapuskan KKN dan Habibie harus turun. Cara ini
tampaknya harus menjadi pilihan bagi para tokoh nasional yang mendukung
gerakan reformasi.
        Dandy tidak memungkiri jika revolusi sosial yang diramalkan Gus Dur itu
akan terjadi. Persoalannya sekarang ini makin rumit. Pemerintah tetap
berusaha mempertahankan kekuasaannya, sedangkan mahasiswa terus menuntut
agar reformasi jalan terus. Jadi revolusi sosial ini tidak bisa dihindari.
        Tentang sinyalemen adanya pertumpahan darah dan konflik horisontal, hal itu
adalah akibat yang sulit dihindarkan. Saya kira, kita sekarang ini tidak
mempunyai pilihan lain. Jadi, revolusi sosial akan terjadi.
        Revolusi sosial yang akan terjadi nanti, tidaklah harus diartikan sebagai
suatu bentuk anarkisme. Jangan memahami revolusi sosial sebagai bentuk
anarkisme. Itu kan bahasanya pemerintah. Revolusi itu bisa saja dalam bentuk
struktural.
        Artinya dalam sistem atau struktur pemerintahan nanti akan terjadi suatu
perubahan besar-besaran. Kita harapkan revolusi sosial itu yang terjadi.
Yaitu perubahan mendasar pada sistem pemerintahan kita. Sehingga kita
benar-benar menjadi bangsa yang baru.
        "Untuk itu," kata Dandy, "mahasiswa siap untuk berdiri di belakang Gus Dur
-- atau tokoh lain -- yang berani memimpin gerakan untuk menegakkan agenda
reformasi." 

PEMERINTAH SENGAJA MENCIPTAKAN CIVIL WAR

        Sedang Mohammad Firman, salah seorang koordinator Forkot mengemukakan:
wajar saja jika Habibie menolak bertemu dengan Soeharto dalam sebuah Forum
nasional. Sebab, kalau dialog itu transparan, akan ketahuan siapa Habibie.
Dalam setiap kesempatan, terhadap demonstrasi mahasiswa, Habibie selalu
mengatakan: let them enjoy the democracy. Tapi sekarang kita makin tahu
bahwa dia memang menenteng demokrasi.
        Untuk ini lanjut Mohammad Firman, kemungkinan terjadinya people power atau
revolusi sosial -- seperti yang diperkirakan Gus Dur, memang sulit
dihindari. Termasuk berhentinya aksi mahasiswa.
        Kalau aksi mahasiswa ini sebenarnya reaksi dari sebuah aksi saja. Kalau
pemerintah baik dan jujur, mahasiswa jelas tidak akan demonstrasi. Tapi
kalau pemerintah masih menyeleweng, tanpa disuruh pun reaksi terhadap
penyelewengan dengan demonstrasi akan terjadi.
        Diungkapkannya pula beberapa kebijakan pemerintah akhir-akhir ini semakin
menunjukkan betapa konflik antar rakyat akan terjadi. Sebagai contoh Firman
merujuk pada pembentukan Ratih atau Kamra sebagai upaya memperkeruh keadaan.
        Kalau situasi tidak terkendali, bisa jadi rakyat akan berhadapan dengan
Ratih. Itu artinya pemerintah sengaja menciptakan civil war.
        "Karena itu," kata Firman, "sebelum hal itu terjadi sebaiknya pemerintah
menerima cara-cara rakyat yang sopan. Yaitu berani mengadakan dialog dengan
siapapun. Termasuk berani mundur dan meletakkan jabatan bila dinilai tak
mampu menyelesaikan krisis negeri ini."
 
GUS DUR MERENDAHKAN MAHASISWA DAN GERAKANNYA

        Bertolak dari penilaian Ir Sutrisno dan Dr Sjahrir tentang mahasiswa 1998
dan gerakannya, jelas kiranya bahwa penilaian Gus Dur "mahasiswa bisanya
cuma rame-rame saja" adalah sangat subjektif. Tak sesuai dengan kenyataan
objektif yang terjadi.
        Baik Ir Sutrisno maupun Dr Sjahrir menunjukkan bahwa tanpa gerakan
mahasiswa, tiran Soeharto tidak akan terpaksa meninggalkan tahtanya 21 Mei
1998, setelah berkuasa selama 32 tahun.
        Kalau akan dikatakan "mahasiswa bisanya cuma rame-rame saja", maka berkat
"rame-ramenya" itulah kini ada sedikit kebebasan demokratis, dapatnya muncul
partai-partai politik, yang kini kebebasan demokratis itu hendak ditindas
kembali melalui UU No 9/1998 dan pembentukan Ratih/Kamra.
        Begitu pula penilaian Gus Dur bahwa "mahasiswa berpikirnya belum jauh",
artinya masih dangkal, ternyata bertolak belakang dengan apa yang
dikemukakan Dandy dari FKSMJ dan Mohammad Firman dari Forkot.
        Mereka tahu betul bahwa situasi kini memang cukup kritis, karena di satu
pihak pemerintahan Habibie berupaya mempertahankan kekuasaan dengan segala
bentuk dan cara, sebaliknya pihak mahasiswa bertekad melanjutkan perjuangan
reformasinya, sehingga nanti benar-benar rakyat yang berkuasa di Indonesia,
bukan lagi penguasa yang berdaulat.
        Mahasiswa melihat dua pilihan bagi pemerintahan Habibie. Melaksanakan
agenda reformasi secara sungguh-sungguh atau pecahnya revolusi sosial.
Revolusi sosial yang dimaksud mahasiswa, bukan revolusi sosial ala Gus Dur,
di mana satu keadaan tiada pemerintahan atau penguasa, anarkis. Revolusi
sosial yang dimaksud mahasiswa ialah bergantinya sistem sosial yang sekarang
dengan sistem baru yang benar-benar demokratis. Bergantinya kekuasaan fasis
menjadi kekuasaan demokratis.
        Masalahnya tergantung pada pemerintahan Habibie. Bila ia memilih
melaksanakan agenda reformasi secara sungguh-sungguh, maka revolusi sosial
tidak akan meletus. Tetapi bila Habibie menghendaki revolusi sosial meletus,
maka agenda reformasi tidak akan dijalankannya secara sungguh-sungguh,
melainkan hanya secara proforma saja.

KESIMPULAN

        Gerakan mahasiswa sesungguhnya hanya merupakan reaksi dari sikap politik
pemerintahan Habibie. Bila pemerintahannya benar-benar demokratis, bukan
fasis berkedok demokrasi, pemerintahannya baik dan jujur, tentu tak akan
muncul gerakan mahasiswa turun ke jalan. Gerakan mahasiswa adalah akibat dan
bukan sebab.
        Gerakan mahasiswa yang merupakan gerakan moral, bisa berkembang menjadi
gerakan politik, bila pihak yang berkuasa melakukan berbagai tindakan anti
demokrasi terhadap gerakan mahasiswa tersebut.*** 

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke