Precedence: bulk


Ujungpandang, Indonesia
15 November 1998

CALO TIKET MENGOBOK-OBOK PELNI

Oleh Faisal Syam
Reporter Crash Program

UJUNGPANDANG --- Dalam situasi krisis ekonomi seperti yang terjadi sekarang
ini angkutan laut menjadi alternatif utama bagi mereka yang ingin bepergian
lintas pulau. Dalam hal ini, kapal laut milik PT Pelayaran Nasional
Indonesia (Pelni) menjadi pilihan utama.

Pelni siap mengangkut calon penumpang. Yang jadi masalah justru distribusi
tiketnya. Terkadang pengguna jasa kapal Pelni kehabisan tiket di loket
penjualan Anehnya, jika kita mau mengeluarkan sedikit uang bagi calo, calon
penumpang itu bisa mendapatkan tiket dengan mudah.

Ledakan arus penumpang setelah melonjaknya harga tiket pesawat memang
menjadi penyubur munculnya masalah percaloan itu. Lonjakan jumlah calon
penumpang yang berpindah dari pesawat udara ke kapal laut membuat calon
penumpang berebut mendapatkan tiket kapal laut. Banyaknya permintaan
dibandingkan dengan tiket yang tersedia menyebabkan munculnya calo-calo atau
pun mereka yang melakukan praktek percaloan.

Calon penumpang dari Ujungpandang yang hendak pergi ke tempat tujuan lain
memang cukup banyak. Sebanyak sebelas kapal besar milik PT Pelni singgah di
Pelabuhan Makassar. Kapal-kapal tersebut dengan rute masing-masing kapal
motor (KM) Kambuna tujuan Balikpapan, Tanjung Priok, Padang, Sibolga.
Sedangkan untuk tujuan ke timur, kapal ini melewati rute Balikpapan,
Pantoloan dan Tolitoli, serta Bitung.

Merebaknya praktek puluhan calo yang beroperasi di sekitar kantor Pelni
Ujungpandang diduga melibatkan oknum pegawai perusahaan tersebut. Kepala
Pasasi PT Pelni Ujungpandang, Natsir, pun tidak luput dari terpaan dugaan
permainan percaloan dengan pihak biro travel. Tapi dugaan itu dibantahnya.
Ia mengatakan bahwa isu merebak karena adanya rekayasa dari orang-orang yang
iri hati kepadanya. Ia menjelaskan bahwa hubungannya dengan pihak biro
travel resmi sesuai dengan aturan perusahaan.

Natsir mengakui memang terjadi lonjakan permintaan tiket kapal PT Pelni
sejak naiknya harga tiket pesawat. Menurut pengakuan Natsir, lonjakan itu
tidak membuat ia mengambil kesempatan dalam kesempitan. Adapun soal booking
mem-booking yang dilakukan pihak biro travel, menurut Natsir, itu urusan
pihak yang bersangkutan, demikian pula dengan nama-nama yang tertera dalam
tiket, "Mau sama dengan pemakai atau tidak, itu urusan calon penumpang."

Pihak PT Pelni sendiri tidak bisa memeriksa atau mencocokkan nama pemegang
tiket dengan nama yang ada dalam tiket satu per satu. Karena jumlah calon
penumpang yang hendak naik kapal mencapai ribuan orang, sementara waktu
sandar kapal biasanya hanya dua jam.

Banyak yang menduga banyaknya calo terjadi akibat adanya permainan yang
kurang beres. Penjualan tiket oleh calo itu terkesan melibatkan orang dalam
perusahaan pelayaran setempat. Tapi hal itu ditampik pihak Pelni
Ujungpandang. Menurut Kepala Operasi, Agus Harry, pihaknya sejak dahulu
membenahi sistem penjualan tiket yang dimaksudkan untuk mengantisipasi
timbulnya calo.

Pihak Pelni sendiri, katanya, sudah sering kali berusaha untuk menertibkan
dan mengobok-obok para calo tersebut. Bahkan ada upaya untuk membebaskan
loket dari calo, namun percaloan di sana tetap saja marak. Operasi para calo
itu tidak pernah berhenti. Kuat dugaan bahwa tetap maraknya calo di tempat
itu melibatkan orang dalam kantor cabang PT Pelni Ujungpandang.

Lantas bagaimana dengan orang-orang yang selalu berkumpul di kantor PT Pelni
Ujungpandang setiap hari? "Wah, kami tidak tahu mereka. Kalau pun mereka
selalu terlihat di dekat loket penjualan tiket Pelni Ujungpandang, itu tidak
ada hubungannya dengan kami. Tidak mungkin kami usir. Yang penting bagi kami
mereka yang membawa identitas lengkap lalu mau membeli tiket akan kami
layani."

Kalaupun orang yang dianggap calo itu membeli tiket kepada PT Pelni dengan
membawa identitas yang lengkap lalu tiket yang dibelinya ternyata dijual
lagi kepada orang lain, itu tidak lagi jadi tanggung jawab PT Pelni. "Yang
jelas, pada saat membeli tiket, identitasnya lengkap, sehingga kami layani
seperti halnya calon penumpang lainnya. Kalau dia jual lagi itu tiket, itu
urusan mereka."

Ia menambahkan, pihaknya tidak mungkin melakukan permainan dalam penjualan
tiket karena saat ini sudah memakai sistem online bekerja sama dengan 26
travel yang ada di Ujungpandang dan sekitarnya, apalagi setiap kantor PT
Pelni punya jatah sendiri yang tetap dan tidak bisa diambil oleh kantor PT
Pelni cabang lainnya.

Soal adanya sistem penjatahan itulah yang menyebabkan kapal dari
Ujungpandang tujuan Surabaya biasa terlihat kosong, sementara jatah tiket
untuk PT Pelni Ujungpandang sudah habis terjual beberapa saat sebelum kapal
berangkat.

Dikatakan oleh Agus Harry, distribusi tiket melalui travel bisa dipantau
setiap saat, sehingga kecil kemungkinannya terjadi manipulasi tiket. Harga
tiket di travel harus berdasarkan tarif yang telah ditetapkan PT Pelni,
tidak boleh lebih mahal atau sebaliknya. "Yang melanggar aturan itu akan
kami tindak tegas."

Bagi travel yang telah bekerja sama dengan Pelni, pihak perusahaan pelayaran
itu akan memberikan komisi 2,5 persen dari harga bersih tiket untuk
penumpang ekonomi dan lima persen untuk setiap penjualan netto tiket kelas.
"Jadi, kalau terjadi manipulasi langsung ketahuan, dan kalau itu terjadi,
sanksinya berat."

Dari pengamatan penulis, tempat penjualan tiket di kantor PT Pelni
Ujungpandang selalu dipadati para calo. Jumlah mereka bahkan bertambah
banyak menjelang pemberangkatan kapal. Pada hari-hari yang normal, jumlah
calo yang beroperasi di tempat itu setiap harinya berkisar antara 20 dan 30
orang.

Iwan, salah seorang yang mengaku 'berusaha' di bidang 'jasa' ini
mengungkapkan bahwa dirinya mendapatkan komisi Rp5 ribu untuk setiap lembar
tiket yang berhasil dijualnya. Harga yang ditetapkan para calo tidak berbeda
dengan harga tiket di loket. Para calo yang enggan disebut calo itu menjual
tiket sesuai dengan harga yang ditetapkan oleh Pelni. Seorang calo bisa
mendapatkan pendapatan sekitar Rp50 ribu, hasil dari penjualan sepuluh
lembar tiket tujuan Surabaya. "Tapi komisinya dari calon penumpang, bukan
dari orang Pelni."

Kehadiran Calo Pelni di Ekspedisi Muatan Kapal Laut

Ternyata bukan hanya penumpang yang mengeluhkan ulah calo. Perusahaan
Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) pun mengeluhkan pelayanan PT Pelni cabang
Ujungpandang, khususnya yang berkaitan dengan pengiriman barang palka.
Menurut mereka, pihak PT Pelni pilih kasih dalam hal pelayanan.

Tapi, lagi-lagi dugaan percaloan itu dibantah oleh Sanusi dari bagian
bongkar muat dan Tamrin yang menjadi kepala bagian muatan PT Pelni
Ujungpandang. "Wah, tidak ada oknum pegawai Pelni yang pilih kasih.
Pelayanan untuk pengguna jasa, semuanya sama. Dan pegawai Pelni tidak
mungkin jadi calo."

Masalah calo memang bukan hal baru di pelabuhan. Tapi persoalan ini terus
merebak karena para petugas seolah tutup mata saja dengan keadaan yang
sebenarnya. Walaupun mereka membantah, tapi mungkin saja keadaan yang mereka
biarkan ini menguntungkan mereka.

(Faisal Syam adalah wartawan Fajar, Ujungpandang, dan peserta Program
Beasiswa untuk Wartawan LP3Y-LPDS-ISAI)

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke