Precedence: bulk Wonosari, Indonesia 30 November 1998 DESA MISKIN DI SEKITAR HUTAN "Produsen" Rumah Kayu Jati Oleh Heru Prasetya Reporter Crash Program WONOSARI --- Jika Anda berminat membeli rumah yang seluruhnya terbuat dari kayu jati, bertandanglah ke Desa Wonosari. Jika beruntung, telah tersedia rumah jati yang telah jadi dan siap diangkut. Wonosari adalah satu di antara ratusan desa yang terletak di pinggiran hutan jati milik Perusahaan Hutan Negara Indonesia (Perhutani). Luas Desa Wonosari 1.400 hektar. Namun 1.200 hektar di antaranya merupakan kawasan hutan jati milik Perum Perhutani Unit I Jateng. Perangkat Desa Wonosari hanya mengatur dan membawahi warga di 200 hektar. "Untuk kawasan hutan, sudah diatur secara intern oleh Perhutani," kata Muchalis Shodik, Sekretaris Desa (Sekdes) sekaligus Kepala Desa (Kades) Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah (Jateng). Ada enam dusun di desa ini. Tiga di antaranya disebut daerah atas, karena memang untuk menujunya harus melewati jalanan menanjak. Jalan menuju ke tiga dusun atas hanya terbuat dari tanah tanpa tatanan batu sedikit pun, karena itu lebih mudah dilewati saat musim kemarau. "Ya seperti itulah jalannya. Tapi semangat warga untuk bisa tetap bertahan hidup sangat hebat. Barangkali memang sudah tantangan alam," kata Shodik. Rumah warga di sekitar jalan menuju ke tiga desa tadi memang masih berbentuk rumah kampung sederhana. Tetapi jika diamati lebih teliti, hampir seluruh rangka rumah terbuat dari kayu jati. Papan kayu jati dengan lebar sekitar 15 sentimeter dan panjang lima meter ditata rapi untuk dinding rumah. Pondasi rumah juga berupa kayu jati balok. Ketika diamati lebih teliti lagi, ternyata rangka atas kebanyakan rumah di pinggir jalan itu juga terbuat dari kayu jati. "Saya pernah ditawari satu di antara rumah mereka dengan harga Rp30 juta," kata Windiyatmoko, salah satu warga Sukorejo yang sering ke luar masuk tiga desa tadi. Harga rumah tanpa tanahnya yang demikian tinggi ternyata tidak juga membuat warga merasa sebagai orang kaya. Mereka lebih senang menyebut diri orang miskin. "Kami hidup seadanya. Meski sekitarnya terhampar hutan jati milyaran rupiah, tapi makan nasi sudah suatu keberuntungan," kata Shodik Pekerjaan warga di desa atas hanya serabutan, terkadang buruh tani, terkadang buruh penebangan hutan. Dengan pekerjaan sebagai buruh serabutan, menurut Shodik, hasil Rp3 ribu saja sangat sulit tercapai. Itu hanya terjadi jika ada borongan dari Perhutani saat penebangan hutan. Di luar itu, hasilnya di bawah nilai tadi. "Jadi ya wajar saja kalau warga sangat merasa sebagai orang miskin, karena sekitarnya adalah hutan jati yang nilai per pohonnya bisa lebih dari Rp5 juta," kata Shodik. Saat penulis berkunjung dan menginap di rumah Paidi, seorang warga Desa Pidik, sajian pokoknya bukan nasi, tetapi ketela rambat rebus. "Anak-anak harus tetap sekolah. Meski hanya sampai SD, tetapi saya selalu mengusahakan begitu," kata laki-laki asal Gunungkidul, Yogyakarta, ini. Biaya sekolah anaknya didapat Paidi dari hasil kerja serabutan atau jualan hasil ladangnya. "Memang tidak bisa disebut cukup, tetapi apa boleh buat," katanya lagi. Dengan keadaan demikian, Paidi menerangkan ia dan juga tetangganya terkadang tidak bisa mengerem keinginan untuk memiliki kayu jati milik Perhutani itu. Ini terjadi, tutur Paidi lagi, karena "tambang emas" itu ada di depan mata, sementara kebutuhan sangat mendesak. Terus apa yang dilakukan? "Terpaksa kami mengambil kayu jati itu," katanya berterus terang. Ia kemudian menjelaskan maksud mengambil itu. Yakni, jika malam tiba, ia berangkat ke kawasan hutan terdekat dengan membawa alat gergaji mesin. Di tengah kegelapan itulah ia dan juga tetangganya memotong pohon jati yang siang sebelumnya sudah diberi tanda. "Tapi kami tidak langsung menjual. Kami simpan dulu di rumah. Kalau memang ada yang berminat, kami jual. Kalau nggak ada, kami potong-potong untuk mendirikan rumah. Rumah itulah yang kemudian kami tawarkan," ungkap Paidi. Paidi dan beberapa tetangga berkali-kali menyebut bahwa itu dilakukan karena terpaksa. "Ternyata enggak enak hidup di sekitar harta karun seperti ini," kata Paidi. Ia pun mengatakan hampir seluruh tetangganya berbuat seperti itu. Shodik sendiri mengakui adanya kenyataan seperti itu. Tetapi, katanya, jumlahnya sudah jauh berkurang. "Sejak ada operasi gabungan sekitar tahun 1980, jumlah pencuri kayu hutan itu sudah jauh berkurang," tuturnya. Sebagai gantinya, warga Wonosari, termasuk tiga dusun atas tadi, lebih senang merantau ke luar daerah atau sekalian bekerja di luar negeri. Negara yang dituju, misalnya Malaysia, Singapura, Saudi Arabia, Hong Kong, Korea, dan Taiwan. "Hasil bekerja di luar negeri jauh lebih besar dibanding mencuri kayu jati. Untuk saat ini warga lebih suka bekerja di luar negeri," tutur Shodik. (Heru Prasetya adalah koresponden majalah D&R dan peserta Program Beasiswa untuk Wartawan LP3Y-LPDS-ISAI) ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
