Precedence: bulk > From: "Saut Situmorang" <[EMAIL PROTECTED]> > Date: Wed, 6 Jan 1999 17:02:48 GMT+1200 > Subject: Re: SiaR---KISDI ADUKAN THEO SYAFEI KE POLDA JAYA > KISDI ADUKAN THEO SYAFEI KE POLDA JAYA > > JAKARTA (SiaR, 5/1/99), Banyak Jalan Menuju Roma, banyak cara menggem- > bosi PDI Perjuangan. Setelah Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri > diterpa isu gender dan agama, maka giliran salah seorang Ketuanya Theo Syafei, > Selasa (5/1) ini diadukan Achmad Sumargono dari KISDI ke Polda Metro Jaya > dengan tudingan melakukan ceramah yang memojokkan umat Islam. ************* SS: KISDI memang sudah terlalu lama jual lagak di Indonesia. Sejak kasus Kompas yang Memang menulis berita benar tentang Aljajair sampai yang terakhir ini, KISDI seolah-olah berkata bahwa dia itu bisa berbuat apa saja dengan senjata nama "Islam" dan pasti menang. Saya pikir orang Indonesia sudah waktunya untuk menerima "tawaran" KISDI ini dan meladeni mereka. Tidak perlu lagi mengorbankan diri sendiri walau tak bersalah hanya demi sebuah "suasana damai" antar agama di Indonesia. Saya yakin justru sikap masokisme kaum minoritas macam begini inilah yang membuat Ahmad Sumargono dan KISDInya makin merajalela. Lihat apa yang terus-menerus terjadi atas kaum Kristen yang minoritas di Indonesia? Gereja-gereja dibakari, anggota gereja dibunuh, sampai melakukan ritual tahunan menyambut kelahiran Tuhan Kristen Jesus Kristus pun sudah tidak bisa dilakukan sewajarnya lagi. Saya ingat apa yang dilakukan kaum Hindu Bali waktu mereka dihina terang-terangan tahun lalu. Respons orang Bali itu benar dan tepat karena setiap penghinaan yang melanggar Hak Asasi Manusia oleh siapapun, terutama kaum Mayoritas, memang harus segera ditanggapi kalau tidak mau hal itu berlanjut terus menerus. Ahmad Sumargono dan KISDInya mesti direspons sekaligus untuk membuktikan bahwa mereka itu sebenarnya tidak punya kekuatan apa-apa. Tong kosong nyaring bunyinya doang. ************** > > Terhadap pengaduan KISDI tersebut, maka tanggapan sejumlah fungsionaris > PDI Perjuangan dan pakar politik terpecah dua. Ada yang menilai tuduhan dan > pengaduan KISDI tersebut sebagai bagian dari upaya pihak-pihak tertentu yang > "bakal kalah" dalam Pemilu 1999 mendatang. Hal ini untuk mendiskreditkan PDI > Perjuangan, yaitu partai yang akan berganti nama dan lambang pada peringatan > HUT PDI, 10 Januari 1999 mendatang. Yang lainnya menilai ada kesengajaan > dari Theo Syafei sendiri untuk memperuncing sengketa antaragama di > Indonesia, seperti ditegaskan pakar politik UI Arbi Sanit. > > Theo Syafei yang Mayjen TNI (Purn) itu diadukan KISDI sehubungan > ceramahnya berdurasi 75 menit di Kupang pada November 1998 lalu, yang > diasumsikan KISDI menjadi penyulut terjadinya Kerusuhan Kupang. Isi ceramah > itu menyebutkan adanya manuver sejumlah ormas Islam seperti KISDI, KAHMI, > CIDES, MUI, HMI, dan ICMI yang berniat mengubah Indonesia menjadi negara > Islam. Juga, dalam ceramah itu, adanya upaya Theo Syafei yang > membanding-bandingkan Kitab Suci Al Quran dan Alkitab dalam posisi yang sangat > menghina umat Islam > > Terhadap keberatan KISDI tersebut, anggota Litbang PDI Perjuangan Suko > Sudarso menanggapinya sebagai upaya membelokkan opini masyarakat yang > mensinyalir rekayasa kerusuhan yang terjadi selama ini, yang dilakukan > pihak-pihak yang ingin mempertahankan "status-quo" dan menghidupkan kembali > kekuatan Soehartoisme. Menurut catatan SiaR, Ketua Umum KISDI Ahmad > Sumargono memang memiliki "kedekatan emosional" dengan mantan Pangkostrad > Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto yang menantu mantan presiden Soeharto itu. > > Lagi pula, lanjut Suko Sudarso, menghubungkan ceramah tersebut dengan > akibat terjadinya kerusuhan di Kupang, sebagai diibaratkan dengan kebiasaan > rezim Soeharto dahulu membredel, memberangus, atau membubarkan suatu acara > diskusi, ceramah, talkshow, atau melarang beredarnya buku, yang dinilai > dapat melahirkan pemberontakan massa terhadap pemerintahan yang sah. > > "Apa parameternya, suatu ceramah yang tertutup dengan akibat melahirkan > suatu kerusuhan massa, kalau tidak ada rekayasa konkrit secara fisik di > lapangan?" katanya bertanya. > > Theo Syafei sendiri selain dikenal sebagai salah seorang Ketua DPP PDI > Perjuangan, juga aktif di Barisan Nasional, dan selama ini > dihubung-hubungkan sebagai "kaki-tangan" Jenderal TNI (Purn) Benny Moerdani > yang secara tradisional selalu menjadi "sasaran tembak" ormas-ormas seperti > KISDI dan CIDES, yang terakhir ini sebuah lembaga riset milik ICMI. > > Berbeda dengan Suko, pakar politik UI Arbi Sanit, justru mencurigai > > dapat beredar luasnya kaset ceramah yang awalnya dilakukan tertutup untuk > kalangan terbatas itu. "Siapa yang menyebarluaskan copy kaset ceramah itu, > > kalau tidak dari kalangan dalam sendiri? Lalu, apa motif orang itu dibalik > penyebaran kaset ceramah yang sensitif itu?" ujar Arbi Sanit. > > Menurut Arbi Sanit, ada kesengajaan untuk memperuncing sengketa antar > agama yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban di kalangan minoritas Kristen, > sehingga melahirkan keuntungan secara internasional bagi kalangan Kristen > "tertentu" seperti di awal Orde Baru, yang menguasai kembali perpolitikan > nasional setelah berkoalisi dengan kalangan militer nasionalis. > > Analisis Arbi ini ditolak salah seorang Ketua DPP PDI Perjuangan, Hasyim > Wahid yang lebih melihat pengaduan KISDI tersebut sebagai upaya > mendiskeditkan PDI Perjuangan dengan menjual isu agama. > > "Itu kan ceramah tertutup untuk kalangan terbatas. Pak Theo sewaktu > menjabat Dansesko ABRI juga sering melakukan ceramah yang jauh lebih kritis > dan keras dari itu, tapi tak ada masalah karena ceramahnya selalu tertutup > dan terbatas. Mengapa sekarang tiba-tiba ada kelompok yang mempersoalkan," > tandasnya. > > Adik kandung Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama Abdurrahman Wahid itu lalu > mencontohkan, banyaknya kaset-kaset dan buku-buku perbandingan agama yang > dijual bebas di toko-toko buku dan kaset di Jakarta dan kota-kota besar > lainnya. > > "Isinya pun memojokkan agama tertentu, dan mungkin sangat > menyakitkan hati kalangan agama tertentu. Tapi, jangankan diperkarakan oleh > umat agama bersangkutan yang notabene minoritas; institusi-institusi yang > berkepentingan seperti kejaksaan pun acuh tak acuh saja," tukasnya.*** ************ SS: Pernyataan ini memang benar dan ada buktinya. Pertengahan tahun 80an dulu waktu saya sekolah dan tinggal di kota Jogja, saya melihat banyak sekali buku tentang "Perbandingan Agama Kristen dan Islam" diperjual belikan dengan bebas di trotoar jalan dan kompleks Shopping Jogja. Apa yang disebut dengan buku-buku "Perbandingan Agama" ini tak lebih dari kumpulan fitnah dan hinaan atas buku suci agama Kristen Bibel yang ayat-ayatnya dicopot sana-sini untuk "membuktikan" tesis para penyusunnya. Dan memang tak pernah sekalipun pihak pemerintah rejim diktator militer Suharto, yang katanya sangat membela kaum minoritas Kristen itu, melakukan tindakan apa-apa. Kalau Dewan Dakwah, Media Dakwah, KISDI, sampai ICMI terus menerus merengek bahwa selama rejim jendral ninja Suharto berkuasa Islam Indonesia itu "ditindas", maka keberadaan buku-buku "Perbandingan Agama" ini secara bebas di trotoar jalan dan toko buku umum membuktikan sendiri betapa tukang fitnahnya mereka ini. Saut Situmorang Fitnah itu masuk neraka! ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
