Precedence: bulk Padang, Indonesia 31 Desember 1998 TELEPON HASAN BASRI DURIN MENGAWALI KOLUSI DI PDAM PADANG Oleh Luzi Diamanda PADANG --- April 1987, Ahmad Kamil, Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Padang ditelepon Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Hasan Basri Durin. Gubernur meminta Kamil agar mengizinkan Asnawi Bahar menjadi penyuplai kaporit dan tawas, bahan untuk mensterilkan air PDAM Padang. Bahar, lebih populer dipanggil Ucok, adalah suami Ilyana Novira, anak perempuan Durin � kini Menteri Agraria/Kepala BPN dalam Kabinet Reformasi Pembangunan. Bahar meminta kepada Kamil, tanpa membawa proposal, agar bisa ikut tender. Ia langsung meminta agar perusahaannyalah, CV Megapak, yang memasok kaporit dan tawas. Megapak pun menetapkan harga kaporit Rp5 ribu per kilogram dan tawas Rp1.500 per kilogram. Padahal, waktu itu harga kaporit di pasaran Rp3 ribu dan tawas Rp1.000 per kilogram. Setiap tahun Megapak memasok kaporit dan tawas tanpa proses tender atau lelang terbuka. Uniknya, tidak ada pengusaha Sumbar di Padang yang memprotes praktek kolusi tersebut. Setelah enam tahun berjalan, pada 1993 Kamil digantikan Taufik Zein. Ternyata, tak ada perubahan pola antara Kamil dan Zein. Yang ada adalah pemisahan perusahaan pemasok. Megapak tetap menyuplai kaporit, sementara tawas dilepaskan oleh Megapak kepada CV Miksan Jaya. Pola baru? Ternyata Miksan Jaya adalah milik Novira, putri Durin, alias istri Bahar. Yang benar-benar baru adalah harganya: kaporit dihargai Rp7.275 per kilogram dan tawas Rp2.800 per kilogram. Padahal, harga kaporit saat itu Rp5.800 per kilogram dan tawas Rp1.800 per kilogram. Uniknya lagi, Zein tak mempertanyakan harga kaporit dan tawas yang di-mark up itu. Padahal waktu itu ada kontraktor lain yang menawarkan kaporit dan tawas dengan harga yang lebih rendah, sesuai harga pasar. "Asnawi kan menantu Gubernur, bagaimana mungkin usulannya ditolak Direktur PDAM," kata sebuah sumber di PDAM. Sekadar tambahan, saat PDAM dipimpin Kamil, Durin menduduki kursi gubernur periode pertama, 1987-1992; sementara pada masa Zein, Durin meneruskan jabatannya untuk periode kedua, 1992-1997. Kaporit dan tawas bukanlah satu-satunya kolusi dan monopoli pasangan suami istri itu di PDAM. Megapak juga mendapat proyek pemasangan pipa penyaluran air. Saat itu, PDAM dikepalai Zein, sementara Bahar pun waktu itu sudah jadi ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sumbar. Toh, Megapak tak menggarap sendiri proyeknya. Perusahan lain yang menggarap proyek pemasangan pipa saluran air ini dikerjakan secara bertahap sebanyak 25 kali kontrak. Celakanya, perusahaan lain yang disubkontrak sejak 1995 itu mengerjakan proyeknya secara sembarangan. Contohnya, pipa yang seharusnya ditanam sedalam 110 centimeter dalam tanah ternyata hanya ditanam 40 centimeter. Akibatnya, dalam waktu sekejap pipa-pipa itu banyak yang pecah. Bagaimana komentar Bahar sendiri? "Saya mengajukan tawaran dan diterima. Itu kan sesuai prosedur," kilahnya. (Luzi Diamanda adalah pengelola Yayasan Suara Publik dan peserta Latihan Liputan Politik di Medan yang diselenggarakan oleh LP3Y) ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
